Ceto, Candi Menawan di Lereng Gunung Lawu

Candi Ceto dari pintu masuk/Fandy Hutari
Di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terdapat banyak sekali objek wisata yang berorientasi alam hingga budaya. Menikmati wisata sejarah dan budaya berupa
candi, sembari membayangkan betapa hebatnya nenek moyang kita membangunnya,
menjadi salah satu pilihan pelesir di sini. Ada lima candi yang tersebar di
lereng gunung ini. Salah satu yang terpopuler dan wajib dikunjungi adalah Candi
Ceto.
Candi Ceto merupakan sebuah bangunan yang menurut dugaan peneliti dibangun pada 1475. Peneliti meyakini Ceto dibangun saat masa pemerintahan Brawijaya V, kala Majapahit
menuju keruntuhan. Brawijaya V adalah raja terakhir Majapahit, sebelum akhirnya
takluk pada kerajaan Islam Demak. Ada 13 teras punden berundak, 9 teras di
antaranya sudah dipugar. Letak Candi Ceto ada di Dusun Ceto, Desa Gumeng,
Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dari Kota Solo sekitar 40
kilometer dan memakan waktu satu jam lebih perjalanan menggunakan sepeda motor.
arca sumeria
Arca mirip Bangsa Sumeria/Fandy Hutari
Berbeda dengan candi-candi terkenal di Jawa Tengah, seperti Borobudur dan Prambanan, letak Candi Ceto terbilang lebih tinggi. Sehingga udaranya lebih segar dan
pemandangannya lebih indah. Candi ini berada pada ketinggian 1.496 di atas
permukaan laut. Selain bisa menikmati kebesaran nenek moyang kita lewat pahatan
di bangunan candi dan arsitekturnya yang menawan, kamu juga dapat bersantai
sambil menghirup sejuknya udara lereng Gunung Lawu.
Bagi kamu yang dari Jakarta, ada beberapa pilihan menuju ke tempat ini. Pertama kali yang harus kamu lakukan adalah melakukan perjalanan dari Jakarta menuju ke Solo.
1. Dengan pesawat. Beberapa maskapai melayani rute penerbangan Jakarta
menuju Solo. Tarifnya sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 650 ribu. Tarif ini
biasanya akan melonjak tajam ketika masa libur panjang tiba.
2. Dengan kereta api. Gunakan kereta api yang memang khusus menuju ke Solo
atau yang menuju Jawa Timur. Berangkat dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Solo
Balapan, Purwosari, atau Solojebres. Tarifnya Rp 80.000 hingga Rp 340.000. Soal
tiket kereta api, kamu bisa cek langsung ke situs resmi kereta-api.co.id.
3. Dengan bus. Hampir semua terminal bus di Jakarta memberangkatkan bus
menuju Solo. Pilihan armada busnya pun sangat banyak. Biasanya keberangkatan
mulai pukul 16.00. Tarif rata-rata dari kelas non AC hingga super eksekutif Rp
150.000 hingga Rp 300.000. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa datang langsung ke
pool bus terdekat.
4. Dengan mobil pribadi. Dibutuhkan waktu sekitar 10 jam dengan jarak
tempuh sekitar 549 kilometer.
Sampai di Solo, kamu bisa menggunakan berbagai alternatif kendaraan. Kamu bisa naik taksi menuju Jalan Lawu, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Cari gerbang petunjuk yang
bertuliskan “Kawasan Wisata Candi Sukuh dan Cetho”. Dari sana, kamu bisa
menggunakan ojek. Jarak dari gerbang ini masih 17 kilometer lagi menanjak ke
atas. Kalau kamu memilih menggunakan bus, segera menuju Terminal Tirtonadi
menggunakan becak atau ojek. Dari terminal ini, naik bus jurusan
Solo-Tawangmangu, lalu turun di Terminal Karangpandan. Dari Terminal
Karangpandan naik minibus jurusan Karangpandan-Kemuning, lalu turun lagi di
pertigaan Nglorog. Dari situ, kamu cegat ojek untuk naik ke Candi Ceto. Tarif
ojek biasanya Rp 50.000. Tapi kamu bisa tawar-menawar.
Komplek candi ini memiliki panjang ke atas 190 meter, dengan lebar 30 meter. Candi ini, menurut para peneliti, berlatar agama Hindu. Seperti yang tadi sudah saya katakan,
candi ini ada 9 teras yang sudah dipugar dan bisa kamu nikmati keeksotisannya.
Di teras pertama, kamu akan menemukan tiga arca sosok manusia, laki-laki dan
perempuan, sedang bersimpuh. Hingga kini, para peneliti belum bisa
mengidentifikasikan sosok arca ini. Naik ke teras kedua, kamu disuguhi halaman
luas padang rumput. Di teras ini terdapat petilasan leluhur masyarakat Ceto
bernama Ki ageng Krincingwesi. Teras ketiga mungkin merupakan teras yang paling
kaya akan ornamen dan arca. Ada ornamen memanjang menghampar di tanah, yang
menggambarkan phallur (kelamin laki-laki) bersentuhan dengan vagina (kelamin
perempuan). Ornamen yang hampir memenuhi halaman teras ketiga ini disatukan
dengan arca garuda. Simbol ini ditafsirkan sebagai lambang kelahiran kembali
setelah dibebaskan dari kutukan.
IMG_0142
Ornamen-ornamen di lantai tiga/Fandy Hutari
Selain itu, terdapat ornamen kura-kura, matahari, tumbuhan, katak, belut, kadal, mimi, dan ketam. Di teras keempat, terdapat relief cuplikan kisah Sudhmala. Kisah ini merupakan cerita tentang upaya manusia melepaskan diri dari malapetaka. Di teras kelima dan
keenam, kamu akan menjumpai pendapa-pendapa besar yang mengapit jalan kecil
candi. Jika ramai pengunjung, pendapa-pendapa tadi digunakan untuk tempat
istirahat atau sekadar foto-foto. Namun, umat Hindu menggunakan pendapa ini
sebagai kegiatan upacara dan sembahyang. Bangunan pendapa-pendapa ini merupakan
bangunan yang bukan asli Candi Ceto. Pendapa-pendapa ini baru didirikan saat
pemugaran pada 1975-1976.
Naik lagi ke teras ketujuh. Di sini kamu akan menjumpai arca Nayagenggong dan Sabdopalon,
abdi setia Brawijaya V. Di teras kedelapan, ada arca Brawijaya dan Lingga
(kemalin laki-laki) dengan posisi vertikal.
Teras paling atas merupakan teras
utama. Di sini ada sebuah candi besar yang di dalamnya terdapat bangunan
berbentuk kubus. Untuk masuk ke dalam bangunan itu, pintu masuknya sangat
sempit, hanya cukup untuk satu orang saja. Dan, pintu tersebut selalu terkunci,
hanya dibuka ketika ada upacara besar. Tempat ini merupakan tempat paling
sakral untuk memanjatkan doa.
Fungsi candi ini sendiri sebagai peruwatan untuk membebaskan manusia kutukan. Hingga saat ini, selain sebagai objek wisata, Ceto masih dijadikan tempat ziarah dan
sembahyang umat Hindu dan Kejawen untuk melakukan semadi. Maka jangan heran
jika kamu menemukan hio, sesaji, dan anglo di arca-arca yang ada di Ceto.
Belum puas menikmati wisata sejarah dan budaya di Candi Ceto, kamu masih bisa menikmati objek wisata sejarah dan budaya lainnya di dekat kompleks candi. Di teras ke delapan, ada
papan petunjuk menuju ke Pura Taman Saraswati dan Candi Kethek. Jaraknya dari
kompleks Candi Ceto sekitar 500 meter berjalan kaki.
IMG_0166
Teras terakhir Candi Ceto/Fandy Hutari
Kamu bisa memilih mencari penginapan di sekitar Solo atau di dekat Candi Ceto. Tentu saja di sekitar Kota Solo bertebaran penginapan, mulai dari hotel bintang lima hingga
kelas melati. Tarif menginap di Solo antara Rp 120 ribu hingga Rp 8 juta per
malam. Kamu juga bisa memilih menginap di Karanganyar dengan harga mulai Rp 200
ribu hingga Rp 500 ribu. Mau lebih dekat lagi dari Candi Ceto? Tenang saja,
di depan gerbang kompleks candi sudah banyak berdiri penginapan sederhana berbentuk rumah. Harga yang ditawarkan mulai Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per malam.
Candi Ceto masih kental dengan suasana spiritual dan eksotis. Di sini merupakan tempat terbaik menikmati panorama Kota Solo dan Karanganyar. Kebun teh yang menghampar di bawah sana, menambah daya pikat tempat ini. Candi Ceto adalah pilihan murah-meriah meresapi nyanyian alam dan sejuknya udara lereng Gunung Lawu. Di depan pintu kompleks candi juga banyak warung-warung sederhana untuk menikmati kopi hitam saudara-saudara…
IMG_0174
Tips
· Cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai objek
wisata ini sebelum memutuskan berangkat ke sana.
· Sedia obat-obatan pribadi, makanan dan minuman,
serta uang secukupnya.
· Jika Anda memiliki kerabat atau teman di Solo,
ada baiknya meminjam atau ditemani menggunakan kendaraan pribadi.
· Sebaiknya menggunakan sepeda motor, karena walau
akses ke sana sudah beraspal, medannya turun-naik lumayan berat.
· Isi bahan bakar kendaraan dan cek kondisi mesin
sebelum berangkat.
· Biasakan tawar menawar jika Anda ingin menyewa
ojek.
· Siapkan stamina sebaik-baiknya, karena medan
yang dilewati dengan berjalan kaki jauh dan menguras energi.
· Jika Anda sudah lelah dan hari sudah gelap,
sebaiknya cari penginapan yang aman dan nyaman di sekitar Candi Ceto.
· Selalu menjaga kebersihan dan kesopanan di area
candi.
Info
· Biaya retribusi
memasuki kawasan wisata Candi Sukuh dan Ceto Rp 2.000.
· Biaya retribusi
memasuki kawasan wisata Candi Ceto Rp 1.000.
· Tiket masuk ke
kompleks Candi Ceto Rp 3.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000 untuk
wisatawan mancanegara.
· Membayar
seikhlasnya untuk menyewa kain kampuh.
· Usahakan
berangkat di pagi hari dan cuaca sedang cerah. Jika hujan, maka jalanan akan
semakin riskan dan licin untuk dilewati.
Dimuat pertama kali di MyTrip Magazine #24 Edisi Yuk Eksplor Indonesia.

LEAVE A REPLY