Mbah

Ilustrasi/jampang.wordpress.com

Bulan ini, delapan tahun silam, saya bersama sekitar 20 puluhan orang pergi ke pemakaman. Liang sekitar dua meter sudah siap di antara puluhan kuburan yang sudah bernisan. Siang yang kering sehabis zuhur. Sinar matahari mengintip dari balik daun-daun dan ranting-ranting pohon area pemakaman. Keranda masih digotong menuju liang tersebut. Ibu masih menangis tersedak.

Keranda dibuka. Lalu, jenazah perempuan tua yang sudah dibalut kain kafan itu dikeluarkan. Abang dan ayah saya turun ke dalam liang tadi. Siap sedia menyambut jenazah, untuk dipacak di liang itu, selamanya.

Saya hanya bisa menyaksikan dari atas, di antara 20 puluhan pelayat lainnya. Jenazah tadi adalah perempuan yang semasa hidup saya panggil Mbah.

*

Takdir mungkin memang menetapkan Mbah selalu hidup dalam kesendirian. Beberapa kali mencoba berumah tangga, selalu diakhiri dengan perceraian. Mbah memiliki banyak anak dari hasil kawin-cerainya. Bahkan, ia sampai lupa di mana seorang anak perempuannya tinggal saat itu.

Di Semarang, ia memiliki banyak anak. Di Jakarta, ada ibu dan paman saya. Namun, dari semua anak Mbah, hanya ibu yang berbesar hati memberikan atap di rumah kami.

Sedari saya masih digendong dan berjalan merayap, Mbah sudah tinggal di rumah kami. Bisa dibilang, ia adalah ibu saya yang kedua. Ia yang merawat dan mengasuh saya, abang saya, dan adik saya sejak kecil.

Mbah tak pernah lupa hari kelahiran saya. Setiap hari tambah usia itu tiba, ia selalu memberikan saya selamat, dan mencium pipi serta kening saya. Suatu hari, saat saya masih duduk di bangku SD, ia bahkan memberikan saya sejumlah uang, yang entah ia dapatkan dari mana.

Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari perempuan asal Semarang itu. Namun, yang paling membekas adalah ia mengajarkan saya tentang perjuangan hidup. Ia hidup berpindah-pindah, hanya untuk mengais rezeki. Segala profesi sudah Mbah geluti, mulai dari berdagang mi, pembantu rumah tangga, berdagang rokok, menjahit, hingga memulung.

Kedua, ia mengajarkan soal keikhlasan. Berulang kali gagal berumah tangga tak membuat ia lantas selalu murung.

*

“Saya mau melihat istri dan anak kamu. Mudah-mudahan saya masih ada umur,” kata Mbah, saat saya sudah lulus dari studi di Bandung.

Saat itu, saya sedang pontang-panting cari pekerjaan tetap. Harapan itu tentu tak bisa ia wujudkan. Toh, hingga kini saya belum juga menikah.

Setelah saya mendapatkan pekerjaan sebagai reporter pada 2008, Mbah sudah terlihat kepayahan membawa tubuhnya yang kurus. Sangat lelah. Saya ingat, waktu itu sekitar dua minggu setelah Lebaran, Mbah akhirnya benar-benar tak berdaya.

“Mana anak saya dari Semarang, katanya mau datang?” tanya dia di atas ranjang, sembari mengintip jendela yang tembus ke jalan kecil depan rumah kami. Langsung melihat, jika ada suara mobil melintas.

Namun, yang ditunggu tak kunjung tiba. Beberapa hari, Mbah merasa kepalanya pusing dan badannya panas. Bicaranya sudah tak jelas. Beberapa hari tak berdaya di ranjang, ayah membawanya ke rumah sakit tak jauh dari rumah kami.

Di rumah sakit, malaikat maut menjemputnya. Di hari kedua, tepat ketika ibu dan ayah saya pergi meninggalkan rumah sakit tengah malam, berita duka datang dari abang yang menginap, menunggu di rumah sakit itu. Persis pukul 00.00, dan saat orang-orang yang membesuk sudah pulang ke rumah masing-masing, Mbah pergi selamanya.

Takdir, memang sudah menggariskan Mbah hidup sendirian, berjuang sendirian, dan mati sendirian.

*

Orang-orang berdatangan ke rumah kami. Saya duduk persis di sebelah jenazah yang pucat, kaku, dan ringkih. Alunan ayat-ayat suci dari para tetangga dan sanak saudara terus terdengar. Saya masih memandangi wajah jenazah yang seolah masih hidup, lalu mencium keningnya.

Setelah jenazah dimandikan, orang-orang ikut dalam prosesi salat jenazah di mushola tak jauh dari rumah kami. Tak lama, ambulans datang. Keranda itu dimasukkan di dalam ambulans, untuk dimakamkan. Saya ikut di ambulans itu.

Menurut kepercayaan agama saya, orang yang sudah meninggal dunia akan ada di sekitar rumahnya dahulu selama 40 hari. Selama itu, hampir setiap malam, saya kerap bertemu Mbah di mimpi. Ia datang menampakan wajah yang berganti-ganti dan menyeramkan. Hingga akhirnya, tepat di hari ke-40, saya bertemu dalam mimpi untuk yang terakhir. Di dalam mimpi, saya melihatnya sedang sibuk membereskan sebuah koper besar berwarna hitam di kamar tempat ia tidur dahulu. Mbah sendiri saya lihat mengenakan kebaya berwarna hijau, dan berkonde. Perawakannya agak gemuk.

“Mau ke mana, Mbah?” tanya saya di dalam mimpi.

“Mau pulang ke rumah yang baru. Rumah Mbah bukan di sini lagi. Kamu baik-baik, ya,” katanya.

Saya terperanjat. Terbangun dari tidur. Mata saya tiba-tiba basah. Kematian tak bisa diduga dan dipastikan, tapi ia akan tiba meski lewat lubang semut sekalipun [].

LEAVE A REPLY