Majalah Lawas di Pasar Buku Gladak

Majalah lawas/Fandy Hutari

Hujan baru saja berhenti saat saya sampai di jejeran lapak buku di Taman Buku dan Majalah Alun-Alun Kraton Surakarta, akhir April lalu. Begitu gapura yang terpampang di ambang lapak-lapak buku. Tempat ini tenar juga disebut Pasar Buku Gladak.

Saya dapat rekomendasi tempat ini dari Gunawan Tri Atmodjo, penulis Tuhan Tidak Makan Ikan, yang asli Solo itu. Sayang sekali, saat saya datang banyak lapak yang sudah tutup—dan akan tutup. Para penjual merapikan buku-buku dan majalah-majalah mereka.

Saya berjalan agak ke dalam. Target saya saat itu, mencari literatur lawas soal teater, film, dan musik.

Di sudut kiri dalam kompleks penjaja buku-buku itu, saya menemukan lapak yang tak biasa. Sejumlah kaset dipajang berantakan di rak besi dan kayu di depan kios.

Ada meja besar tertutup terpal lusuh berwarna biru. Seorang pembeli menawar sebuah kaset.

Kaset-kaset dan buku-buku jualan Pak Bambang/Fandy Hutari

Saya melayangkan pandang ke setiap sudut kios. Selain kaset, ada buku-buku lawas di rak-rak dalam kios. Ada pula foto-foto hitam-putih.

“Cari opo, Mase?” kata Bapak paruh baya, penjaga kios.

“Lagi liat-liat, Pak. Apa Bapak punya majalah-majalah lawas?”

Tangannya merogoh meja yang sudah dibungkus terpal. Ia lantas mengeluarkan satu bundel majalah.

“Ini ada Varianada. Mau?”

Saya antusias. Varianada adalah majalah menyoal musik dan film yang terbit pada 1970-an.

Lalu, saya iseng melihat buku-buku tua di dalam kiosnya. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku tebal, sudah agak robek, dan menguning kertasnya.

“Ini kitab Alquran kuno. Mau? Nggak main ya?” kata Bapak itu.

“Iya, nggak main, Pak. Tapi itu kalau dijual berapa?” tanya saya.

“Wah ini bisa jutaan, Mas,” ujar Bapak itu terkikih.

Namanya Pak Bambang. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Bambang Gladak. Ia sudah berjualan di sini, sejak pasar buku ini berdiri pada 2001.

Pak Bambang lalu mengangkat terpal biru yang kadung menutupi meja besar. Di sana, tersimpan aneka majalah dan buku yang ia jual.

“Silakan pilih saja.”

Saya memilah-milah. Menemukan majalah lawas yang memang saya cari: Minggu Pagi dan Djaja. Majalah lain, ia bilang habis.

“Wah, kalau yang lainnya sudah diborong sama orang sini. Kemarin juga ada orang dari Jakarta dan Bandung yang beli,” katanya sembari tertawa.

Majalah-majalah itu, sudah dibundel. Pak Bambang menghargainya satu eksemplar Rp 7.500. Termasuk murah dibandingkan harga yang saya dapatkan di Jakarta.

Koleksi foto-foto tua juga iseng saya lihat. Saya sedang mencari foto Tan Tjeng Bok. Kebetulan, ia mengoleksi foto lawas peranakan Tionghoa.

“Coba cari,” katanya.

Namun, yang saya cari tak ada. Pak Bambang tersenyum usai transaksi. Saya membawa bundelan majalah tersebut ke Jakarta.

LEAVE A REPLY