“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta-Seno Gumira Ajidarma).
Saya tak pernah mengerti Jakarta, meski saya lahir dan besar di kota ini. Setiap pagi, orang-orang berbondong-bondong memenuhi jalan raya. Menuju kantor. Kemudia, sesak di beberapa titik pertemuan antara Bogor, Bekasi, dan Jakarta Timur. Mereka berlomba-lomba untuk memacu kendaraannya. Saling mendahului.
Lampu merah adalah perhentian sementara. Fana. Jika lampu hijau sudah menyala, mereka bagai burung yang lepas dari kandangnya. Sepeda motor, bus, mobil pribadi, saling berkejaran. Sepeda motor menyelinap di antara mobil-mobil besar. Tak habis pikir, mereka pun memperkosa hak-hak pejalan kaki di trotoar.
Mereka mengejar waktu. Tentu saja takut terlambat ke kantor. Jika itu terjadi, makian bos tentu akan didaratkan bertubi-tubi. Paling apes, ya dapat surat teguran. Atau, barangkali gaji disunat.
Dahulu, di kantor lama, saya juga ada sebuah ketakutan terlambat ke kantor. Di kantor lama saya itu ada sebuah peraturan. Jika kau telat barang semenit, maka kau akan kena denda Rp10.000. Besar bagi saya nilai nominal itu. Sebab, bisa saja gaji saya habis hanya untuk bayar denda.
Saya tak pernah mengerti Jakarta. Orang-orang kerap tergesa. Lantas, menyika keringatnya yang bercucuran. Namun, saya pun kerap melihat mereka yang tak jelas pekerjaannya berkumpul di pinggir jalan. Menyaksikan kemacetan yang sudah akut. Merokok. Nongkrong. Mengobrol. Sesekali menyeruput kopi dan marah-marah.

Dikutip dari Viva.co.id (14/6), Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves, menuturkan saban hari warga Jakarta rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam dalam kemacetan di jalan raya. Waktu tersebut, sama dengan waktu tempuh Jakarta-Bangkok dengan pesawat terbang.
Kondisi ini, menurut hasil penelitian dia, menyebabkan kerugian secara ekonomi bagi masyarakatnya. Tak tanggung-tanggung, kerugian akibat kemacetan bisa mencapai 3 miliar dolar AS, atau setara Rp39,9 triliun.
Belum lagi masalah produktifitas yang tercerabut akibat waktu sudah kadung habis di jalanan. Kemudian, ada pula imbasnya pada kesehatan.
Menurut penelitian UK’s Office National Statistics pada 2014, seperti dilansir dari Kompas (10/4/2015), para pekerja yang ke kantor dengan kendaraan pribadi, atau yang perjalanannya menghabiskan waktu lebih dari 30 menit menggunakan kereta, bus, atau jalan kaki, punya kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang melakukan perjalanan lebih pendek.
Akibatnya, semakin lama orang berkendara, tekanan darah cenderung naik. Masalah kesehatan lainnya, waktu tempuh yang lama bisa membuat angka timbangan naik. Laporan dalam American Journal of Preventative Medicine pada 2012 menjumpai fakta, semakin jauh penduduk Texas melakukan perjalanan setiap hari, mereka cenderung kelebihan berat badan. Alamak.


Ini jam pulang kerja. Kali ini saya memilih naik kereta. Kereta terlambat merambat. Ketika kereta tiba persis di hadapan saya, orang-orang yang tergesa itu segera masuk ke dalam pintu otomatis yang terbuka dan tertutup. Di kereta, saya membalik-balik halaman buku. Persis di halaman kelima, kereta berhenti di Stasiun Tanah Abang.
Mereka, orang-orang yang tergesa itu, kemudian melonjak dari pintu kereta. Yang di luar, segera berhamburan masuk ke dalam. Mereka berlari. Kaki-kaki mereka menghentak ubin stasiun. Menggapai tiang pelipir tangga, menaiki tangga itu terburu-buru. Ini jam pulang kerja. Saya melihat seorang penjaga keamanan berseragam hitam, berhelm putih. Ia berdiri bagaikan patung di pinggir peron, sembari memijat-mijat gawainya.
Entah apa lagi yang mereka kejar setelah pulang kerja? Apakah jika mereka terlambat dapat teguran atau denda lagi dari orang di rumah? Benar-benar, saya tak mengerti orang-orang yang tergesa itu.
Di luar stasiun, klakson kendaraan saling bersahutan. Seperti pagi hari, mereka adu balap. Saling mendahului.
Sekitar satu jam, saya tiba di Stasiun Kalibata. Stasiun kereta yang paling dekat jaraknya dengan rumah saya. Sekira 15 kilometer dari rumah. Di depan Stasiun Kalibata, lalu lintas masih padat. Dua-tiga mikrolet berhenti persis di mulut gerbang stasiun. Satu unit Kopaja menunggu di dekat rel. Saya bergegas.
Di dalam, Kopaja sudah sesak. Seorang pengamen berkaus hijau naik dari pintu depan. Dengan agak canggung ia memasang ancang-ancang memainkan gitarnya. Prolog dimulai.
“Setiap orang pasti memiliki mimpi. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha mengejar mimpi itu,” katanya []






