Ngaku Angkatan Tua UNPAD Jatinangor? Kamu Pasti Inget “Artefak-Artefak” Ini!

Unpad kini/blog.carionline.com

Roda kehidupan terus berputar dan semua mengalami perubahan. Bukan hanya diri kita,
tapi juga lingkungan, dan berbagai hal yang menyertainya. Masa-masa kuliah yang
pernah kita rasakan dahulu, yang penuh dengan memori klasik nan manis, tentunya
saat ini sudah banyak mengalami perubahan.
Kampus,
kostan, warung makan, dan banyak hal lain yang pernah kita singgahi pasti
memiliki kesan dan kenangan tersendiri bagi kita. Jika kamu adalah seorang
alumnus Universitas Padjadjaran Jatinangor angkatan TUA, pastinya tak pernah
lupa dengan hal-hal ikonik yang pernah kamu jumpai saat masih berstatus jadi
mahasiswa dulu.
Tentunya,
sangat berbeda merasakan aura kuliah di Universitas Padjadjaran Jatinangor saat
ini dengan 10 atau 15 tahun lalu. Dibandingkan dengan sekarang, semua serba
mudah dan lengkap, sedangkan dahulu, serba terbatas. Banyak perubahan yang
terjadi di Jatinangor. Dan kamu! Ya, kamu! Alumni Jatinangor baheula, pasti
inget dengan “artefak-artefak” ini deh. Mari bernostalgia dengan Jatinangor
yuk!
1.
Kamu pernah ngerasain pergi ke kampus dengan bus kuning? Fix kamu anak UNPAD
angkatan TUA!
Duludari gerbang lama Unpad, pasti anak-anak Unpad yang mau ngampus pada nungguinbus kampus berwarna kuning. Bus ini mirip bus kuning milik Universitas
Indonesia. Tapi jangan harap deh bisa duduk di dalam bus ini. Bukan karena
kursinya penuh diduduki mahasiswa lain, tapi memang bus ini nggak punya kursi!
Semua wajib berdiri, kecuali Pak sopir yang sedang bekerja. Jalannya bus ini
ngeri-ngeri sedap. Rada miring ke kanan atau kiri, tapi cukup ampuh untuk
mengusir rasa lelah dibandingkan jalan kaki ke fakultas-fakultas dengan jalan
menanjak dan gersang.
Dari tampilannya, bus ini kayaknya sudah veteran banget. Ada banyak karat, dan roda
yang sudah tak stabil. Jalannya pun kadang tersendat, dan suka mogok di tengah
jalan. Jumlahnya sedikit — mungkin hanya tiga unit.Meskipun begitu, beruntung
kalau ketemu bus ini yang siap mengangkut kita ke kampus. Daripada jalan kaki
mendaki gunung lewati lembah.
2.
Chatting mIRC, nonton video ehem, atau nge-print copas buat tugas kuliah ya
cuma di warnet paling legendaris — Warnet Character!
Mahasiswa angkatan 2003 ke bawah yang tinggal di Jatinangor pasti tahu warnet legendaris di Jatinangor ini. Nih warnet paling deket sama pusat Jatinangor. Dulu,
lokasinya persis di sebelah kanan gerbang masuk Jalan Ciseke.
Saking satu-satunya, nih warnet nggak pernah kehabisan pengunjung dari pagi sampe nemu pagi lagi. Sendal dan sepatu bergeletakan di teras warnet, dan para mahasiswa
rela antre berjam-jam demi nunggu giliran untuk sekadar chatting buta di mIRC,
nonton video ehem-ehem, sampe copas artikel buat tugas kuliah. Maklum, dulu
internet masih jadi barang yang langka.
3.Pada waktu itu, cuma segelintir orang terpilih yang memiliki telepon genggam.
Lalu sisanya ya harus mau berebutan telepon di wartel!
Alkisah, Blackberry dan Smartphone belum terpikirkan oleh para ilmuwan pada waktu itu.Hadphone tercanggih masa itu adalah Nokia 3310, dan itu pun mahasiswa yang
punya bisa dihitung pake jari. Wartel alias warung telepon marak dan menjamur
di sudut-sudut Jatinangor. Ada yang nyatu sama toko kecil pinggir jalan,
sebelah gerbang Unpad lama, di gang-gang kecil, dan lain-lain.
Tarifnya, tergantung nelepon ke mana. Ada lokal, SLJJ (sambungan langsung jarak jauh),Interlokal. Saking butuhnya telepon, sampe-sampe banyak orang yang nunggu di
depan “tabung-tabung” telepon. Jadi, satu telepon satu tabung. Dan, jangan
harap kamu bisa nelepon berjam-jam di wartel. Karena, selain ongkos neleponnya
membengkak, pintu tabung kamu akan digedor oleh orang yang nggak sabar mau
nelepon. “Woi! Buru atuh neleponnya!”
4. Ada jembatan penyeberangan di depan gerbang lama UNPAD Jatinangor, tapi sayangnya nggak ada yang tertarik buat nyeberang dari jembatan ini.
Jaraknya
kira-kira 2- meteran. Jembatan berwarna hijau ini, tadinya dimaksudkan untuk
membantu para mahasiswa menyeberang dari pos polisi seberang gerbang lama Unpad
ke gerbang lama Unpad. Tapi, pada akhirnya jembatan ini sia-sia.
Mahasiswa
jadul lebih seneng nyeberang di jalan raya daripada harus capek-capek naik
tangga jembatan penyeberangan. Para mahasiswa paling bisa dihitung dengan jari
yang lewat jembatan itu. Akhirnya jembatan besi itu terlantar, dan cuma jadi
aksesoris jalan raya. Beberapa waktu kemudian, jembatan ini dirobohkan, diikuti
robohnya gerbang Unpad lama.
5.Anak UNPAD angkatan tua tulen pasti merinding kalau diajak makan di Restoran
Munggaran karena terkenal elite dan mahal pada zamannya.
Anak Unpad jadul pasti ngindarin banget makan di Munggaran. Restoran ini, sebelum
berdiri restoran-restoran raksasa sekarang, dahulu terkesan elite dan mewah.
Lokasinya ada di seberang jalan mau masuk ke Ciseke. Ukuran restoran ini
lumayan besar. Di sana, kamu bisa menemukan makanan-makanan biasa, seperti
daging, telur, sayur sop, dan lain-lain. Minumannya juga lengkap, ada jus jeruk
hingga jus alpukat, es campur, kopi, teh, dan lain-lain. Tapi, banyak yang
berbisik begini, jika kita mau makan di situ: “Jangan makan di Munggaran, mahal
pisan!”
6.Khususnya bagi anak Fakultas Sastra (Fakultas Ilmu Budaya), Nggak mungkin lupa ‘kan dengan yel-yel Sastra” Go, Fight, Win!”?
“We
gonna go, go, Sastra go! We gonna fight, fight, Sastra fight! We gonna win,
win, win, Sastra win! We gonna go, fight, win, Sastra!”
Para
mahasiswa jadul yang kuliah di Fakultas Sastra pasti pernah memekikan yel-yel
ini, saat orientasi mahasiswa baru. Lalu, pernah juga dapat bimbingan dari
kakak-kakak seniornya untuk menyanyikan lagu Hymne Sastra:
“Tercatat
namanya…Dalam kebanggaan nusa bangsa…Tercatat namanya…Dalam tonggak negara…Dia
lahir perkasa dan berwibawa…Sebuah nama, sebuah nama…Fakultas Sastra Unpad…”
Nah, apakah yel-yel dan lagu hymne tadi saat ini sudah nggak ada ya? Sebuah label
nama Fakultas Sastra sudah resmi diganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Pergantian
nama ini resmi dilakukan pada 2012 lalu. Mungkin adik-adik ada yang tau,
sekarang Hymne Sastra apakah diubah menjadi Hymne Ilmu Budaya? Hhhhmmm… kok
kayak janggal gitu.
7. Nongkrong, ngamen, nyanyi, bikin acara, nunggu beduk magrib di mana lagi kalau bukan di gerbang lama Unpad tercinta ini?
Ini nih “artefak” yang nggak akan pernah terlupakan dari memori para mahasiswa
jadul. Ya, gerbang Unpad lama. Kamu pasti kangen banget inget-inget gerbang
ini. Gerbang yang bertuliskan Universitas Padjadjaran itu adalah lokasi pusat
para mahasiswa menghabiskan waktu untuk nongkrong, jajan, ngamen,
nyanyi-nyanyi, bahkan bikin acara musik.
Beberapa acara musik sempat diadakan di gerbang ini. Jika bulan puasa tiba, gerbang ini ramai mahasiswa yang menunggu waktu berbuka. Gerbang ini juga sering jadi
tempat berdemonstrasi. Sampai-sampai ada komunitas yang menamakan diri mereka
Komunitas Gerbang Unpad (KGU). Anggotanya kebanyakan mahasiswa Fakultas Ilmu
Komunikasi (Fikom) dan Fakultas Sastra. Tapi, ada juga mahasiswa Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik. Asal sering nongkrong, pasti dinobatkan menjadi
anggota KGU.
Sayangnya gerbang yang penuh dengan memori indah ini tinggal nama. Gerbang ini sudah dihancurkan, diratakan dengan aspal. Sekarang berubah menjadi jalan raya besar yang tembus dari sebelah Ikopin untuk mengurangi kemacetan di Jatinangor.

 

Artikel ini dimuat pertama kali di Hipwee.com, 29 April 2015.

LEAVE A REPLY