Jatinangor Krisis Budaya Tradisi

myjatinangor.blogspot.com

Almarhum Pak Supriatna, Ketua Sanggar Motekar

 

Jatinangor itu ibarat Kabayan yang linglung di tengah kota metropolitan. Ia seperti kehilangan identitasnya sendiri. Jatinangor bukan cuma menghadapi krisis lingkungan akibat pembangunan yang seenaknya, tapi lebih gawat dari itu, Jatinangor terancam oleh budaya asing. Akibatnya, seni tradisi dan budaya yang ada di sini terpinggrikan. Banyak yang “tutup mata” dengan keadaan ini. Namun, beruntung, dua hari (15-16 Januari 2010) saya meluangkan waktu untuk berkunjung ke Sanggar Motekar. Saya banyak dapat pelajaran dari Pak Supriatna, budayawan Jatinangor dan pendiri snggar, yang tanpa kenal lelah menghabiskan waktunya untuk melestarikan seni budaya Sunda, khususnya Jatinangor dari sanggarnya yang sederhana, Sanggar Motekar. Arti Motekar sendiri dalam bahasa Indonesia: kreatif. Tapi, anak pak Supriatna memaknainya dengan singkatan “Modal Tekad Pikeun Mekar” (Modal Tekad Untuk Mekar).

Sanggar ini berusaha mewariskan tradisi Sunda kepada generasi muda dengan jalan pelatihan. Kata pak Supriatna, melestarikan tanpa mewariskan itu omong kosong. Sanggar ini juga berusaha melakukan riset dan pendokumentasian artefak budya yang masih tersisa, seperti gambar tempel, gotong domba, dan cikeruhan. Kata pak Supriatna, Jatinangor itu dibanding kecamatan-kecamatan lain di Sumedang, adalah yang tergawat dalam hal seni dan budaya Sunda.

Pak Supriatna mencontohkan seni cikeruhan yang diambang kepunahan. Katanya, orang yang punya keahlian memainkan kendang untuk cikeruhan tinggal tersisa satu orang saja. Untuk itu, salah satu kegiatan yang tengah dilakukan khusus masalah cikeruhan adalah pendokumentasian dan pelatihan penabuh kendang. Sanggar ini bagai sebuah mata air di gurun pasir. Memberi kehidupan di tengah kegersangan.

Mudah-mudahan sanggar ini tetap hidup untuk menghidupi kembali seni dan budaya tradisi di sini, agar tidak mati mendadak.

1 COMMENT

  1. jatinangor tidak bisa menolak krisis budaya yang terjadi… justru menurut gw ndi, jatinangor bertransformasi menjadi suatu budaya yang terdiri dari banyak varian…
    Kalo kita renungi, jatinangor sesungguhnya bukan suatu wilayah tersendiri yang secara geografis dan kultur memiliki sesuatu khas. Tidak seperti Garut dengan domba, dodol, atau kulit. Bali dengan Leak, hindu dan tari pendet dan kecak.
    Jatinangor merupakan bagian dari Sumedang. malah bentuk Jatinangor yang khas sendiri, terlihat setelah terbuka dalam wilayah pendidikan.
    Konklusinya, Jatinangor ada setelah mahasiswa ada.
    Tidak salah jika Jatinangor menjadi wilayah yang dipenuh banyak unsur budaya.

LEAVE A REPLY