Suyadi atau yang lebih dikenal sebagai Pak Raden di Jalan Petamburan III,
Jakarta. Rumah Pak Raden berada di kawasan padat penduduk, di salah satu
jalan kecil. Sore itu, rumah mungil dan jauh sekali dari kesan mewah tersebut
disesaki para pemburu berita. Saat itu, saya menghadiri konferensi pers terkait
perjanjian baru antara Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN) dan pihak
Pak Raden soal hak ekonomi “Si Unyil”.
memenuhi segala kebutuhan ekonominya. “Saya menjual lukisan untuk memenuhi
kebutuhan,” kata dia saat itu. Hebatnya, tak ada keluh-kesah dari wajahnya. Pak
Raden tetap berkisah dengan jenaka.
karakter lainnya yang tayang di layar TVRI pada 1981 hingga 1993 setiap Minggu
pagi. Sayangnya, hak cipta boneka Si Unyil ada di tangan PPFN.
perjanjian dengan PPFN, yang berisi menyerahkan kepada PPFN untuk mengurus hak
cipta atas Unyil. Perjanjian tadi berlaku selama lima tahun. Selang beberapa
hari, perjanjian yang serupa dengan tanggal yang sama muncul. Namun, perjanjian
itu tak mencantumkan masa berlakunya.
Raden menandatangani surat penyerahan hak cipta atas 11 lukisan boneka,
termasuk si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, dan lain-lain. Pada 15 Januari 1999,
PFN mendapat surat penerimaan permohonan pendaftaran hak cipta dari Direktorat
Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek Departemen Kehakiman atas 11 tokoh itu.
dapat ditolak. Akibat berbagai perjanjian tadi, Pak Raden tak dapat royalti.
lalu, wajah Pak Raden terlihat sumringah. Sebab, 2 hari sebelumnya, perjanjian
baru antara PPFN dan pihak Pak Raden ditandatangani. Perjanjian itu
disebut-sebut menguntungkan kedua pihak.
Direktur Utama PPFN, Shelvy Arifin mengatakan, kesepakatan baru ini berlangsung
selama 10 tahun.
lega, karena sudah tidak dihantui dengan, kapan ya sidangnya? Kapan ya saya
harus berhadapan dengan hakim, dan sebagainya. Itu saudara-saudara saya,
sahabat saya. Tersiksanya kamu harus menghadapi sebuah instansi yang bukan
musuh. Dan, selama waktu berlalu bertahun-tahun anak-anak dikasih apa?”
katanya.
masih ingat dengan anak-anak.
wartawan saat itu kepada Pak Raden.
ya cuma sering encok dan asam urat aja,” jawabnya, diikuti tawa khasnya.
berkunjung ke rumahnya di April 2014, Pak Raden sudah harus menopang dirinya di
atas kursi roda. Masalah asam urat di kakinya, tak bisa dia atasi.
Begitulah Pak Raden. Selalu jenaka dan tak pernah mengeluh.
Bagi mereka yang pernah merasakan masa kanak-kanak di tahun 1980-an dan awal
1990-an, siapa yang tak mengenal serial televisi Si Unyil. Tontonan berupa
adegan boneka tangan, dengan karakter tokoh utama bernama Unyil yang memakai peci
dan sarung dislempangkan di badannya itu merupakan tontonan favorit anak-anak
masa itu.
Selain si Unyil, pasti yang pernah menonton Si Unyil tahu juga sosok Usro, Pak
Ogah, dan Pak Raden. Pak Raden memiliki ciri khas berkumis tebal, mengenakan
blankon, pakaian khas Jawa, dan memakai tongkat. Uniknya, karakter-karakter yang dia ciptakan benar-benar ada di dunia
nyata.
salah satu karakternya, yakni Pak Ogah, menjadi istilah untuk menyebut sebuah
profesi. Pak Ogah memiliki ciri khas berkata “Cepe’ dulu dong…” saat dimintai
bantuan. Saat ini, Pak Ogah menjadi sebutan pula untuk profesi seseorang yang
berada di jalan besar (pertigaan, perempatan, tikungan, lampu merah), mengatur
lalu lintas seadanya, dan meminta uang jasa dari mengatur lalu lintas tadi.
dilihat sepintas akan mengatakan oh Indonesia. Hidungnya tidak mancung.
Rambutnya tidak pirang, pokoknya karakteristik orang Indonesia,” katanya
Pak Raden.
Pria jebolan Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung ini dikenal sebagai seniman tanpa pamrih. Dia pendongeng ulung, dan pelukis berbakat. Di kediamannya, setelah konferensi pers, Pak Raden masih sempat mendongeng dan mengajari para wartawan bernyanyi lagu anak.
Pada malam 30 Oktober 2015 kemarin, saya mendapatkan informasi dari media online, Pak Raden meninggal dunia. Lalu, saya konfirmasi kepada seorang kawan yang kebetulan dekat dengan manajemen Pak Raden.
“Jam 3 pagi [30 Oktober 2015] sakit panas tinggi. Terus Subuh masuk
Rumah Sakit Pelni. Jam 22.20 tadi meninggal, Bang,” kata seorang kawan,
yang belakangan sibuk menjadi awak
dokumentasi khusus Pak
Raden. Belakangan tersiar kabar, Pak Raden wafat lantaran
infeksi paru-paru.
mungkin akan menjadi karya monumental Pak Raden. Karyanya ini akan terus hidup,
dan menjadi legenda. Pak
Raden memang sudah senja. Usianya sudah 82 tahun. Tapi, saat Pak Raden masih ada, semangatnya tak lekang dimakan tubuhnya yang semakin ringkih. Dia juga memilih untuk melajang. Tak memiliki istri dan anak.
empati dan balas budi sebab sudah membuat masa kecil saya bahagia dengan Si
Unyil, saya sengaja pergi ke TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Makamnya siang
itu [31/10] tak banyak orang yang datang. Hanya beberapa keluarga dan sahabat
dekatnya. Lagi-lagi, tak ada kesan mewah di sini. Semua orang muncul dengan
kesederhanaan.
kami kenang. Dari kasus “penelantaran” royalti, Saya
hanya berharap, negeri ini menghargai karya-karya anak bangsanya sendiri,
apapun bentuknya.
sudah membuat masa kecil saya bahagia…





![Balada Ondel-Ondel [Pe]ngamen](http://www.fandyhutari.com/wp-content/uploads/2016/01/IMG_1720-80x60.jpg)
