Ihwal Buku Panggoeng Giat Gembira


Saat penelitian tentang sandiwara modern masa pendudukan Jepang, ada satu buku yang banyak memberikan data menarik soal propaganda sandiwara modern masa ini. Buku tersebut berjudul “Panggoeng Giat Gembira; Koempoelan Sandiwara dan Leloetjoen”.



Buku ini terbit sebanyak tiga jilid selama masa pendudukan. Buku ini diterbitkan oleh Djawa Hookookai Keimin Bunka Shidosho pada tahun 1945 awal. Penulis lakon sandiwara propaganda dalam buku ini semuanya orang Indonesia, baik penulis baru maupun lama, di antaranya Asia Poetera (nama samaran Armijn Pane), Ananta Gs, D. Djojokoesoemo, A. Kartahadimadja, Kotot Soekardi, A. Subyanto, Anak Masjarakat (?), dan Aki Panjoempit. Terdapat 11 karya lakon sandiwara propaganda dalam ketiga jilid buku ini.


Dari 11 karya tadi, diantaranya adalah sandiwara dengan “modus sajian” komedi, yang pada masa ini disebut sebagai “sandiwara leloetjon”. Ciri dari sandiwara lelucon adalah merupakan lakon pendek, biasanya terdiri dari 1 babak, pemain utama adalah seorang penduduk yang bodoh tetapi berhati baik dengan seorang bijaksana yang memberi penerangan mengenai kebijakan dan peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah.


Pesan Propaganda
Pada jilid I buku ini terdapat empat karya lakon sandiwara, yaitu “Kami, Perempoean” karya Asia Poetra (nama samaran Armijn Pane), “Bekerdja!” karya Ananta Gs, “Djarak” karya D. Djojokoesoemo, dan “Gendoet dan Kampret” karya A. Kartahadimadja. Lakon “Kami, Perempoean” karya Asia Poetra menceritakan tentang semangat untuk masuk Tentara Pembela Tanah Air, dan kerelaan keluarga yang ditinggalkannya. Cerita dimulai dari pertengkaran Sri dengan tunangannya, Soepono, karena tunangannya tersebut dinilai terlalu penakut karena tidak berbuat apa-apa dalam masa peperangan.


Suami Aminah, Mahmoed, juga sedang kebingungan untuk mengatakan sesuatu tentang masalah yang sedang ia hadapi kepada istrinya. Pada akhir cerita dikisahkan bagaimana gembiranya Aminah, istri Mahmoed, dan Sri, tunangan Soepono, setelah mengetahui bahwa keduanya telah mendaftarkan diri sebagai anggota Tentara Pembela Tanah Air (Peta). Rupanya Mahmoed dan Soepono tanpa sepengetahuan istri dan tunangannya, telah mendaftarkan diri sebagai anggota Peta. Tetangga mereka, Soeharto dan Arifin, merasa iri kepada Mahmoed dan Soepono, karena mereka tidak bisa ikut masuk ke dalam Peta. Lakon sandiwara lelucon “Bekerdja!” berkisah tentang kewajiban bekerja keras pada masa perang. Cerita diawali dengan perdebatan dua tokoh yang bertolak belakang, Pak Gendoet yang mempunyai sifat pemalas dengan Pak Djangkoeng yang rajin bekerja.


Bang Djangkoeng sering mengajak Pak Gendoet untuk bekerja, tetapi dengan banyak alasan Pak Gendoet selalu menolaknya. Diakhir cerita Pak Gendoet sadar akan manfaat bekerja setelah mendapat nasihat dari Pak Kumicho, seorang yang dihormati sebagai kepala Tonarigumi (Rukun Tetangga).
Lakon “Djarak” mengisahkan tentang perdebatan dua orang desa bernama Pak Bopeng dan Pak Tembak. Pak Bopeng berkarakter bodoh sedangkan Pak Tembak seorang yang cerdas. Keduanya adalah petani buah jarak. Pak Bopeng yang tidak mengerti manfaat buah jarak diberi nasihat oleh Pak Tembak.



Sebelumnya Pak Tembak menjelaskan tentang pentingnya minyak dari biji jarak kepada Pak Bopeng, sebagai alat lincir pesawat perang pemerintah Jepang. Dalam lakon ”Gendoet dan Kampret” pesan propagandanya tergambar pada nasehat yang diberikan oleh Kumicho, seorang kepala kampung dalam Tonarigumi, dan Kucho, seorang kepala desa, kepada Pak Gendoet. Diceritakan bahwa Pak Gendoet adalah orang yang selalu berfoya-foya, kerjanya hanya main dadu dan pergi ke ronggeng, sehingga kurang memperhatikan keluarganya. Anaknya, Gendoet, membolos sekolah dan ketahuan oleh Kumicho sedang main kelereng bersama Kampret, sedangkan istrinya kehabisan uang belanja, karena duitnya habis untuk main dadu dan ronggeng.


Pak Gendoet dinasehati agar memperhatikan pendidikan anaknya, ia diberi contoh supaya meniru Bang Saripin yang anaknya jadi guru, dan Bang Moein yang anaknya jadi Heiho.Dalam jilid II hanya terdapat tiga karya saja, yaitu “Koesoema Noesa” karya Kotot Soekardi, “Ajoo…Djadi Roomusha!” karya Ananta Gs, dan “Awas Mata-Mata Moesoeh” karya D. Djojokoesoemo. Lakon ”Koesoema Noesa” karya Kotot Soekardi berkisah tentang kehidupan keluarga yang sedikit guncang. R. Handiman, bekas orang pergerakan menderita tekanan bathin karena mempunyai seorang anak laki-laki, Hartomo, yang bersikap masa bodoh dalam situasi perang, sedangkan ia juga mempunyai seorang pembantu, Amat, yang cintanya terhadap tanah air berkobar-kobar.


Hardjanti, anak R. Handiman dan adik Hartomo, juga mempunyai seorang kekasih, Oetojo, yang bersikap acuh terhadap keadaan perang. Kegembiraan datang ketika R. Handiman dan Hardjanti mengetahui kalau Hartomo telah masuk ke dalam Heiho, Amat menjadi Kaigun Heiho, dan Oetojo juga menjadi Heiho. Mereka menganggap pemuda-pemuda ini sebagai pahlawan pembela nusa. Lakon ”Ajoo…Djadi Roomusha!” karya Ananta Gs pesan propagandanya terlihat ketika tokoh Pak Gendoet, Toean Moeda, dan Pak Krempeng gembira setelah mendaftarkan diri sebagai Romusha sukarela.


Pada awalnya terkesan mereka sedikit terpaksa untuk mendaftarkan diri menjadi Romusha. Lakon ini memberi penerangan tentang kegembiraan dalam bekerja secara sukarela (menjadi Romusha) untuk memperkuat pertahanan di garis belakang. Lakon ”Awas Mata-mata Moesoeh” karya D. Djojokoesoemo ingin menjelaskan tentang salah satu penerangan/kebijakan pemerintah, yaitu waspada terhadap mata-mata musuh. Penerangan tentang hal itu dilambangkan dengan perkelahian antara dua orang desa, Mpok Moot dan Mpok Botak, dalam memperebutkan daun pisang. Selain itu, pesan ini juga coba disampaikan melalui perseteruan antara seorang penduduk kaya tetapi egois, Pak Saman, dan warga desa. Dari dialog yang dihadirkan, berkali-kali tersebut ”Awas Mata-mata Moesoeh”, dan menyebutkan ciri-ciri dari mata-mata musuh, seperti mementingkan diri sendiri, merusak dan menjerumuskan bangsa sendiri, suka mengintai, suka mencelakakan orang banyak, selalu membuat keributan, suka mengadu.


Dalam lakon ini juga diterangkan bagaimana menghadapi mata-mata musuh, yang dilambangkan dengan persatuan antar warga desa untuk menghadapi ketamakan Pak Saman.Pada jilid III buku ini terdapat empat buah lagi karya lakon sandiwara propaganda, yaitu ”Lolobis” karya A. Subyanto, ”Huzinkai” karya Anak Masjarakat, ”Bebek Bertoeah” karya Aki Panjoempit, dan ”Kembali dari Medan Perang” karya Ananta Gs. Lakon ”Lolobis” diawali dengan keluhan beberapa tokoh cerita, Djaja, Mak Idjah, Oedjang, dan Parta akan nasibnya yang selalu susah. Mang Bongkok, tetua kampung yang selalu diminta nasehat, menjelaskan kalau penyebab kesusahan itu adalah adanya perang.


Lebih lanjut Mang Bongkok mengatakan bahwa kalau perang usai dan Jepang menang, nasib menjadi lebih baik. Untuk membantu kemenangan perang bagi Jepang, kemudian Djaja dan Oedjang menjadi Romusha, sedangkan Parta menjadi petani yang giat bekerja. Lakon ”Huzinkai” menyampaikan pesan tentang pengenalan pekerjaan dalam himpunan Huzinkai sebagai badan Hokokai yang berjuang di garis belakang. Lakon ini berkisah mengenai Soeharti yang masuk ke dalam Perkumpulan Huzinkai. Huzinkai adalah perkumpulan khusus untuk kaum wanita, yang bertujuan membantu perang lewat garis belakang, dengan cara menyerahkan perhiasan kepada pemerintah untuk keperluan perang, memberi semangat kepada para ibu dari Heiho dan Peta, memberi pendidikan untuk memberantas buta huruf, dan lain-lain.


Lakon ”Bebek Bertoeah” menyampaikan pesan tentang nilai kebaktian rakyat dalam membantu urusan umum (perang). Berkisah mengenai seorang yang kaya raya tetapi kikir dan acuh terhadap keadaan perang. Cerita diawali oleh kegelisahan Pak Djoeriah, penduduk kaya tetapi kikir, karena bebeknya tidak mau bertelur. Karena tidak menghasilkan telur, kemudian bebek itu diberikan kepada Saenan, seorang tetua desa dan pembantu Kutyo (kepala desa). Setelah bebek itu diberikan kepada Saenan, bebek tersebut tidak berhenti bertelur. Kutyo (kepala desa) dan Saenan kemudian datang ke rumah Pak Djoeriah untuk memberi tahu hal tersebut.


Pak Djoeriah bingung karena ketika di rumahnya, bebek itu tidak mau bertelur. Karena sindiran, Pak Djoeriah sadar, atau terpaksa sadar, akan pentingnya berkorban menyumbangkan sebagian hasil bumi bagi pemerintah. Akhirnya Pak Djoeriah menyerahkan padinya untuk pemerintah. Ternyata bebek tersebut Cuma akal-akalan dari Saenan dan Kutyo saja untuk menyadarkan Pak Djoeriah. Lakon “Kembali dari Medan Perang” mengisahkan tentang sebuah keluarga yang ketiga putranya ikut dalam peperangan, sebagai prajurit Heiho dan Peta. Hamid yang kembali dari medan pertempuran di Birma bercerita tentang nasib kakaknya, Samad, yang tewas ditangan tentara Sekutu. Ayah, kedua mertua, dan istri Samad merasa bangga akan kematian Samad, mereka menganggap Samad mati sebagai prajurit yang gagah berani, berkorban untuk kemakmuran Asia Timur Raya dan kemenangan akhir.


Pada akhir cerita adik Hamid, Sarip, mendaftarkan diri menjadi anggota tentara Peta.Lakon-lakon yang ada di dalam buku ini hanya berkisar 1 babak saja. paling banyak 2 babak, yaitu lakon “Koesoema Noesa” karya Kotot Soekardi. Kalau ditilik dari sedikitnya pembabakan, terlihat sekali maksud dari penulisan buku ini tidak dikhususkan untuk membuat suatu karya lakon yang bernilai seni tinggi, tetapi lebih di arahkan pada sampai atau tidaknya pesan propaganda. Oleh sebab itu diciptakan lakon sandiwara sesingkat dan sepadat mungkin. Jika disimpulkan, kesebelas lakon itu berkisar pada masalah anjuran memasuki organisasi semi-militer, pentingnnya bekerja untuk pemerintah, pentingnya hasil bumi bagi pemerintah, pentingnya memperhatikan kelaurga dalam masa peperangan, mengabdi pada pemerintah, berkorban jiwa dan raga demi kemenangan perang, dan anjuran masuk Romusha (Pekerja Sukarela).


Berkarya dalam Perang
Lazim memang karya-karya semacam ini hadir pada masa pendudukan Jepang. Di luar karya-karya dalam buku ini, juga masih banyak lagi karya lakon sandiwara yang bertema propaganda pemerintah. Karya-karya tersebut termuat dalam majalah dan surat kabar pada masa ini. Di samping banyak karya yang mendukung kebijakan pemerintah, pada masa pendudukan Jepang ini hadir pula karya yang sebenarnya “melawan” keberadaan Jepang. H.B. Jassin (1955) menyebutkan bahwa ”karangan-karangan sandiwara El Hakim (Dr. Aboe Hanifah), ”Taoefan di Atas Asia”, ”Intelek Istimewa”, dan ”Dewi Reni”, adalah pedang-pedang mata dua yang penuh berarti bagi bangsa Indonesia, kalau suka membaca, melihat, atau mendengar filsafat yang diuraikan dalamnya dengan mata dan telinga Indonesia”.


Artinya jika pembaca atau penonton paham, lakon-lakon El Hakim justru berisi perlawanan terhadap Jepang dan perjuangan untuk Indonesia merdeka. Bahkan Amal Hamzah menciptakan lakon berjudul ”Tuan Amin”, untuk menyindir keberadaan Armijn Pane dalam Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Amal menyindir Armijn dengan sebutan Tuan Amin, sedangkan Keimin Bunka Shidosho dilambangkan dengan sebuah kantor, ia juga menyebutnya sebagai ”Roemah Gila”. Karya Amal Hamzah ini memang tidak pernah hadir pada masa pendudukan Jepang, karena sensor pemerintah yang ketat, karyanya baru termuat dalam majalah Pembangoenan pada 25 April 1946.


Propaganda yang Salah Alamat
Sebenarnya propaganda Jepang ini salah alamat. Kalau merujuk pada isi naskah lakon dalam buku Panggoeng Giat Gembira terlihat sekali sasarannya adalah rakyat dari kalangan menengah ke bawah (rakyat mayoritas di negeri ini). Terutama bagi mereka yanga da di desa-desa. Namun target mereka untuk meraih simpati dari rakyat desa ini boleh jadi tidak tersentuh lewat karya lakon yang termuat dalam buku ini. Dugaan saya, kebanyakan dari mereka yang justru dapat menyentuh karya-karya yang terdapat dalam buku ini, atau bahkan yang terdapat di media-media massa, adalah dari kalangan terpelajar. Sedangkan rakyat desa, mayoritas pada masa ini masih buta-huruf, dan tidak bisa membeli, apalagi “menikmati”, buku kumpulan lakon sandiwara ini.

LEAVE A REPLY