Riwayat Sandiwara Penggemar Maya 1944-1950 (Bagian Kedua)

Salah satu adegan Sandiwara Penggemar Maya
Di Jawa, segera ketika Jepang berkuasa, stasiun pemancar yang ada dikontrol oleh Sendenbu dan dibentuk Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Djawa). Hoso Kanrikyoku ini dipimpin oleh Tomabechi. Hoso Kanrikyoku kemudian membangun cabang-cabang pada kota-kota besar di Jawa yang disebut dengan Hoso Kyoku, seperti di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Semarang, termasuk Jakarta.

 

Jakarta Hoso Kyoku (Pemancar Radio Jakarta) dipimpin oleh Shimaura. Pada 7 Maret 1942, Pemancar Radio Jakarta mulai mengudara. Pemancar Radio Jakarta berada pada gelombang 80,30 meter (Proyek Penelitian dan Pengembangan Penerangan Deppen RI dan Fakultas Sastra Unpad, 1978-1979: 59-62).

Di awal karirnya sebagai seorang penulis lakon, Usmar menulis lakon sandiwara radio satu babak yang lalu dipancarkan Hoso Kyoku. Untuk usaha memancarkan sandiwaranya ini dibantu oleh Mr. Utoyo[1] yang bekerja di Hoso Kyoku. Rosihan pun turut sebagai salah seorang pelakunya (Anwar, 1983: 64-65). Kegiatan ini berlanjut setelah Usmar dan kawan-kawannya membentuk perkumpulan sandiwara penggemar Maya. Maya memulai kiprahnya dengan menyuarakan sandiwara radio. Pada 29 Agustus 1944, perkumpulan ini mengadakan siaran pertamanya dengan menyuarakan sandiwara ”Djalan Kembali”. Secara berturut-turut mereka kemudian menyuarakan sandiwara radio, seperti pada 7 Februari 1945 menyuarakan sandiwara ”Ni Ajoe Sitti” atau ”Mereboet Benteng Kroja”, pada 9 Maret 1945 menyuarakan sandiwara ”Tempat jang Kosong”, pada 25 Maret 1945 menyuarakan sandiwara ”Poetera Negara” karya Achdiat, pada 4 Mei 1945 menyuarakan sandiwara ”Djibakoe Atjeh”[2] karya Idroes, dan tanggal 15 Juni 1945 menyuarakan sandiwara ”Mutiara Dari Nusa Laut” karya Usmar Ismail (Asia Raya, 6 Februari 2605: 2; Asia Raya, 9 Maret 2605: 2; Asia Raya, 24 Maret 2605: 2; Asia Raya, 2 Mei 2605: 2; Asia Raya, 14 Juni 2605: 2).

Pada Juli 1944, untuk pertamakalinya Maya mengadakan pertunjukan di atas panggung. Pertunjukan ini berlangsung di Gedung Siritu Gekidjo[3] Pasar Baru. Pada pertunjukan pertama ini, Maya mementaskan lakon “Taufan di Atas Asia” gubahan Abu Hanifah atau El Hakim. Dalam lakon yang disutradarai oleh Usmar ini, Rosihan Anwar bertindak sebagai pemeran utama, dia menjadi Dr. Abdul Azaz, Dr. Ali Akbar sebagai K.H. Mualim, Tiene Mamahit sebagai Inderawati, Zuraida Sanawi sebagai Hayati, dan Hermin Sanawi sebagai Lee Moy (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 589-590).
Sejak malam itu, Maya aktif mengadakan pertunjukan di Jakarta dengan membawakan lakon-lakon karya Usmar Ismail dan Abu Hanifah, seperti ”Intelek Istimewa”, ”Dewi Reni”, dan ”Liburan Seniman”. HB Jassin turut bermain dalam lakon ”Liburan Seniman” tersebut. Selain lakon-lakon karya Abu Hanifah dan Usmar Ismail, Maya juga mementaskan lakon terjemahan penulis Barat, yaitu lakon karya Henrik Ibsen, ”De Kleine Eyolf”. Naskah ini sudah disadur oleh Karim Halim, dan menjadi ”Jeritan Hidup Baru” (Jassin, 1949: 20). Lakon ini sendiri dipentaskan di Jakarta pada Mei 1945 (Anwar, 1983: 72).
Pada 10 Februari 1945 dan 11 Februari 1945, mengadakan pertunjukan dengan lakon ”Intelek Istimewa”, untuk merayakan Hari Kigensetsu di Siritu Gekidjo Pasar Baru, dengan bantuan dari Keimin Bunka Shidosho. Lakon tersebut berisi tentang keruntuhan seseorang jika ia terlalu mementingkan diri sendiri dan membanggakan kebendaan, dibandingkan dengan kepentingan orang banyak (Asia Raya, 2 Februari 2605: 2; Asia Raya, 6 Februari 2605: 2; Asia Raya, 10 Februari 2605: 2; Asia Raya, 20 Februari 2605: 2; Asia Raya, 28 Juni 2605: 2). Yang menarik, selain pertunjukan Maya, ada pertunjukan ”tambahan” seusai pertunjukan Maya, yaitu pertunjukan sandiwara anak-anak dengan lakon ”Semalam di Medan Perang” yang dibawakan oleh anak-anak berusia 12 tahun di bawah asuhan Ibu Soed (Asia Raya, 29 Januari 2605: 2).
Melihat dari judul lakonnya, tampak bahwa lakon tersebut juga merupakan lakon propaganda Jepang, dan ini berarti propaganda tidak hanya menyentuh orang dewasa saja, tetapi juga di tujukan bagi anak-anak. HB Jassin mengatakan bahwa, semakin hari Maya semakin kuat. Sebaliknya, pertemuan-pertemuan angkatan muda sastrawan yang tiap bulan diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidosho terpaksa dihentikam, karena sepi perhatian. Itu karena di dalam Maya, seniman-seniman muda dibebaskan untuk mengembangkan bakatnya. (Jassin, 1949: 20).
Sepak terjang Maya tidak sama sekali lepas dari pengawasan militer Jepang. Pernah beberapa kali perkumpulan ini kesulitan untuk memainkan sebuah lakon. Misalnya saja, saat perkumpulan ini hendak mementaskan lakon karya Henrik Ibsen, yang notabene penulis lakon asal Eropa (baca: musuh Jepang). Lakon ini sempat lama berada di tangan badan sensor naskah Jepang (Hoodooka). Hoodooka keberatan lantaran pengarangnya orang Barat. Setelah naskah itu dikembalikan dan disensor, terdapat catatan: “Perhatikan! Kata-kata papa dalam cerita ini harus diganti dengan bapak atau ayah” (Jassin, 1949: 22). Selain itu, menurut Abu Hanifah atau El Hakim, Maya pernah dibujuk untuk masuk ke dalam Keimin Bunka Shidosho. Jepang merayu dengan janji akan diberikan subsidi, tapi Maya menolak (Hakim dalam Mimbar Indonesia, 1949: 20). Maya melakukan perlawanan dengan menyelipkan cita-cita kebangsaan di setiap lakon yang dimainkan. Namun cita-cita tersebut dibalut secara sangat halus, sehingga tampak seperti puji-pujian untuk Jepang. (Bersambung)
[1] Mr. Utoyo juga merupakan ketua bagian musik, Keimin Bunka Shodosho.
[2] Berkisah tentang perlawanan beberapa orang Aceh, lelaki dan perempuan, terhadap pasukan Belanda yang hendak menangkap putera pahlawan Aceh Teuku Mat Amin yang masih bayi. Teuku Mat Amin gugur karena dibunuh Belanda. Di dalam perlawanan itu bayi Mat Amin berhasil diselamatkan, tetapi yang mempertahankannya gugur semua, demikian pula dengan pasukan Belanda yang ditugaskan untuk menangkap anak itu (Jassin, 1955: 171). Siaran sandiwara ini dipancarkan ke seluruh Jawa dan Madura.
[3] Pada masa kolonial, gedung ini bernama Schouwburg. Namun pada masa pendudukan Jepang namanya berubah menjadi Siritu Gekidjo, ini adalah salah satu usaha untuk menghilangkan segala hal yang berorientasi Barat. Schouwburg adalah nama yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, tetapi masyarakat Jakarta akrab memakai nama Gedung Komedi. Sekarang dikenal sebagai Gedung Kesenian Jakarta.


Dimuat pertama kali di indonsiaseni.com Mei 2010.

LEAVE A REPLY