Balada Ondel-Ondel [Pe]ngamen

Sore sudah hampir habis. Namun,
tetabuhan gong kecil, gendang, tiupan terompet, dan gesekan tehyan masih
terdengar bising di pinggiran Jalan Raden Inten, Jakarta Timur. Iring-iringan
musik khas Betawi ini menuntun sepasang boneka besar berwajah seram, yang
meniti pinggiran jalan itu. Mereka adalah pengamen ondel-ondel. Sementara,
bunyi klakson mobil dan motor tak henti-hentinya berteriak, sebab laju jalan
sedikit tersendat karena iring-iringan tadi. Namun, para pengiring sepasang
ondel-ondel itu cuek saja, dan melanjutkan membunyikan alat musik sederhana
yang mereka bawa. Dua orang, memegang bak kecil berwarna putih, meminta uang
sekadarnya kepada orang-orang yang ada di sekitar. Mereka masih sibuk dengan
aktivitasnya.
Setor ke ‘si bos’
Usia
mereka masih sangat muda. Remaja belasan tahun. Salah satunya Ayung. Usianya
baru menginjak 14 tahun. Tubuhnya yang besar dan tinggi seakan menafikan
anggapan orang bahwa dia masih remaja bau kencur. Ayung dan teman-temannya
mengamen ondel-ondel sejak setahun lalu. “Nama grup kita Bintang Mustika,” kata
Ayung ditemui di Jalan Raden Inten, setelah mereka sedikit kelelahan karena
keliling. Anggotanya, kata Ayung, ada 12 orang. “Megang gong, kenong, gendang
sepasang, ondel-ondel dua,” katanya. Selain itu, ada sebuah speaker besar yang
dibawa oleh gerobak dorong. Fungsinya, tentu saja agar suara musik terdengar
lebih semarak. Ondel-ondel setinggi 2,5 meter pun didadani dengan busana khas
Betawi dengan warna yang cerah.
Musik
pengiringnya lagu-lagu Betawi, seperti Lenggang Kangkung, Kicir-Kicir, atau
lagu-lagu karya Benyamin S. Anggotanya ditambah dua orang yang bertugas
“menarik” uang dari warga sekitar dengan kaleng atau ember kecil. Menurut
Ayung, pendapatannya mengamen tidak menentu. “Kadang bisa 1 juta. Kalau dikit ya
bisa 150 ribu.” Pendapatannya itu harus disetor ke seseorang, yang Ayung sebut
“si bos.” “Kalau setor ya tergantung pendapatan. Kadang setor 200 ribu, kadang
150 ribu. Malah kadang nggak setor sama sekali,” kata dia. Rute berkeliling,
menurut Ayung, tidak tentu. Tapi, mereka berputar di sekitar daerah tempat
sanggar mereka saja. “Kadang ke Kranji (Bekasi), BKT (Banjir Kanal Timur,
Jakarta Timur) kemaren ke Bantar Gebang (Bekasi), ke mana aja dah pokoknya yang
ada duitnya. Tadi dari Kampung Sumur (Duren Sawit, Jakarta Timur).”
Selain
sehari-hari mengamen, Ayung dan teman-temannya juga kerap mendapat panggilan
untuk acara hajatan (nikahan, khitanan, atau ulang tahun). “Biasanya kalau
hajatan ngasihnya 400 ribu,” kata dia. Musim Pemilu ini, kelompok ondel-ondel Bintang Mustika juga mendapat
panggilan dari calon legislatif atau partai politik. Di atas gerobak dorong,
ondel-ondel ukuran mini berbahan bambu pun dijual oleh mereka. “Ini kita jual
150 ribu satu,” kata salah satu pengamen ondel-ondel. Mereka lalu berjalan
kembali, ke sanggar mereka di bilangan Kampung Jembatan, Cakung, Jakarta Timur.
Ayung
dan teman-temannya
hanya salah
satu di antara banyak pengamen ondel-ondel yang ada di Jakarta. Sore
hari hingga menjelang malam, kita bisa dengan mudah melihat pengamen seperti
Ayung dan teman-temannya di daerah Rawamangun, Condet, Jatiwaringin, Cikini,
bahkan di daerah pusat Jakarta.
Lecehkan budaya Betawi
Di teras sebuah
rumah sederhana yang ada di komplek perumahan TMII, Jakarta Timur, berdiri
sepasang ondel-ondel. Ada dua anak muda yang asyik bermain tehyan dan gamelan
di ruang kecil, tepat di pintu masuk teras rumah ini. Rumah ini merupakan
tempat berkumpul para pecinta seni Betawi. Sanggar Sinar Betawi namanya.
Sewaktu-waktu, di sanggar ini sibuk membuat ondel-ondel. “Biasanya kalau hari
HUT DKI, kita sibuk nerima pesanan ondel-ondel,” kata Maman Setiawan, pendiri
sekaligus pembina sanggar. Sanggar ini sudah berdiri sejak 2008 silam. Di sini,
Maman dan anak-anaknya membina berbagai jenis seni Betawi, mulai dari musik,
tari, teater, bahkan ke arah seni modern, seperti pantomim dan sulap.
Maman
juga mengajari kreasi membuat ondel-ondel. “Bahan (membuat) ondel-ondel itu
bambu untuk kerangkanya. Untuk kedoknya, kita ada yang pakai fiber, terus ada
yang pakai kertas koran, semen. Itu juga kita ajarin anak-anak ini,” kata
Maman. Proses pengerjaan, sampai selesai, menurut Maman satu pasang ondel-ondel
satu minggu. Disinggung soal ondel-ondel “pengamen”, Maman tidak setuju. “Kita
nggak pernah (ngamen). Itu memang terutama kebanyakan dari Jakarta Pusat,
ngamen-ngamen keliling jalan. Anak-anak juga mau ngamen. Saya bilang nggak usah
nak, jangan nak. Kamu malah jatuhkan seni kamu sendiri.”
Menurut Maman,
pengamen ondel-ondel itu salah. “Tapi kita juga nggak nisa ngelarang. Itu kan
maslaah ekonomi. Ada sanggar-sanggar seni Betawi itu yang administrasinya, atau
keorganisasiannya yannng kurang terurus. Itu perorangan biasanya. Jadi, mereka
nggak ada job mau nggak mau kan dia ngamen cari duit, karena kebutuhan,” ujarnya.
Seharusnya, kata Maman, ondel-ondel tetap ada di sanggar. “Jika ada orang
perlu, atau ada kebutuhan, baru kita keluarkan.”
Ondel-ondel di sanggar ini, tak
jarang disewa oleh mal, perkantoran, atau masyarakat untuk even tertentu.
Biayanya, kata Maman, paling minim 3 juta untuk satu grup ondel-ondel.
Sepasang, ondel-ondel buatan Sinar Betawi dihargai 4 juta untuk order ke mal.
“Kalau per orangan, apalagi teman ya 2,5 juta 3 juta kita kasih,” kata Maman.
Harga ini, menurut Maman, mahal dibahan kimia untuk kedok ondel-ondelnya.
“Kedoknya, itu dari resinnya, dari kimianya itu ya. Itu mahal. Kita kalau beli
di orang, beli jadi. Satu muka aja 800 ribu. Belum bambunya. Belum kainnya.
Belum asesoris. Makanya habisnya itu (modalnya) bisa 2,5 juta,” ungkap dia.
Selain membina kesenian Betawi, sanggar ini pun menerima panggilan seni tradisi
lain dan properti seni, seperti keroncong, delman, kembang kelapa, kostum,
samrah, debus, kuda lumping, reog, rampak bedug, barongsai, liong, pantomim,
badut sulap, dan lain-lain.
Ngamen bukan komersialisasi
Jika
ditilik dari sejarahnya, belum pernah ada catatan pasti sejak kapan ondel-ondel
muncul. Menurut budayawan Betawi, Yahya Andy Saputra, ondel-ondel itu nama
aslinya barongan. Artinya, kesenian yang dipentaskan secara rombongan.
“Kesenian ini merupakan ekspresi seni dari seniman terdahulu yang fungsi
utamanya penolak bala. Masyarakat Betawi praIslam menganggap, barongan dengan
ukurannya yang tinggi besar, dengan wajah lelakinya menyeramkan, diyakini
mempunyai kekuatan melawan energi negatif atau kejahatan,” kata pria yang
menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi ini. Yahya menuturkan, ketika satu
kampung terjangkit wabah penyakit atau gagal panen lantaran terserang berbagai
hama, maka tetua kampung memanggil orang pintar meminta nasihat. “Orang pintar
memanggil seniman barongan untuk membantu melaksanakan upacara tolak bala dan
bersih kampung. Sebelum upacara tolak bala, biasanya dilakukan upacara
ngukup—dupa, kemenyan, jampe-jampe, minyak wangi, lisong, beberapa makan
khusus,” kata Yahya, yang pernah menjadi redaktur dan pemimpin redaksi di
beberapa media ini. Upacara ini, lanjut Yahya, khusus untuk memberikan kekuatan
magis kepada seniman barongan yang akan melakukan upacara bersih kampung dan
tolak bala.
Lalu,
apa pendapat Yahya soal ondel-ondel yang mengamen? “Ondel-ondel ngamen? Saya
kira tidak ada yang salah dengan ngamen. Sejak dulu salah satu upaya
menpertahankan diri seniman kesenian tradisional dengan ngamen. Apabila
ondel-ondel ngamen, maka itu upaya kembali ke asal, ke khittah dalam tradisi
NU,” kata Yahya yang juga pernah menjadi dosen Jurusan Pariwisata D3 FISIP
Universitas Indonesia.
Lebih
lanjut, Yahya membenarkan bahwa di era modern seperti sekarang ini, memang
kurang etis jika ada kesenian tradisional yang ngamen. Yahya menjelaskan, hal
ini terkait dengan kebijakan Pemda DKI Jakarta, yang belum berpihak kepada
kesenian tradisional. Apakah ini semacam kurangnya fasilitas berkesenian?
“Fasilitas kesenian di Jakarta bejibun, baik itu milik Pemda maupun swasta.
Hanya saja tidak ada keberpihakan. Pemda tentu sudah zolim dan tidak amanah,
karena belum konsisten menjalankan amanah undang-undang yang ada,” kritik Yahya
berapi-api.
Ditanya
soal komersialisasi budaya, Yahya membantah keras hal itu. “Nggak. Seniman
tradisional nggak kenal komersialisasi. Mereka hanya berusaha survive.
Komersialisasi itu cara pandang kapitalis. Apa yang kelihatan jelas di sinetron
bernuansa Betawi yang kacau-balau, menghina Betawi, melecehkan Betawi, itulah
komersialisasi,” sindir Yahya.
Apakah nanti ondel-ondel
bernasib sama dengan topeng monyet
yang lebih dahulu “diberantas” Pemprov DKI Jakarta karena dinilai menggangu
ketertiban umum
? Yahya memberi tanggapan bahwa, mungkin saja Pemprov sudah berpikir begitu. Tapi,
itu akan menampar muka Pemprov
sendiri. Lalu, bagaimana seharusnya kesenian tradisional, seperti ondel-ondel
ini diurus Pemprov? “Coba
ente bayangin, sudah puluhan tahun Pemda (Pemprov) punya dinas yang ngurusin kesenian dan kebudayaan pada
umumnya, tapi kenapa kesenian tradisional kian merana? Kemudian mati satu demi
satu. Ayo ente pikiri!” sentil Yahya
[].
*Artikel ini ditulis pada awal 2014.

LEAVE A REPLY