Mengunjungi Manusia Pawon

Ada keindahan purbakala di balik bukit yang tergerus pertambangan batu di Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Situs Gua Pawon menawarkan pengalaman wisata yang seakan menghapus sesaknya debu dari bongkahan batu-batu bukit yang diangkut truk-truk besar.

*

Bandung memang terkenal dengan wisata belanjanya. Di kota yang dijuluki Paris van Java ini, setiap akhir pekan para wisatawan yang mayoritas dari Jakarta pasti menyerbu distro, outlet, kafe, ataupun mal yang bertebaran.

Namun, di balik wisata belanja tadi, Bandung memiliki destinasi wisata purba yang patut dikunjungi: Gua Pawon. Tempatnya memang agak jauh dari pusat kota. Gua Pawon juga mungkin kalah tenar dengan objek wisata alam lainnya yang ada di dekat pusat Kota Bandung, semisal kawasan kebuh teh di Lembang atau Kawah Putih Ciwidey. Tapi Anda pasti tertegun jika berkunjung ke sana.

Untuk mengunjungi Gua Pawon, dari Jakarta, saya dan seorang kawan memilih moda transportasi massal yang cepat dan murah meriah: kereta api ekonomi. Dari Stasiun Senen, Jakarta, kami turun di Stasiun Cimahi. Lalu, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kereta rel diesel (KRD) ekonomi ke Stasiun Padalarang.

Tak jauh dari stasiun, kami naik angkutan kota berwarna kuning jurusan Padalarang-Rajamandala. Sekitar 40 menit perjalanan kami turun persis di gapura besar berwarna hitam di pinggir Jalan Raya Ciburuy-Padalarang. Gapura ini merupakan petunjuk untuk masuk ke kawasan Gua Pawon. Dari sini, kami harus berjalan kaki.

IMG_6423
Gapura pinggir jalan. Penanda jalan masuk menuju Gua Pawon/Fandy Hutari

Perjalanan yang kami tempuh memakan waktu sekitar 30 menit dari pinggir jalan tadi. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan berupa bukit-bukit batu raksasa, truk-truk pertambangan batu, dan rumah-rumah penduduk yang tersapu debu bongkahan batu.

Truk pengangkut bongkahan batu/Fandy Hutari
Truk pengangkut bongkahan batu/Fandy Hutari

Diperlukan stamina ekstra untuk berjalan kaki menuju Gua Pawon, karena jalannya yang mendaki dan menurun. Disarankan pula membawa masker, untuk menjaga pernapasan kita dari debu-debu bongkahan batu pertambangan.

Petunjuk akhir menuju Gua Pawon adalah semacam papan berwarna cokelat yang bertulis “Selamat Datang di Objek Wisata Situs Guha Pawon”. Sayang sekali papan ini sudah kotor coretan tangan-tangan jahil.

Papan petunjuk yang penuh coretan/Fandy Hutari.
Papan petunjuk yang penuh coretan/Fandy Hutari.

Dari sini, napas yang tersengal bisa agak lega. Sebab, loket Gua Pawon sudah dekat dan hanya berjalan kaki lurus saja sekitar 300 meter. Hanya membayar tiket sebesar Rp 5.500 kita bisa menyusuri Gua Pawon yang konon pernah ditinggali manusia purba itu.

Loket Gua Pawon/Fandy Hutari.
Loket Gua Pawon/Fandy Hutari.

Gua Pawon sendiri berada di kawasan karst Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Gua ini berada di puncak Bukit Pawon, dengan ketinggian 601 di atas permukaan laut. Dari pusat Kota Bandung, gua ini jaraknya sekitar 25 kilometer. Panjang gua sekitar 40 meter dan lebar sekitar 16 meter. Pengunjung harus menempuh jarak sekitar 150 meter, meniti anak tangga dari batu menuju mulut gua yang sempit. Tubuh kita harus menunduk untuk memasukinya.

Keluar atau masuk mulut gua, harus menunduk/Devi Aribowo.
Keluar atau masuk mulut gua, harus menunduk/Devi Aribowo.

Gua Pawon kaya sekali stalaktit. Di dalamnya, kami bisa menemukan keindahan cahaya yang masuk dari lubang di langit-langit gua. Ada banyak kelelawar yang bekelebat di bawah lubang itu. Untuk menemani kami sekaligus mengetahui sejarah dan keunikan gua, kami meminta jasa seorang pemandu yang juga juru pelihara gua bernama Suhendar.

“Ada dua jenis binatang yang dari dahulu hingga sekarang hidup di gua ini. Kelelawar dan monyet,” kata Suhendar.

Lubang langit-langit gua/Fandy Hutari
Lubang langit-langit gua/Fandy Hutari

Menurut pengakuan Suhendar, gua ini sempat terancam karena penambangan batu. Lalu, penambangan itu dihentikan pada 1999, setelah para peneliti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung datang ke tempat ini. Pada 2000 dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi dan Universitas Padjadjaran.

Di bagian tengah gua ditumbuhi pohon-pohon besar yang menjulang. Ada tiga “jendela” besar di gua ini.

Salah satu jendela gua yang menghadap sawah/Fandy Hutari
Salah satu jendela gua yang menghadap sawah/Fandy Hutari

Semuanya menghadap hamparan sawah yang membius pesona keindahan. Di sini, pengunjung bisa mengambil gambar sekadar berfoto dengan latar keindahan panorama. Gua ini tidak dalam menembus bukit. Jika ditelusuri, gua ini lebih mirip cerukan-cerukan yang memiliki jalan saling terhubung setiap cerukan. Tetap berhati-hati dalam menyusuri gua. Sebab, jalannya agak terjal dan batuannya sedikit licin.

Gua prasejarah

Gua ini menjadi buah bibir ketika peneliti menemukan fosil kerangka manusia purba berusia 7.300 hingga 9.500 tahun silam. Fosil kerangka manusia purba dengan posisi meringkuk bisa kami saksikan sendiri di bagian tengah gua. Fosil itu ada di ruang yang agak menjorok ke dalam, dan dibatasi pagar besi. Namun, fosil ini hanya replika. Suhendar mengatakan, fosil asli disimpan di Balai Arkeologi Bandung. Fosil asli ditemukan pada 2004 lalu.

Replika fosil manusia purba/Fandy Hutari
Replika fosil manusia purba/Fandy Hutari

“Dulu ditemukan berbagai peralatan purba dan kalau tidak salah ada 6 kerangka. Tapi, yang utuh cuma satu itu,” katanya. Mungkin berdasarkan penemuan itu pula penamaan Pawon untuk gua ini. Pawon sendiri dalam Bahasa Indonesia berarti dapur.

Menurut situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, gua ini pernah diteliti oleh peneliti Belanda bernama A.C. De Yong dan G.H.R. von Koenigswald pada 1930 hingga 1935. Mereka menemukan peralatan kebudayaan, seperti anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari zaman Preneolitik. Di zaman itu, manusia purba mulai menetap di gua-gua, ceruk, atau perbukitan gamping. Peralatan-peralatan kebudayaan tadi berbahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang, dan andesit.

Bagian tengah gua/Fandy Hutari
Bagian tengah gua/Fandy Hutari

Pada 2003 hingga 2004, hasil ekskavasi peneliti menemukan berbagai bentuk artefak, fitur, dan ekofak yang sedikit menguak gambaran gua ini di masa silam. Artefak itu terdiri dari gerabah, pecahan keramik, alat serpih, alat tulang, alat batu pukul, sisa perhiasan berbahan gigi hewan, dan moluska. Selain itu, temuan yang membuat gua ini menjadi buah bibir adalah fosil kerangka manusia purba tadi.

Jika diperhatikan, tekstur batuan gua mirip sekali karang laut. Ada dugaan, dahulu gua ini adalah tepian danau Bandung purba. Bisa dibayangkan, betapa tua usia gua ini dari jejak-jejak sejarah yang ditinggalkannya.

Kawasan Gua Pawon merupakan kawasan vital yang harus dijaga dari gerusan eksploitasi berlebihan banyak perusahaan tambang batu di sekitarnya. Objek wisata ini seakan-akan dikepung alat berat dan truk-truk super besar yang mengeruk bebatuan kapur dan marmer.

Pesan moralnya, jika tak ada perhatian serius, bukan tidak mungkin objek wisata prasejarah ini akan termakan oleh kepentingan ekonomi sesaat.

LEAVE A REPLY