“Saya suka tulisan Anda di buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, dan masih mencari buku Sandiwara dan Perang. Saya memang pembaca nonfiksi, plus lagi mengumpulkan buku-buku humaniora tentang Indonesia dan sejarah lokal,” kata seseorang bernama ala Rusia, Aldo Zirsov, pada pertengahan Agustus 2015, saat menghubungi lewat pesan di Facebook saya. Esok harinya, saya kirimkan buku Sandiwara dan Perang pesanan Aldo. Sebelumnya, saya mengenal nama ini dari artikel di Pindai.org berjudul “Mencari Jejak Buku yang Hilang” yang ditulis sangat baik oleh Maulida Sri Handayani, persis sehari sebelum ia menghubungi saya via pesan di Facebook.
Setelah hampir dua tahun berkenalan lewat media sosial, malam itu, di awal Maret 2017, saya bertemu Aldo di kediamannya, Jurangmangu, Tangerang Selatan. Pria tegap itu kemudian mempersilakan saya untuk naik ke lantai dua rumahnya.
Di sana, saya menemukan harta Aldo. Buku-buku bertumpuk, tinggi menjulang hingga langit-langit. Ada pula buku-buku yang diletakkan di sebuah ruangan, serta tumpukan DVD film kegemarannya.
“Saya koleksi semuanya ada sekitar 26 ribu buku. Itu ada juga film. Jumlahnya sekitar seribu,” kata Aldo.
Aldo mengatakan, ia sudah mulai suka buku sejak masih duduk di bangku SD. Kemudian, kebiasaan membaca dan mengumpulkan buku dirintisnya sejak SMP. Saat SMA, ia mulai keranjingan karya-karya novel macam Sidney Sheldon.

“Waktu merantau ke Jakarta. Saya mengontrak di daerah Benhil. Sekitar tahun 1998. Saya menyewa dua ruangan. Satu untuk kamar tidur. Satu untuk buku-buku,” katanya.
Aldo bukanlah seorang penulis. Ia bukan pula lulusan sastra atau sejarah. Ia seorang auditor. Lulusan akuntansi. Lantas, meraih magister dari University of Denver. Aldo penggila buku. Buku-buku itu ia kumpulkan dari beberapa tempat. Setiap satu tahun, ia bisa mengumpulkan sekitar 500 eksemplar buku.
“Jika dirata-rata, sebulan saya membeli 45 buku. Saya biasa berburu di Senen, atau memesan online,” katanya.
Pria Minang ini juga menjadi pengurus di situs para penggemar buku, Goodreads. Aldo pun banyak bergaul dengan orang-orang perbukuan. Termasuk berkawan akrab dengan Ronny Agustinus dari Marjin Kiri dan Daud yang terkenal sebagai penjual buku-buku lawas dan langka. Tak jarang, Aldo juga diundang menjadi pembicara di sejumlah kesempatan terkait buku, serta menjadi tempat bertanya banyak orang perihal buku.

Aldo berkisah soal buku-bukunya yang pernah hilang saat ia mengapalkan buku-bukunya dari Amerika Serikat ke Indonesia. Saat itu, pada rentang 2004 hingga 2007, setiap dua hingga tiga bulan, ia mengirim buku-bukunya ke kerabat di Indonesia. Selama rentang waktu tersebut, jumlah buku yang dikirimkan sekitar tiga ribu.
“Nah, ketika di Tanjung Priok, buku-buku itu hilang. Mungkin ada sekitar 800 hingga ribuan,” katanya.
Ada cap, tanda khusus di buku Aldo: “Aldo Zirsov, University of Denver, Colorado”. Di Jakarta, Aldo menemukan banyak bukunya di kawasan selatan. Sedangkan di Bandung, buku-buku Aldo dijual di Reading Lights, sebuah toko buku bahasa Inggris di Jalan Siliwangi.
Obrolan kami lalu menyusur acak. Saya mengisap lima batang rokok selama berdiskusi. Ia berkisah banyak hal menyangkut penerbitan, dan rencana penelitian saya ke depan.
Mata saya menyapu koleksi Aldo. Saya menemukan beberapa buku yang saya cari-cari. Buku Melacak Perkembangan Seni di Indonesia karya Claire Holt dan Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata karya Soedarsono ada dalam tumpukan buku milik Aldo. Aldo bahkan memiliki versi asli buku Claire Holt, Art in Indonesia.
Kini, sedang mengumpulkan buku-buku dari sejumlah daerah di Nusantara. Menurutnya, buku yang sifatnya lokal sangat perlu ada. Sebab, sejarah lokal penting. Begitu katanya.
“Sebentar, ya,” kata dia, pamit menuju ruangan berisi buku-buku. “Ini buat kamu.”
Sebuah buku berjudul A Brief Cultural History of Indonesian Cinema diberikan kepada saya sebagai buah tangan. Buku bersampul hitam ini berisi perjalanan film Indonesia, meski tak secara detail dibahas. Isinya lebih memuat poster dan foto-foto adegan film yang terbagi ke dalam empat periode. Ada pula esai ringkas dari Slamet Rahardjo Djarot dan Riri Riza.






