Riwayat Sandiwara Penggemar Maya 1944-1950 (Bagian Ketiga-tamat)

Pada 6 Agustus 1945, pesawat bomber B-29 Enola Gay yang diawaki oleh Kolonel Paul Tibbets Jr melepaskan satu bom atom “Little Boy” ke kota Hiroshima. Berikutnya, pada 9 Agustus 1945 giliran kota Nagasaki dihantam bom atom “Fat Man” dari pesawat bomber Boeing B-20 Superfortrss Bock’s Car yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney. Porak-poranda. Jepang hancur dalam sekejap. Atas insiden yang mengerikan tersebut akhirnya Jepang menyerah[1] tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.


Di Indonesia sendiri terjadi facum of power alias kekosongan kekuasaan. Pejuang kemerdekaan Indonesia akhirnya memanfaatkan kesempatan ini untuk mendeklarasikan kemerdekaan, yang proklamasinya terealisasi pada 17 Agustus 1945. Para seniman sandiwara turut ambil bagian untuk mengabarkan berita kemerdekaan Indonesia ini ke masyarakat. Usmar Ismail dan kawan-kawannya yang kebanyakan mantan pegawai Keimin Bunka Shidosho, seperti Rosihan Anwar, Suryo Sumanto, Hamidy Djamil, dan Djayakusuma, membentuk Seniman Merdeka. Seniman Merdeka merupakan sandiwara keliling. Mereka mempertunjukkan sandiwara dengan menaiki sebuah truk, mendatangi tiap sudut kota Jakarta dan memberikan hiburan kepada rakyat, dengan tujuan utama membakar semangat rakyat untuk melawan tentara penjajah[2] yang berusaha menguasai kembali Indonesia (Anwar dalam Budaya Jaya, 1974: 199).
Anggota Maya sempat berpisah pada masa revolusi fisik. Usmar sendiri pindah ke Yogyakarta, dan ia masuk dinas kemiliteran. Kegiatan Maya berlanjut pada 1949 di Jakarta. Tujuan pertunjukan selain memberi hiburan juga menggelorakan semangat perjuangan rakyat. Saat itu, Jakarta masih diduduki oleh tentara Belanda. Lakon yang akan dipertunjukan adalah “Api” karangan Usmar Ismail sendiri. Pementasannya berlangsung pada Maret 1949 (Anwar, 1974: 200). Setelah itu, Maya kembali mementaskan kembali lakon Insan Kamil pada April 1949. Akhir tahun 1949, aktifitas Maya vakum sama sekali di dunia panggung. Anggota-anggotanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Usmar sendiri mulai memasuki dunia film yang memang menjadi obsesinya sejak dahulu. Pada 1955, Usmar bersama dengan D.Djadjakusuma dan Asrul Sani mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) (Sumardjo, 2004: 150). Dengan demikian, bubarlah Perkumpulan Sandiwara Penggemar Maya. 

Begitulah reputasi Maya. Ia menjadi model perkumpulan teater modern selanjutnya. Maya telah dipimpin oleh seorang sutradara dalam setiap pementasannya, pemainnya patuh pada lakon, lakonnya mengambil cerita semangat jaman, dan panggungnya telah mengikuti jaman. Ini sangat berbeda dengan model perkumpulan lain yang ada sebelum Maya berdiri. Tidak salah jika Rosihan Anwar menjuluki Maya sebagai Avantgarde-nya teater modern Indonesia.
H.B. Jassin (1955: 77) menyebutkan bahwa:”….Karangan-karangan sandiwara El Hakim (Dr. Aboe Hanifah): Taoefan di Atas Asia, Intelek Istimewa dan Dewi Reni, adalah pedang-pedang mata dua yang penuh berarti bagi bangsa Indonesia, kalau suka membaca, melihat atau mendengar filsafat yang diuraikan dalamnya dengan mata dan telinga Indonesia” (Jassin, 1955: 77). Artinya jika pembaca atau penonton paham, lakon-lakon El Hakim justru berisi perlawanan terhadap Jepang dan perjuangan untuk Indonesia merdeka. Begitupun karya-karya lainnya. Penulis di sini akan membahas beberapa lakon Maya yang sarat akan muatan nasionalisme dan dipentaskan sebagai perlawanan terselubung kepada pemerintah fasis Jepang.
Lakon-lakon Maya intinya selalu menggambarkan cita-cita perjuangan Maya: kebangsaan, kemanusiaan, dan ketuhanan. Karya-karya lakon Abu Hanifah alias El Hakim, seperti ”Taufan di Atas Asia”, ”Intelek Istimewa”, dan ”Dewi Reni”, jika diperhatikan baik-baik, kaya akan muatan nasionalisme. Lakon ”Taufan di Atas Asia” berkisah tentang situasi di Singapura dan Jakarta menjelang Perang Pasifik. Tokoh utamanya seorang Indonesia bernama Abdul Azaz. Dia pebisnis di Singapura. Bersama dua orang temannya asal Cina, Cheong Fung, dan asal India, Sadhar Khan, merbincang soal kedatangan pasukan Jepang ke Singapura. Di Jakarta, K.H.Mualim, Dr. Kamil, Mr. Taha, teman-teman Inderawati (istri Abdul Azaz), dan Mr. Adikusuma yang aktif dalam pergerakan juga membicarakan hal yang sama. Jika ditilik, lakon ini sesungguhnya menganjurkan persatuan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Perhatikan petikan lakonnya:
M. Saman: …Dan sudah sepatutnya kaum nasional perlu mengadakan perdekatan kepada kaum Islam, lebih-lebih yang tergabung dalam organisasi. Untung hal inipun sudah diinsyafi, dan nampaknya pendekatan itu mulai nyata. Saya dengar kabar, bahwa sebahagian besar dari golongan nasionalis dari Majelis Rakyat Indonesia hendak meminta pemuka Muhammadiyah jadi pemuka Dewan Majelis Rakyat Indonesia. Apa betul?
Dr. Kamil: Kabar itu belum saya dengar.
Mr. Taha: Saya tahu, bahwa memang ada satu partai besar golongan nasional berniat begitu.
M. Saman: Kalau begitu, mulailah nampaknya pekerjaan bersama-sama dalam praktik antara kaum nasional dan umat Islam. Memang sudah patut persaudaraan itu dianjur-anjurkan dan dipraktekkan. (Hakim, 1949: 122).
Lakon karya Abu Hanifah yang menyiratkan cita-cita nasionalisme lainnya adalah ”Dewi Reni”. Lakon ini berkisah tentang Dr. Abdullah Hasjim, Mr, Nahar Tohir, Harlono, Adiasmara, dan Ukar Sumodikromo yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Dewi Reni. Mereka berusaha merebut hati Dewi Reni, namun sesungguhnya Dewi Reni telah menetapkan tambatan hatinya kepada Dr. Abdullah Hasjim. Lakon ini dipentaskan untuk menyambut Janji Koisho[3] September 1944. Lakon ini sempat dicekal Badan Sensor Jepang yang menganggap isi cerita tidak sesuai dengan propaganda Jepang. ”Dewi Reni” sendiri sesungguhnya merupakan perlambang ibu pertiwi. Abu Hanifah lebih berani memuat pesan kemerdekaan Indonesia dalam lakon ini. Lihat saja petikan lakon ini:
Dewi Reni: Esok hari kita rayakan lagi hari Indonesia Merdeka, tapi sebenarnya tiap hari, tiap detik pembaktian adalah perayaan hari Indonesia Merdeka.
Harlono: Terasa betul oleh saya ucapan Dewi Reni itu.
Ukar: Ya, benar. Terasa juga oleh saya, bahwa hal itu tidak salah (Hakim, 1949: 118).
Indonesia di sini disimbolkan sebagai Dewi Reni. Sedangkan para pemuda yang ”mengejar-ngejar” Dewi Reni adalah rakyat Indonesia yang mencintainya. Lakon ”Intelek Istimewa” berkisah tentang manusia dalam beberapa profesi. Tokoh utamanya, Dr. Taha Kamil, seorang kepala rumah sakit Sudiwaras. Ia mempunyai prinsip ”pengetahuan adalah kekuasaan”. Temannya, Dr. Abdul Hak, merupakan pengurus di bidang pertanian dan perikanan, dianggap tidak berguna melecehkan tugas dokter. Dr. Abdul Hak sendiri merupakan personifikasi Abu Hanifah yang tidak melulu mengurusi soal kedokteran, tapi tetap mengurusi bidang lain, seperti sandiwara, sastra, dan pemuda. Abu Hanifah memasukkan pesan agar kaum intelektual harus berperan di segala bidang, karena mereka lah harapan untuk menyongsong jaman kemerdekaan Indonesia.
Usmar Ismail juga rajin membuat lakon yang sesungguhnya menyindir Jepang. Lakon-lakon tersebut adalah ”Mutiara Dari Nusa Laut” dan ”Liburan Seniman”. Lakon ”Mutiara Dari Nusa Laut” berkisah tentang peperangan yang terjadi pada awal abad ke 19, antara Bangsa Belanda dengan Indonesia di Kepulauan Maluku. Naskah sandiwara ini juga termuat dalam majalah Keboedajaan Timoer No.II tahun 1944. Lakon ini tidak dipertunjukkan di panggung, namun disiarkan melalui radio. Lakon ini sendiri bercerita tentang sejarah yang benar-benar terjadi. Jepang menyetujui lakon ini karena memuat kebencian terhadap bangsa Belanda (musuh Jepang). Namun, yang menarik, lakon ini justru merupakan ”pedang bermata dua”. Dalam lakon ini terselip perjuangan melawan penjajah yang digerakkan seorang gadis, yang menjadi pahlawan nasional, Christina Martha Tiahahu. ”Liburan Seniman” berkisah tentang Suromo yang bekerja di perusahaan dagang Hasan Kaisha. Ia bercita-cita menulis naskah sandiwara yang akan dipentaskan bersama teman-temannya. Diceritakan kesulitan mementaskan lakon ”Kebangkitan”. Akhirnya berkat kerja keras, pementasan berjalan sukses. Pesan nasionalismenya terselip dalam dialog yang dikatakan Suromo: ”Asal kita tahu, kita berusaha dengan bersungguh-sungguh. Karena semua tidak lain adalah alat belaka untuk mencapai cita-cita, menuju kemuliaan Nusa dan Bangsa (Ismail, 1958: 166).
Selain Dewi Reni yang sempat dicekal, lakon-lakon Maya yang lainnya lumayan ”aman” dari Badan Sensor Jepang. Mengapa? Karena terselip sejarah dalam cerita-ceritanya. Dan yang terpenting, membayangkan Asia Raya. Oleh karena itu, lakon-lakonnya di golongkan Jepang sebagai naskah sandiwara propaganda. Djajakusuma sendiri mengatakan bahwa, ”Maya tidak pernah memainkan cerita-cerita propaganda, tidak pernah. Tapi dibeberapa ceritanya El Hakim, ya memang sudah membayangkan kebesaran Asia kelak. Ya, ada Asia Timur Raya juga, tapi implisit sampai menyatakan di bawah pimpinan Jepang, itu sama sekali tidak ada.” (Djajakusuma dalam Abdullah dkk, 1993: 285). Karangan El Hakim, yaitu “Taufan di Atas Asia”, “Intelek Istimewa”, dan “Dewi Reni” justru merupakan sebuah sindiran terhadap Jepang, yang berjanji akan membawa keadilan dan kemakmuran di tanah Asia (Jassin dalam Ismail, 1958: 6-7).
Daftar Pustaka
Surat Kabar dan Majalah
Asia Raya, 29 Januari 2605.
Asia Raya, 6 Februari 2605.
Asia Raya, 9 Maret 2605.
Asia Raya, 24 Maret 2605.
Asia Raya, 2 Mei 2605.
Asia Raya, 2 Februari 2605.
Asia Raya, 6 Februari 2605.
Asia Raya, 10 Februari 2605.
Asia Raya, 20 Februari 2605.
Asia Raya, 14 Juni 2605.
Asia Raya, 28 Juni 2605.
Asia Raya, 6 Februari 2605.
————-, 9 Maret 2605.
————-, 24 Maret 2605.
————-, 2 Mei 2605.
————-, 14 Juni 2605.
Kan Po. No.12, Th.II. Februari 2603.
Keboedajaan Timoer No.II Tahun 1944.
Artikel dalam Surat Kabar dan Majalah
Anwar, Rosihan. 1973. ”Sekelumit Kenang-kenangan Kegiatan Sastrawan di Zaman Jepang (1943-1945)”, Budaya Jaya. No. 65. Th 6. Oktober 1973.
———————. 1974. ”Usmar Ismail yang Saya Kenal dan Cita-cita Film Nasionalnya”, Budaya Jaya. No. 71. Th 7. April 1974.
Ismail, Usmar. 1948. ”Meletakkan Dasar-dasar Baru”, Mimbar Indonesia. No. 7. 14 Februari 1948.
—————-.1949. ”Sandiwara Indonesia dan Masjarakat”, Indonesia. No. 1. Th 1. 1949.
Hakim, El. 1949. ”Tjitra Bayangan di Waktu Fadjar”, Mimbar Indonesia. No. 46. Th 3. 12 November 1949.
Jassin, HB. 1949.”Sandiwarapenggemar Maya”, Mimbar Indonesia. Th I. 9 April 1949.
Buku
Abdullah, Taufik et al. 1993. Film Indonesia Bagian I (1900-1950). Jakarta: Dewan Film Nasional.
Anwar, Rosihan. 1983. Menulis Dalam Air Di Sini Sekarang Esok Hilang; Sebuah Otobiografi. Jakarta: Sinar Harapan.
Jassin, H.B. 1955. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay. Djakarta: Gunung Agung.
Hakim, El. 1949. Taufan di Atas Asia dan Tiga Buah Sandiwara Lain: Intelek Istimewa, Dewi Reni, Insan Kamil. Djakarta: Balai Pustaka.
Hutari, Fandy. 2009. Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Akitifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (1942-1945). Yogyakarta: Ombak.
Ismail, Usmar. 1958. Lakon-lakon Sedih dan Gembira. Djakarta: Balai Pustaka.
Lebra, Joyce C. 1988. Tentara Gemblengan Jepang (terj.). Jakarta: Sinar Harapan.
Oemarjati, Boen S. 1971. Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia. Djakarta: Gunung Agung.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid VI. Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka.
Proyek Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan RI dan Fakultas Sastra Unpad. 1978-1979. Sejarah Radio Indonesia. Bandung: Proyek Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan RI dan Fakultas Sastra Unpad.
Sumardjo, Jakob. 2004. Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: STSI Press.
Internet
www.tamanismailmarzuki.com diunduh pada September 2007

[1] Jepang menandatangani surat penyerahan di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo pada 2 September 1945.
[2] Rosihan mencatat, waktu itu tentara Sekutu di bawah Letnan Jenderal Christison telah mendarat di Jakarta (Anwar, 1974: 199).
[3] Janji Koisho merupakan janji perdana menteri Jepang Koisho Kuniaki yang akan memberikan kemerdekaan Indonesia di kemduian hari pada 7 September 1944. Koisho maju menggantikan Tojo. Ia melakukan itu untuk merebut kembali hati rakyat Indonesia yang sudah semakin tidak percaya terhadap Jepang (Posponegoro dan Notosusanto, 1993: 66; Lebra, 1988: 99).
Dimuat www.indonesiaseni.com 5 Juni 2010.

LEAVE A REPLY