Wujud topeng pada seni tradisi ini menyeramkan. Sepintas lalu, mirip ondel-ondel betawi, reog ponorogo, leak bali, hudoq kalimantan, bahkan makhluk peminum darah, jenglot. Tapi, justru topeng dan segala pernak-pernik yang menghiasinya menjadi daya tarik, serta hiburan menyenangkan bagi para penikmatnya.
Seni tradisi ini bernama bebegig. Namun, jangan pernah membayangkan bahwa bebegig yang ini sama dengan bebegig yang biasa kita temukan di sawah. Jika bebegig yang lazim digunakan petani untuk mengusir burung-burung hama padi di sawah bentuknya berupa boneka berbahan dasar pohon padi atau sejenisnya dan dibungkus dengan pakaian manusia, bebegig yang satu ini berbeda. Pelakunya adalah manusia yang mengenakan topeng berbentuk buta ijo, kepalanya besar, giginya taring, rambutnya gimbal, tubuhnya berwarna hitam, hidung lancip, matanya melotot, dan berwarna macam-macam. Sepintas mirip hudoq dari Kalimantan, ondel-ondel dari Betawi, atau leak dari Bali. Bedanya, bebegig memiliki ciri khas, seperti rambut gimbal terbuat dari susunan bunga bubuai (bungan rotan), seluruh tubuhnya dibungkus ijuk, mengenakan sarung tangan hitam, dan sepatu hitam. Meskipun bentuk bebegig terlihat mirip, namun masing-masing memiliki nama. seperti Gandawisesa, Pancasita, Panjigoma, dan lain sebagainya.
Spektakuler
Bebegig merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Media utamanya adalah manusia yang memakai topeng besar dilengkapi rambut gimbal. Musik pengiringnya terdiri dari dogdog dan angklung yang berjalan di depan bebegig. Jika sedang mengadakan pertunjukan atau arak-arakan, orang-orang di sekitar pertunjukan boleh ikut menari bersama bebegig mengikuti irama dogdog dan angklung tadi. Dan, orang-orang pun larut dalam kegembiraan menari bersama bebegig yang punya wajah menyeramkan. Tak ada rasa takut. Semua ikut menari. Seni yang termasuk dalam kategori helaran (karnaval) ini biasa digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI, khitanan, menyambut tamu, even-even tertentu, serta kerap dilombakan pada festival-festival di luar daerah. Seni tradisi khas Kabupaten Ciamis ini pernah mengikuti festival seni dan budaya di Jakarta, Bandung, dan Ciamis. Bahkan dalam festival budaya di Bali, bebegig sukamantri pernah menyabet gelar juara ke-2. Bebegig sendiri mulai dipopulerkan oleh para seniman Ciamis dan masyarakat Sukamantri sekitar 1950-an. Menurut saya, seni tradisi ini terbilang spektakuler, sebab melibatkan banyak orang di dalamnya. “Di acara tertentu kami cuma membawa beberapa orang saja. Kalau di daerahnya mah bisa sampai 40-an orang lebih. Belum lagi yang mau ikut menari,” kata Fauzan, salah seorang anggota grup bebegig, Baladewa Sukamantri (10/10/2010).
Yang lebih mencengangkan lagi, bobot rambut gimbal dan topeng bebegig ini tidak sembarangan. Beratnya bisa mencapai 30 kilogram, dengan tinggi mencapai 5 meter lebih. “Mungkin yang kita bawa ke Pasar Seni (atau acara-acara tertentu di luar daerah, red) ini beratnya sekitar 30 kilogram lah. Tapi, kalau di daerahnya mah bisa sampai 50 kilograman, bahkan lebih,” ungkap Fauzan. Luar biasa menurut saya. Jika pakai logika akal sehat, mustahil seorang manusia bisa mengangkat beban seberat itu. Apalagi beban seberat itu mesti dibawa arak-arakan. Saya tidak mendapatkan jawaban pasti atas hal ini. Apakah seni ini memakai mistik, layaknya reog ponorogo atau murni kekuatan fisik seseorang. Tapi, sedikit “bocoran” saya dapatkan dari Fauzan. “Kalau di tempat asalnya mah, bebegig keluar dari makam. Maksudnya, bebegig diinapkan dulu di makam. Baru besoknya, bebegig itu dipakai sama orang yang bertugas membawanya,” tandas Fauzan. Mungkin saja ini pengaruh mistik atau bantuan roh halus. Namun, saya tak bisa langsung menyimpulkan demikian. Perlu penelitian lebih lanjut untuk memperjelas hal ini. Tapi, ini menurut saya luar biasa.
Penjaga alam
Menurut masyarakat Sukamantri, bebegig adalah lambang kemenangan. Konon, pembuatannya terinspirasi wajah Prabu Sampulur, seorang raja yang berhasil menang melawan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Jawa. Kemudian, kemenangannya tadi dikenang oleh masyarakat berupa topeng mirip wajahnya. Lalu, apakah benar wajah sang prabu mirip dengan topeng bebegig saat ini? Jika iya, kenapa justru tampil “menyeramkan”? Entahlah. Tapi yang pasti, sebagian besar seni tradisi Sunda ditujukkan untuk menghargai alam. Lihat saja angklung, rengkong, dan cikeruhan yang ditujukkan sebagai wujud penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci, Dewi Kesuburan. Ini wajar, sebab Tatar Sunda memang terkenal sebagai daerah yang agraris. Jadi, bisa dimengerti mengapa sebagian besar seni tradisinya berhubungan dengan alam. Menurut masyarakat Sukamantri, bebegig adalah lambang kemenangan. Konon, pembuatannya terinspirasi wajah Prabu Sampulur, seorang raja yang berhasil menang melawan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Jawa. Kemudian, kemenangannya tadi dikenang oleh masyarakat berupa topeng mirip wajahnya. Lalu, apakah benar wajah sang prabu mirip dengan topeng bebegig saat ini? Jika iya, kenapa justru tampil “menyeramkan”? Entahlah. Tapi yang pasti, sebagian besar seni tradisi Sunda ditujukkan untuk menghargai alam. Lihat saja angklung, rengkong, dan cikeruhan yang ditujukkan sebagai wujud penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci, Dewi Kesuburan. Ini wajar, sebab Tatar Sunda memang terkenal sebagai daerah yang agraris. Jadi, bisa dimengerti mengapa sebagian besar seni tradisinya berhubungan dengan alam. Begitu pula dengan bebegig. Layaknya karakter bebegig penunggu sawah, fungsi kesenian bebegig, yaitu sebagai penjaga pada prosesi pembersihan alam untuk bercocok tanam. Ini terlansir dari arak-arakan pada upacara memelihara alam yang merupakan tradisi masyarakat Sukamantri. Aneka tanaman yang menghiasi kepalanya sendiri merupakan personifikasi dari isyarat untuk mencintai alam sekitar. Makna ini mirip dengan seni tradisi hudoq di Kalimantan. Hudoq sendiri merupakan ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang sebagai kekuatan untuk mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan pengharapan diberikan kesuburan untuk hasil panen yang berlimpah. Media utama seninya pun hampir sama, yaitu manusia yang mengenakan sebuah topeng dan kostum khas. Hanya bedanya, topeng hudoq berwujud elang dan kostum yang membungkus si pemakainya terbuat dari daun pisang. Entah ada atau tidak persinggungan budaya dari suku yang secara geografis tidak dekat itu. Namun, kata Fauzan, dulu bebegig merupakan penjaga kerajaan yang ada di Ciamis. Jika memang demikian, ini mirip dengan fungsi awal kemunculan ondel-ondel. Konon, ondel-ondel digunakan sebagai personifikasi leluhur kampung untuk mengusir roh-roh halus atau penolak bala.
Seperti keluhan mayoritas seni tradisi yang hidup di Nusantara, bebegig pun terancam punah, lantaran peminatnya semakin sedikit. Dan, ini merupakan masalah kita bersama. Tugas kita lah untuk menjaganya. Terlepas dari itu semua, dapat disimpulkan bahwa bebegig punya tujuan yang luhur, yaitu mengajarkan pada kita tentang kepedulian menjaga dan melestarikan alam sekitar. Karena penyajiannya sederhana, masyarakat umum pun paham akan makna itu. Suatu semangat yang luar biasa.
Dengan maraknya penebangan liar yang mengakibatkan datangnya bencana alam, seperti banjir dan longsor di berbagai daerah, seolah-olah bebegig ikut memperingati: apakah Anda masih peduli dengan kelestarian alam di sekitar Anda? Jika tidak, tunggu saja alam akan menghukum Anda.
Dimuat di Kompas Jawa Barat edisi 20 November 2010.






