Karkono Kamadjaja Partokoesoemo atau lebih dikenal sebagai Kamadjaja lahir di Surakarta pada 23 November 1915. Dia merupakan salah satu penggerak kemerdekaan Indonesia dan aktif dalam bidang politik, salah satunya menjadi anggota PNI. Namun di balik kiprahnya di dunia politik, tidak banyak yang mengetahui bahwa ia juga seorang seniman teater yang aktif di masa pendudukan Jepang.
Sebelumnya, ia bekerja di berbagai media massa. Profesinya sebagai wartawan dijalani dari tahun 1935 sampai 1943, sebelum akhirnya ia terjun ke dalam dunia seni teater. Pada 1935 sampai 1936 Kamadjaja tercatat sebagai wartawan di harian Oetoesan Indonesia di Yogyakarta, lalu harian berbahasa Jawa Sedja Tama Yogyakarta, kemudian di majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat di Surabaya, dan terakhir di majalah berbahasa Belanda Sara Murti di Solo. Pada 1938 sampai tahun 1939, ia bekerja sebagai redaktur di majalah Poestaka Timoer Yogyakarta.
Karirnya sebagai wartawan terus naik, setelah menjadi redaktur di majalah Pustaka Timur ia kemudian menjadi redaktur majalah Pertjatoeran Doenia dan Film di Jakarta pada tahun 1939 hingga Jepang tiba pada awal tahun 1942. Harian Asia Raya adalah surat kabar yang dipimpinnya pada masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari penerbitan ini dan ikut mendirikan Perkumpulan Sandiwara Angkatan Moeda Matahari di Jakarta. Fenomena wartawan menjadi seniman sangat lumrah pada masa ini. Bahkan pada masa kolonial tercatat beberapa mantan wartawan yang kemudian terjun ke dunia teater, contohnya saja Njoo Cheong Seeng dan Andjar Asmara. Mungkin karena pendapatan dari bidang ini lebih ”menggiurkan” ketimbang menjadi wartawan. Atau barangkali para pengusaha yang bergerak dalam kesenian ini memandang bahwa wartawan memiliki visi yang tidak jauh berbeda dengan penulis cerita teater, dan ini akan membuat mutu lakon tersebut menjadi lebih baik.
Kamadjaja termasuk satu dari segelintir orang Indonesia yang memikirkan tentang kemajuan kesenian bangsanya. Badan Pusat Kesenian Indonesia, sebuah organisasi yang dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri dengan tujuan untuk ”menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya dengan jalan menyesuaikan dan memperbaiki kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru”, adalah salah satu wujud dari idenya. Organisasi ini diresmikan pada 6 Oktober 1942, setelah diadakan perembukan antara para budayawan, seniman, dan cendikiawan di kediaman Soekarno, Jalan Orange Boulevard No.11 (sekarang Jalan Diponegoro Jakarta). Kamadjaja duduk sebagai anggota sekretaris merangkap sekretaris eksekutif, bersama dengan Armijn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Winarno. Pemerintah pendudukan Jepang yang tidak menghendaki organisasi ini berkembang, tidak lama kemudian segera membentuk organisasi baru, yang dikendalikan oleh ahli-ahli seni dari Jepang dan Sendenbu (Departemen Propaganda). Organisasi ini diberi nama Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Sebagian besar pengurus organisasi baru ini adalah tokoh-tokoh dari Badan Pusat Kesenian Indonesia. Ini merupakan salah satu cara untuk ”mengambil hati” dan mengadakan kerjasama dengan ahli-ahli kesenian Indonesia. Keimin Bunka Shidosho berdiri pada 1 April 1943 di Jakarta. Hal ini menandakan bahwa Badan Pusat Kesenian Indonesia, yang salah satu pencetusnya adalah Kamadjaja, harus tamat sampai di sini. Tapi semangat Kamadjaja untuk memajukan kesenian Indonesia belum mati sampai di sini. Kamadjaja dan sahabatnya, Andjar Asmara, tidak bersedia duduk di dalam Keimin Bunka Shidosho, dengan alasan bahwa mereka sedang mempersiapkan pembentukan Perkumpulan Sandiwara Angkatan Moeda Matahari, yang peresmiannya hanya lima hari setelah Keimin Bunka Shidosho berdiri.
Pada 6 April 1943, Angkatan Moeda Matahari resmi dibentuk di Jakarta. Kamadjaja duduk sebagai pemimpin dua, mendampingi Andjar Asmara dalam perkumpulan ini. Selain sebagai pemimpin dua, ia juga terkenal sebagai penulis lakon pada perkumpulan ini. Lakon-lakon karyanya yang menjadi ”langganan” untuk dipertunjukan oleh perkumpulan ini di antaranya ”Solo di Waktoe Malam”, ”Miss Neng”, ”Diponegoro”, ”Sampek Engthay”, ”Koepoe-koepoe” dan ”Potong Padi”.
Di beberapa pertunjukan perkumpulan ini, sering terjadi tekanan secara langsung maupun tidak langsung dari pihak pemerintah pendudukan Jepang, lewat Sendenbu. Kamadjaja termasuk orang yang mendapat tekanan secara langsung. Di Majalah Budaya Jaya yang terbit pada tahun 1978, Kamadjaja berkisah soal pengalamannya tersebut. Katanya, ketika perkumpulan ini melakukan pementasan di Semarang, pemimpin Sendenbu di kota tersebut yang bernama Yoshida tiba-tiba menghentikan pertunjukan yang akan dilaksanakan. Ketika perkumpulan ini mengadakan pertunjukan di Semarang, Kamadjaja tidak ada di sana bersama kawan-kawannya. Yoshida yang menghentikan pertunjukan perkumpulan ini berkata, ”itu Kamadjaja sombong, tidak mau tunduk kepala kepada Nippon, dia mesti datang di sini,” dengan nada tinggi. Kamadjaja akhirnya menghadap ke kantor Sendenbu Semarang, setelah perkumpulan ini ”nganggur” selama 3 hari. Yoshida yang ditemui oleh Kamadjaja tidak berbicara apapun, lalu ia membawa Kamadjaja dengan mobilnya. Kamadjaja dibawa ke penginapan Yoshida di Kopeng Kabupaten Semarang, dan mereka berdiskusi sedikit di sana. Akhirnya ketua Sendenbu Semarang itu mengatarnya ke penginapan rombongan perkumpulan ini, dan Yoshida berkata, ”sandiwara boleh main ya, main bagus ya, Kamadjaja jangan sombong!”.
Kamadjaja ”selamat” dari ancaman di Semarang, tetapi tidak Kediri. Di kota ini Kamadjaja hampir menemui ajalnya. Ketika perkumpulan ini mengadakan pertunjukan di kota tersebut, seorang tentara Jepang ”meminta” salah satu artis perkumpulan ini. Kamadjaja sedang berada di Jakarta ketika itu. Andjar Asmara yang memimpin rombongan ini menolak permintaan seorang serdadu Jepang tersebut, dan akhirnya ia harus dibawa ke rumah sakit karena mendapat pemukulan oleh beberapa tentara Jepang lainnya, akibat menolak permintaan salah seorang dari mereka. Kamadjaja berangkat ke Kediri setelah mendapat kabar lewat berita kawat, dan pada pukul setengah tujuh ketika ia tiba di sana, Kamadjaja langsung dibawa oleh tujuh orang anggota Kempetai (baca: polisi militer Jepang yang terkenal kejam) dengan sebuah mobil. Kamadjaja dibawa ke kantor Kempetai Kediri. Di sana ia diperintahkan untuk duduk di lantai oleh pemimpin Kempetai kota itu, tetapi Kamadjaja menolak. Kemudian dengan cepat, ia dibawa kesebuah lapangan di belakang kantor tersebut. Di sana ia dipukuli oleh lima anggota Kempetai, tetapi dalam perkelahian yang tidak seimbang itu Kamadjaja berusaha untuk membela diri. Ia tidak menyerah ketika dipukuli habis-habisan, tetapi melawan dengan menangkis. Akibat perkelahian yang tidak seimbang, Kamadjaja terjatuh. Kemudian sepatu salah seorang Kempetai yang penuh dengan paku diarahkan ke wajahnya. Kamadjaja yang telah terdesak lalu bangkit dan menangkap sepatu anggota Kempetai tersebut, kemudian dengan sisa tenaganya, ia mendorong tubuh Kempetai tersebut hingga tersungkur. Setelah salah seorang dari Kempetai tersebut jatuh, empat anggota lainnya mengepung Kamadjaja dengan bayonet yang siap meregangkan nyawanya. Tapi tidak diduga olehnya, salah seorang Kempetai yang telah jatuh karena didorong oleh Kamadjaja bangkit kembali, dan membungkukkan tubuhnya dengan mengucapkan, ”Arigato gozaimasu! Terima kasih!” katanya dengan singkat. Lalu ia dan empat anggota Kempetai lainnya segera pergi dan kembali ke kantor mereka. Kamadjaja segera meninggalkan tempat itu, setelah seorang Cina yang bekerja sebagai penerjemah menyuruhnya pergi.
Kisah ini mengingatkan kita pada perjuangan Tjak Doerasim, seorang seniman ludruk asal Surabaya yang mati disiksa di dalam tahanan oleh Kempeitai karena pada saat mengadakan pertunjukan ia menyanyikan sebuah tembang yang menyindir pemerintah Jepang, yaitu ”pegupon omahe doro, melu Nippon tambah sengsoro” (pegupon rumah burung merpati, ikut Nippon tambah sengsara).
Sepak terjang Kamadjaja yang ”bandel” tidak hanya berhenti sampai di sini. Ia bahkan pernah nekat mengubah isi lakon teater yang telah diatur oleh Sendenbu dan POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa). Tjahaja Timoer, perkumpulan yang sebelumnya bernama Angkatan Moeda Matahari, melalui Kamadjaja, mengubah isi lakon teater yang telah ditetapkan oleh Sendenbu dan POSD. Tjahaja Timoer tercatat sebagai salah satu perkumpulan yang masuk menjadi anggota POSD, selain Bintang Soerabaja, Noesantara, Warnasari, Sinar Sari dan Miss Tjitjih. Lakon ”Petjah Sebagai Ratna”, karya Kotot Soekardi, diubahnya agar menjadi sebuah lakon yang baik dan menarik. Hinatsu Eitaroo, ketua POSD, marah ketika mengetahui cerita-ceritanya diubah-ubah, sampai akhirnya ia membenci Kamadjaja. Tetapi setelah ia menyaksikan pertunjukannya, ia tidak berkata apa-apa lagi.
Di dunia teater, Kamadjaja benar-benar telah menjadi seorang raja di atas panggung. Raja yang berani mengambil risiko, walaupun nyawa menjadi sebuah taruhan. Kamadjaja telah lama berpulang, 4 Juli 2004. Ia telah meninggalkan bumi yang dicintainya. Namun semangat dan ide-ide tentang kesenian Indonesia yang luhur, dan kemajuan teater Indonesia tidak akan pernah mati. Semoga kita tidak melupakan semua jasanya untuk bumi Indonesia.
Dimuat di Majalah Mata Jendela.






