Gondrong, Simbolisasi Sepanjang Zaman

 

Pria yang memiliki rambut panjang dikenal dengan istilah gondrong. Dari masa ke masa, imej pria berambut gondrong selalu berubah. Kini, pria yang punya rambut gondrong cenderung dicap sebagai orang yang urakan, tak bisa diatur, melanggar norma kesopanan, pemberontak, dan lain sebagainya. Berbanding terbalik bagi mereka yang mencukur rapi rambutnya atau cepak ala kadit militer, dianggap modern, elegan, saleh, sopan, dan “bermoral”. Di sekolah-sekolah, siswa berambut gondrong siap-siap mendapat sanksi menghadapi gunting dari guruentah digunduli atau dipotong asal-asalan. Saya pun pernah mengalami hal ini ketika sekolah dulu. Padahal, jika kita mau mengakui secara jujur, toh koruptor di negeri ini mayoritas berambut pendek, rapi, danklimis.
Gondrong di berbagai kebudayaan
Dalam berbagai kebudayaan dan perjalanan zaman, bentuk rambut berubah-ubah. Rambut, sejak lama, suda menjadi semacam simbol status bagi berbagai bangsa di dunia ini. Kisah Samson, manusia kuat berambut gondrong, konon menyimpan kekuatan di rambutnya. Jika rambutnya dipotong, maka kekuatannya raib. Dengan kekuatan yang bersemayam di rambut gondrongnya, Samson mampu menjaga daerahnya, serta menjadi pahlawan bagi bangsa Ibrani.
Di Jepang, memotong rambut berarti simbol kekalahan. Tradisi ini dikenal di kalangan para Samurai dahulu. Samurai akan mencukur rambut mereka yang gondrong ketika kalah bertempur. Sumo mengenal tradisi memotong rambut ketika mereka pensiun. Dalam tradisi beberapa kalangan bangsa Jepang, memotong rambut mereka yang gondrong hampir setara dengan harakiri (bunuh diri dengan menyobek perut). Memotong rambut berarti kalah dan kehilangan kehormatan.
Para prajurit Suku Indian memanjangkan rambut mereka, dihiasi dengan bulu burung dan manik-manik, sebagai simbol kekuatan. Kehilangan rambut sama saja kehilangan “kejantanan”. Mayoritas para musisi reggae, atau penggemarnya, mencirikan diri mereka dengan rambut gondrong yang melilit. Istilah jenis rambut ini adalahdreadlocks. Gaya rambut ini menyebar saat musisi reggae asal Jamaika, Bob Marley, pada akhir 1970-an mengidentitaskan dirinya dengan rambut gimbal model ini. Sejak itu, reggae identik dengan dreadlocks. Sejarah gaya rambut ini dimulai sejak 1914. Marcus Garvey, lewat UNIA saat itu memperkenalkan gerakan religi dan kesadaran identitas kulit hitam. Marcus mengadopsi aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika. Mereka menamakan diri sebagai kaum Dread. Tatanan rambut gimbal ini kemudian melahirkan sebutan dreadlocks. Pada 1930-an, ketika Rastafarianisme menjadi religi kelompok ini, dreadlocks jadi simbol sosial para Rastafarian.
Pada 1930-an, Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kaum Rasta yang tidak puas dengan keadaan sosialnya dan pemerintahan, lalu menciptakan masyarakat tersendiri, dan mengisolasi diri di tenda-tenda yang dibangun di semak belukar. Mereka pun punya tatanan nilai, praktik agama sendiri, serta gaya rambut gimbal yang dipelihara. Secara garis besar, rambut gondrong ala dreadlocks merupakan sebuah wujud semangat antikekerasan, antikemapanan, dan solidaritas golongan minoritas.
Pada dua agama besar dunia, yaitu Islam dan Nasrani, mengenal nabi-nabi yang memiliki rambut gondrong. Kristus punya rambut yang bahkan melebihi bahunya. Sedangkan Muhammad, menurut beberapa riwayat, memiliki rambut yang juga gondrong. Dalam alkitab, surat Bilangan ayat 5-19, rambut gondrong disinggung sebagai lambang pengabdian seseorang untuk Allah dengan tidak memotong rambutnya. Jika terjadi penajisan, rambut tersebut harus dicukur habis.
Rambut dapat melambangkan kekuatan, kejantanan, kemakmuran, dan kelas. Dalam banyak kasus, seorang raja bisa kehilangan kerajaannya dengan kehilangan rambutnya. Namun, kita pun mengenal golongan yang mencukur rambutnya. Misalnya saja para biksu Budha. Dalam kalangan ini, mencukur habis rambutnya sama engan melepaskan kesombongan dari kehidupan duniawi. Di Nusantara, rambut gondrong versus pendek rapi memiliki sejarah yang panjang. Sejarah tersebut bercampur pada nilai-nilai sosial, status, bahkan politik.
Simbol kemenangan, pemberontakan, dan perlawanan
Pernahkan Anda menonton film-film kolosal yang berlatar Nusantara prakolonial? Jika kita perhatikan—semisal film Si Buta Dari Goa Hantu—tokoh-tokoh pria di film tersebut berambut gondrong. Para raja dan ksatria (pahlawan sakti mandraguna) biasanya berambut gondrong dan memiliki kekuatan supraindrawi. Nah, sekarang coba bandingkan dengan film-film kontemporer. Kebanyakanpria berambut gondrong diidentikkan dengan penjahat, pembuat onar, dan pelaku kriminal, diselingi dengan beberapa tato dan anting. Secara awam, kita bisa menyimpulkan bahwa stigma pria berambut gondrong itu mengalami perubahan di setiap zaman.
Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (1992) rambut pada masa prakolonial di wilayah Asia Tenggara, bagi perempuan dan lelaki, merupakan lambang dan penunjuk diri yang menentukan. Memotong rambut di masa ini lebih merupakan pengorbanan diri daripada simbol pengekangan gairah seksual atau pengebirian. Reid menulis, upacara pemotongan rambut gondrong Aru Palakka pada 1672 dan rambut Susuhunan Pakubuwono I pada 1715, mungkin berhubungan dengan sumpah berkorban setelah beroleh rahmat Tuhan. Aru Palakka sendiri mencukur rambutnya setelah berhasil menang perang melawan Makassar. Di Nusantara, setelah Islam masuk, tradisi meng-gondrong-kan rambut tetap dipertahankan, terutama oleh orang Jawa, Bugis, sebagian besar orang Makassar, dan Aceh. Di daerah-daerah ini, rambut masih dipandang sebagai sesuatu yang memberi kekuatan tersendiri. Namun, mereka yang ingin menunjukan ketaatannya kepada Islam, mementingkan rambut yang dicukur. Bahkan, pada saat Perang Jawa terjadi, Pangeran Diponegoro menganjurkan untuk memotong rambut, sebagai pembeda dengan orang Jawa “murtad” yang berpihak pada Belanda.
Reid dalam akhir pembahasannya mengenai rambut di buku tadi menyimpulkan, jika kehadiran dua agama besar, yaitu Islam dan Kristen, merupakan salah satu faktor menghilangnya kebiasaan memanjangkan rambut kaum pria di Asia Tenggara selama abad ke-16 dan17. Reid menambahkan, hilangnya tradisi “gondrong” mungkin pula disebabkan proses sekularisasi yang mengait dengan proses urbanisasi. Tubuh, termasuk rambut di dalamnya, kata Reid, tak lagi dipandang sebagai sumber kekuatan magis yang mesti dibedakan secara alam hewani, melainkan sebagai sebuah sarana netral yang alamiah bagi jiwa transenden.
Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 mengatakan, di masa kolonial, kaum muda yang masuk sekolah Belanda lebih maju dari mereka yang bersekolah di sekolah bumiputra. Kunci mereka untuk masuk sekolah Belanda adalah, kemampuan bahasa Belanda. Lambang kaum muda adalah, penggunaan kata-kata Belanda, pengenaan pakaian dan sepatu gaya Barat, kebiasaan mengunjungi restoran, nonton film, dan menikmati musik. Mungkin saja, mencukur rambut dan menatanya dengan rapi termasuk bagian dari hal tersebut. Rambut yang terpotong rapi, jika kita perhatikan, sengaja diciptakan oleh kaum kolonial untuk menunjukkan budaya manusia “modern”.
Menurut ulfa Ilyas, di artikelnya “Rambut Gondrong dan Dinamika Perlawanan” mengatakan, oleh orang-orang Belanda, yang telah terbiasa berambut pendek dan disisir rapi ala orang Eropa ketika itu, para pemuda pejuang berambut gondrong dicap ekstremis. Dan, saat revolusi mempertahankan kemerdekaan, para pemuda yang berjuang mayoritas berambut gondrong. Ali Sastroamidjojo di bukunya berjudul Tonggak-tonggak di Perjalananku melukiskan para pemuda yang berambut gondrong sebagai kekuatan revolusi di Yogyakarta. F.C. Fanggidaej pun menggambarkan pejuang berambut gondrong ini dalam artikelnya berjudul “Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945-1949” yang dimuat SAS Newsletter, No. 4, Desember 1996, “Jalan-jalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pestol, senapang, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing. Kepala mereka mereka ikat dengan kain merah …. Yah, semangat juang, rasa romantisme dan kecenderungan kaum muda untuk berlagak dan bergaya bercampur dengan sikap serius dan tenang dengan tekad pantang mundur yang terpancar dari mata dan wajah mereka—itulah gambaran pemuda Indonesia Revolusi Agustus 1945,” tulis Fanggidaej.
Gondrong itu subversif
Penguasa politik ternyata memengaruhi juga gaya rambut seseorang. Di masa dua presiden kita, yaitu Soekarno dan Soeharto, rambut gondrong “diharamkan”. Di era Soekarno, anak muda yang memiliki rambut gondrong dan menggandrungi musik Baratistilah saat itu musik “ngak-ngik-ngok”bakal dirazia petugas. Iwan Satyanegara Kamah dalam artikelnya “Koes Plus, yang Dulunya Bersaudara, Ternyata Memang Bersaudara dengan Soekarno Plus Soeharto” menulis bahwa Soekarno melarang rambut gondrong. “Saya perintahkan polisi untuk memotong gondrong,” ujar Sokarno saat ditanya oleh wartawan CBS soal hukuman bagi orang Indonesia yang menggemari musik The Beattles. Apa yang dilakukan Soekarno adalah wujud dari cita-cita politiknya kala itu yang ingin menjauhkan anak-anak muda dari pengaruh Barat. Perlu dicatat, saat itu (1960-an) Indonesia pun sedang terlibat konfrontasi dengan Malaysia yang dianggap sebagai negara buatan Inggris (istilahnya neokolonialisme dan imperialismenekolim).
Kejatuhan Soekarno pasca Gerakan 30 September yang masih menimbulkan kontroversi tidak membuat lelaki berambut gondrong lega. Di era Soeharto, gondrong pun dilarang. Aria Wiratma Yudhistira menggambarkan pelarangan gondrong ini dalam bukunya Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an. Militer dan aparat kepolisian disibukkan dengan urusan remeh ini. Pangkopkamtib berbicara di TVRI soal pelarangan gondrong, dan lucunya dibentuk Bakorperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Siapa pun yang punya rambut gondrong akan kena gunting dan denda, dan lembaga publik menolak melayani mereka. Hal ini juga berimbas pada artis-artis yang dilarang masuk TVRI kalau mereka berambut gondrong.
Radiogram No. SHK/1046/IX/73 yang isinya, anggota ABRI dan karyawan sipil yang bekerja di lingkungan militer serta keluarganya dilarang berambut gondrong, dikirim oleh Menhankam/Pangab ke semua jajarannya. Pada 1968, terjadi razia di Jakarta melalui instruksi Gubernur Ali Sadikin. Razia ini mungkin termasuk aksi yang paling menghebohkan. Razia di jalan-jalan kota, diskriminasi, propaganda negatif lewat media, menjadi pemandangan lumrah ketika itu. Jika Soekarno melarang pemuda berambut gondrong lantaran ingin menjauhkan mereka dari kebudayaan Barat dan bersifat politis (antiBarat), maka Soeharto melarang rambut gondrong karena ingin “mendidik” mereka sebagai pemuda yang mau membangun bangsanya. Pemuda berambut gondrong dicap kotor, urakan, tak bertanggung jawab, dan tak acuh terhadap masa depan bangsanya. Orde Baru juga berusaha menjauhkan mereka dari pengaruh budaya hippies dari Barat, yang ditakutkan mengancam masa depan anak muda.
Pelarangan rambut gondrong rupanya tak hanya terjadi di Indonesia saja. Di beberapa negara pun penguasa turun tangan melarang hal sepele ini. Misalnya saja, baru-baru ini pemerintah Korea Utara yang mengeluarkan larangan rambut gondrong. Rodong Sinmun, surat kabar milik partai berkuasa, mengatakan kaum pria harus menjaga rambut mereka tetap pendek, sementara kaum hawa diminta mengikat rambut panjang mereka. Surat kabar itu menulis, untuk menjaga rambut Anda rapi dan sederhana, ini adalah hal yang sangat penting untuk mengatur etos dari gaya hidup di negeri kita.

 

Soal pelarangan rambut gondrong, saya juga teringat kasus yang menimpa kelompok anak-anak muda punk yang terjaring razia di Banda Aceh Desember 2011 lalu, karena dianggap “menyimpang”. Rambut mereka, yang kebanyakan bergaya mohawk, digunduli habis oleh aparat setempat.


Rambut sering disebut sebagai mahkota kita. Dari pembahasan tadi, gaya rambut ternyata menyentuh banyak hal: budaya, kepercayaan, perlawanan, dan lain-lain. Namun, jika gaya rambut yang merupakan bagian dari hak pribadi sudah diatur, bukankah itu sama saja dengan mengatur otoritas pribadi yang seharusnya bebas? Seperti yang sudah disinggung di awal tulisan, bukankah “otak” seseorang tak bisa kita lihat dari rambutnya. Saya kira, publik bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, kebanyakan koruptor itu berambut pendek, rapi, dan klimis. Dan, tidak semua penjahat itu berambut gondrong.
Dimuat pertama kali di Majalah Mata Jendela edisi 01/2012 (Januari - Maret).

LEAVE A REPLY