Tahukah Anda jika setiap
daerah punya ragam hias batik sendiri-sendiri? Salah satu batik yang memiliki
ragam hias nan cantik, unik, dan menarik berasal dari tanah Pasundan. Dalam
buku Batik Indonesia (1996, 8-11)
karya Anesia Aryunda Dofa, batik diduga berasal dari India. Dari
pedagang-pedagang India, orang-orang di Jawa mengenal batik dan mulai
memodifikasinya, hingga terbentuk ciri khas yang sangat Indonesia. Tapi—masih
menurut buku karya Anesia Aryunda Dofa—batik-batik
yang dibawa pedagang India itu bukan karya original mereka, namun berasal dari
Persia. Dan, menurut sejarawan, batik dari Persia itu juga bukan hasil produk
mereka juga. Para pedagang Persia memperoleh batik dari Mesir dan Turki. Orang
India memodifikasi batik sesuai tradisi mereka. Anesia menyimpulkan, seni batik
yang akhirnya dikenal di Indonesia sebenarnya merupakan warisan yang diperoleh
dari orang-orang India yang datang ke Nusantara.
daerah punya ragam hias batik sendiri-sendiri? Salah satu batik yang memiliki
ragam hias nan cantik, unik, dan menarik berasal dari tanah Pasundan. Dalam
buku Batik Indonesia (1996, 8-11)
karya Anesia Aryunda Dofa, batik diduga berasal dari India. Dari
pedagang-pedagang India, orang-orang di Jawa mengenal batik dan mulai
memodifikasinya, hingga terbentuk ciri khas yang sangat Indonesia. Tapi—masih
menurut buku karya Anesia Aryunda Dofa—batik-batik
yang dibawa pedagang India itu bukan karya original mereka, namun berasal dari
Persia. Dan, menurut sejarawan, batik dari Persia itu juga bukan hasil produk
mereka juga. Para pedagang Persia memperoleh batik dari Mesir dan Turki. Orang
India memodifikasi batik sesuai tradisi mereka. Anesia menyimpulkan, seni batik
yang akhirnya dikenal di Indonesia sebenarnya merupakan warisan yang diperoleh
dari orang-orang India yang datang ke Nusantara.
Tapi, perlu kita catat, walau dugaan sejarawan bahwa
batik berasal dari India, namun ruh tradisi batik sendiri sudah menyatu dengan
alam Indonesia. Sehingga di sini, batik berkembang dengan pesat. Atas dasar itu
pula, United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO),
organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi kebudayaan, pada 2
Oktober 2009 di Abu Dhabi secara resmi mengakui batik dan dimasukkan ke dalam
Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity—Daftar
Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia. Dan, hingga saat ini,
tanggal 2 Oktober dikenal sebagai Hari Batik Nasional.
batik berasal dari India, namun ruh tradisi batik sendiri sudah menyatu dengan
alam Indonesia. Sehingga di sini, batik berkembang dengan pesat. Atas dasar itu
pula, United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO),
organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi kebudayaan, pada 2
Oktober 2009 di Abu Dhabi secara resmi mengakui batik dan dimasukkan ke dalam
Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity—Daftar
Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia. Dan, hingga saat ini,
tanggal 2 Oktober dikenal sebagai Hari Batik Nasional.
Orang-orang
Jawa, menurut Anesia, berhasil menemukan canting dan cap yang dibuat dari
tembaga, dan berhasil meningkatkan mutu hasil produksi batik yang lebih
memantapkan keaslian seni batik dari tangan orang-orang Jawa sendiri. Sejak
zaman kerajaan, para pembesar kerajaan sudah mengenakan pakaian adat yang
terbuat dari kain batik halus, dan dibuat terbatas di kalangan elite.
Jawa, menurut Anesia, berhasil menemukan canting dan cap yang dibuat dari
tembaga, dan berhasil meningkatkan mutu hasil produksi batik yang lebih
memantapkan keaslian seni batik dari tangan orang-orang Jawa sendiri. Sejak
zaman kerajaan, para pembesar kerajaan sudah mengenakan pakaian adat yang
terbuat dari kain batik halus, dan dibuat terbatas di kalangan elite.
Muasal dan Ciri Khas
Banyak orang salah kaprah
mendefinisikan istilah batik. Komarudin Kudiya, seorang perajin, pengamat, dan
pengusaha batik asal Bandung mengungkapkan, yang dinamakan batik itu harus
memenuhi syarat ada lilin sebagai perintang warna. “Batik adalah proses dalam
membuat gambar, dengan menggunakan lilin sebagai media perintang warna,” terang
Komar serius. Tanpa menggunakan lilin sebagai perintang warna, kata Komar,
tidak bisa disebut batik, hanya kain bercorak batik, bukan kain batik. Cirinya
yang bukan batik, bisa dilihat dari belakang. “Biasanya kalau yang nonbatik itu
tidak bisa tembus motifnya (di balik kain, red),” ungkapnya. Tapi, media untuk
membatiknya bisa apa saja, seperti sutra, kayu, wol, kulit, dan lain-lain, asal
memenuhi syarat lilin sebagai perintang warna tadi.
mendefinisikan istilah batik. Komarudin Kudiya, seorang perajin, pengamat, dan
pengusaha batik asal Bandung mengungkapkan, yang dinamakan batik itu harus
memenuhi syarat ada lilin sebagai perintang warna. “Batik adalah proses dalam
membuat gambar, dengan menggunakan lilin sebagai media perintang warna,” terang
Komar serius. Tanpa menggunakan lilin sebagai perintang warna, kata Komar,
tidak bisa disebut batik, hanya kain bercorak batik, bukan kain batik. Cirinya
yang bukan batik, bisa dilihat dari belakang. “Biasanya kalau yang nonbatik itu
tidak bisa tembus motifnya (di balik kain, red),” ungkapnya. Tapi, media untuk
membatiknya bisa apa saja, seperti sutra, kayu, wol, kulit, dan lain-lain, asal
memenuhi syarat lilin sebagai perintang warna tadi.
Batik
Jawa Barat, menurut sebuah sumber, berkembang dari hasil pengaruh penduduk Jawa
Tengah yang datang ke tanah Pasundan ketika pecah Perang Jawa (Perang
Diponegoro) pada 1825. Sebagian pengungsi merupakan pembatik Banyumas, yang
lalu memengaruhi batik Tasikmalaya dan Ciamis. Di Indramayu, menurut sumber
ini, batik diduga sudah tumbuh pada 1527-1650 ketika Kerajaan Demak berkuasa,
dan banyak perajin batik Lasem yang hijrah ke Indramayu. Menurut
Komarudin Kudiya, yang memiliki brand
populer Rumah Batik Komar, corak batik yang berasal dari daerah Kabupaten
Bandung, terutama Majalaya, sudah ada sejak dahulu di dalam Kitab Siksa Kandang Karesian. “Seperti motif, banyak ngantrang, kemudian pasi-pasi, kemudian wijaya kusumah, itu ada sejak zaman dulu,” kata Komar yang ditemui di sela-sela acara Tribute to Batik, Trans Studio Mal Bandung
awal Oktober 2013. Kitab Siksa Kandang
Karesian disebut Komar sudah ada sejak abad ke-12.
Jawa Barat, menurut sebuah sumber, berkembang dari hasil pengaruh penduduk Jawa
Tengah yang datang ke tanah Pasundan ketika pecah Perang Jawa (Perang
Diponegoro) pada 1825. Sebagian pengungsi merupakan pembatik Banyumas, yang
lalu memengaruhi batik Tasikmalaya dan Ciamis. Di Indramayu, menurut sumber
ini, batik diduga sudah tumbuh pada 1527-1650 ketika Kerajaan Demak berkuasa,
dan banyak perajin batik Lasem yang hijrah ke Indramayu. Menurut
Komarudin Kudiya, yang memiliki brand
populer Rumah Batik Komar, corak batik yang berasal dari daerah Kabupaten
Bandung, terutama Majalaya, sudah ada sejak dahulu di dalam Kitab Siksa Kandang Karesian. “Seperti motif, banyak ngantrang, kemudian pasi-pasi, kemudian wijaya kusumah, itu ada sejak zaman dulu,” kata Komar yang ditemui di sela-sela acara Tribute to Batik, Trans Studio Mal Bandung
awal Oktober 2013. Kitab Siksa Kandang
Karesian disebut Komar sudah ada sejak abad ke-12.
Ragam hias
batik Kabupaten Bandung, jelas Komar, mulai diangkat kembali pada 2008 oleh
almarhum Lalam Wiranatakusumah. “Dia yang mengangkat kembali motif-motif ini.
Jadi, sejak dulu ada tapi masih berupa naskah. Dan yang mewujudkannya secara
visual itu bapak Lalam Wiranatakumumah. Bagaimana proses mendapatkan teks
menjadi ragam hias? Katanya kalau orang Sunda bilang ngimpleng. Semacam ritual, semedi. Masuk ke dalam ruangan. Lalu,
entah bagaimana ada yang menuntun untuk mem-visualisasikan motif-motif (di
dalam naskah, red). Cerita dari keluarganya,” jelas Komar bersemangat. Komar
menerangkan, corak batik asal Jawa Barat sendiri berbeda dengan corak batik
dari Jawa Tengah. Ragam hias batik Jawa Barat punya ciri khas tersendiri.
“Kalau aslinya tidak menggunakan seperti isen-isen begini. Bentuknya itu
besar-besar gitu,” ujarnya.
batik Kabupaten Bandung, jelas Komar, mulai diangkat kembali pada 2008 oleh
almarhum Lalam Wiranatakusumah. “Dia yang mengangkat kembali motif-motif ini.
Jadi, sejak dulu ada tapi masih berupa naskah. Dan yang mewujudkannya secara
visual itu bapak Lalam Wiranatakumumah. Bagaimana proses mendapatkan teks
menjadi ragam hias? Katanya kalau orang Sunda bilang ngimpleng. Semacam ritual, semedi. Masuk ke dalam ruangan. Lalu,
entah bagaimana ada yang menuntun untuk mem-visualisasikan motif-motif (di
dalam naskah, red). Cerita dari keluarganya,” jelas Komar bersemangat. Komar
menerangkan, corak batik asal Jawa Barat sendiri berbeda dengan corak batik
dari Jawa Tengah. Ragam hias batik Jawa Barat punya ciri khas tersendiri.
“Kalau aslinya tidak menggunakan seperti isen-isen begini. Bentuknya itu
besar-besar gitu,” ujarnya.
Aneka Corak
Komar menjelaskan, cara
mengangkat sebuah ragam hias batik yang sebelumnya tidak ada budaya membatiknya
bisa diangkat melalui resources (sumber
daya/kekayaan) yang berhubungan dengan sumber daya alam, artefak bangunan yang
monumental, kekayaan hayati, unsur budaya kearifan lokalnya di masing-masing
daerah. “Misalnya, sisingaan kan ada
di Subang. Kemudian, kecapi suling ada di Cianjur. Itu bisa diangkat seperti
itu,” katanya.
mengangkat sebuah ragam hias batik yang sebelumnya tidak ada budaya membatiknya
bisa diangkat melalui resources (sumber
daya/kekayaan) yang berhubungan dengan sumber daya alam, artefak bangunan yang
monumental, kekayaan hayati, unsur budaya kearifan lokalnya di masing-masing
daerah. “Misalnya, sisingaan kan ada
di Subang. Kemudian, kecapi suling ada di Cianjur. Itu bisa diangkat seperti
itu,” katanya.
Ragam
hias batik Jawa Barat sangat banyak. Misalkan saja Subang, punya ragam hias
yang bermacam-macam, ada baobab,
sisingaan, nanas, dan lain-lain. Komar pun mengajak berkeliling ke beberapa
kain yang tengah dipamerkan di acara Tribute to Batik di Trans Studio Mal,
Bandung. “Nah, ini bobab (Komar
menunjuk satu kain batik asal Subang, red). Baobab itu salah satu tanaman yang
sangat besar. Yang lingkar pohonnya itu 12 orang. Dan itu pohon yang tumbuh di
Afrika dan di Indonesia tumbuhnya, satu di antaranya di Subang,” jelas Komar.
hias batik Jawa Barat sangat banyak. Misalkan saja Subang, punya ragam hias
yang bermacam-macam, ada baobab,
sisingaan, nanas, dan lain-lain. Komar pun mengajak berkeliling ke beberapa
kain yang tengah dipamerkan di acara Tribute to Batik di Trans Studio Mal,
Bandung. “Nah, ini bobab (Komar
menunjuk satu kain batik asal Subang, red). Baobab itu salah satu tanaman yang
sangat besar. Yang lingkar pohonnya itu 12 orang. Dan itu pohon yang tumbuh di
Afrika dan di Indonesia tumbuhnya, satu di antaranya di Subang,” jelas Komar.
Lebih lanjut, Komar mengatakan,
ada corak-corak batik Jawa Barat yang dibuat dari makna-makna simbolik.
“Contohnya batik Cirebon. Ini termasuk batik Cirebon yang tergolong batik-batik
bernuansa mitologi. Ada paksinagaliman. Kenapa
paksinagaliman? Karena bentuknya itu
ada seperti burungnya, ada gajahnya, dan ada naganya. Nah, tiga ini dipengaruhi
oleh tiga budaya atau agama. Naga itu dari Cina, Budhanya. Liman atau gajah,
itu dari India, itu Hindunya. Dan, paksi atau burungnya itu biasanya dari agama
Islam,” terangnya.
ada corak-corak batik Jawa Barat yang dibuat dari makna-makna simbolik.
“Contohnya batik Cirebon. Ini termasuk batik Cirebon yang tergolong batik-batik
bernuansa mitologi. Ada paksinagaliman. Kenapa
paksinagaliman? Karena bentuknya itu
ada seperti burungnya, ada gajahnya, dan ada naganya. Nah, tiga ini dipengaruhi
oleh tiga budaya atau agama. Naga itu dari Cina, Budhanya. Liman atau gajah,
itu dari India, itu Hindunya. Dan, paksi atau burungnya itu biasanya dari agama
Islam,” terangnya.
Penjelasan
Komar tadi senada dengan apa yang ditulis oleh Anesia Aryunda Dofa dalam
bukunya Batik Indonesia (1996).
Anesia menulis, corak batik Cirebon banyak terpengaruh oleh letak geografisnya
dan tradisi kesultanan yang sangat melekat dalam masyarakat. Letak Cirebon yang
berbatasan dengan Jawa Tengah juga turut memengaruhi ragam hias batik dari kota
ini. Belum lagi, adanya persentuhan budaya asing, terutama bangsa Cina. “Dari
percampuran budaya ini, telah melahirkan motif-motif simbolis yang tidak
terlihat jelas dari gaya kesultanan maupun dari percampuran budaya asing.
Misalnya gambar kuda terbang yang mempunyai sayap, singa darat yang
menyeberangi laut, dan yang paling beken adalah corak supit urang yang mencerminkan pengaruh laut, yaitu berupa kuku
udang…” tulis Anesia. Belum lagi, tulis Anesia, percampuran tiga agama besar,
seperti Hindu, Budha, dan Islam yang ikut memengaruhi keanekaragaman corak
batik Cirebon (1996: 25-27).
Komar tadi senada dengan apa yang ditulis oleh Anesia Aryunda Dofa dalam
bukunya Batik Indonesia (1996).
Anesia menulis, corak batik Cirebon banyak terpengaruh oleh letak geografisnya
dan tradisi kesultanan yang sangat melekat dalam masyarakat. Letak Cirebon yang
berbatasan dengan Jawa Tengah juga turut memengaruhi ragam hias batik dari kota
ini. Belum lagi, adanya persentuhan budaya asing, terutama bangsa Cina. “Dari
percampuran budaya ini, telah melahirkan motif-motif simbolis yang tidak
terlihat jelas dari gaya kesultanan maupun dari percampuran budaya asing.
Misalnya gambar kuda terbang yang mempunyai sayap, singa darat yang
menyeberangi laut, dan yang paling beken adalah corak supit urang yang mencerminkan pengaruh laut, yaitu berupa kuku
udang…” tulis Anesia. Belum lagi, tulis Anesia, percampuran tiga agama besar,
seperti Hindu, Budha, dan Islam yang ikut memengaruhi keanekaragaman corak
batik Cirebon (1996: 25-27).
Lalu, batik Indramayu
ada corak batik ganggeng. “Kenapa ganggeng? Karena Indramayu kan pesisir.
Jadi, ini ganggeng maksudnya ganggang
yang ada di laut. Kemudian untuk melengkapi ragam hiasnya itu dengan
binatang-binatang yang ada di laut. Biasanya ikan, cumi, kerang, udang,” tandas
Komar menunjuk satu kain batik asal Indramayu.
ada corak batik ganggeng. “Kenapa ganggeng? Karena Indramayu kan pesisir.
Jadi, ini ganggeng maksudnya ganggang
yang ada di laut. Kemudian untuk melengkapi ragam hiasnya itu dengan
binatang-binatang yang ada di laut. Biasanya ikan, cumi, kerang, udang,” tandas
Komar menunjuk satu kain batik asal Indramayu.
Kemudian
di Sukabumi ada corak batik penyu.
Corak ini menggambarkan kekayaan satwa yang ada di Sukabumi, tepatnya di
pesisir selatan Jawa Barat. Di Cimahi ada corak daun sampeu. Sampeu yang
dalam bahasa Indonesia disebut singkong, merupakan salah satu jenis tanaman
yang tumbuh subur di Cimahi. Daun singkong yang bentuknya khas, sangat artistik
dibuat sebuah corak batik. “Di Cimahi ada juga motif batik curug cimahi. Curug itu air terjun, yang lokasinya ada di Kota
Cimahi,” kata Komar. Di Bogor ada corak kujang
dan kijang. Corak ini terinspirasi dari kijang yang hidup di dalam kawasan
Istana Bogor. Kujang sendiri merupakan senjata yang berasal dari Sunda.
di Sukabumi ada corak batik penyu.
Corak ini menggambarkan kekayaan satwa yang ada di Sukabumi, tepatnya di
pesisir selatan Jawa Barat. Di Cimahi ada corak daun sampeu. Sampeu yang
dalam bahasa Indonesia disebut singkong, merupakan salah satu jenis tanaman
yang tumbuh subur di Cimahi. Daun singkong yang bentuknya khas, sangat artistik
dibuat sebuah corak batik. “Di Cimahi ada juga motif batik curug cimahi. Curug itu air terjun, yang lokasinya ada di Kota
Cimahi,” kata Komar. Di Bogor ada corak kujang
dan kijang. Corak ini terinspirasi dari kijang yang hidup di dalam kawasan
Istana Bogor. Kujang sendiri merupakan senjata yang berasal dari Sunda.
Lantas,
siapa yang berhak menciptakan corak batik? Menurut Komar yang menjadi pengurus
di Yayasan Batik Indonesia dan tengah menempuh gelar doktoralnya di Fakultas
Seni Rupa dan Desain ITB ini, ada beberapa hal yang berhak menentukan corak
batik. Pertama, individu perajinnya atau seniman batiknya sendiri. Kedua,
konsensus atau kesepakatan dari masyarakat adat setempat. “Nantinya tergantung
apresiasi masyarakat, bagaimana corak batik itu bertahan di pasaran,” jelas
Komar.
siapa yang berhak menciptakan corak batik? Menurut Komar yang menjadi pengurus
di Yayasan Batik Indonesia dan tengah menempuh gelar doktoralnya di Fakultas
Seni Rupa dan Desain ITB ini, ada beberapa hal yang berhak menentukan corak
batik. Pertama, individu perajinnya atau seniman batiknya sendiri. Kedua,
konsensus atau kesepakatan dari masyarakat adat setempat. “Nantinya tergantung
apresiasi masyarakat, bagaimana corak batik itu bertahan di pasaran,” jelas
Komar.
Ragam
hias batik di Jawa Barat saja sudah menggambarkan bagaimana kayanya bangsa kita
akan produk budaya. Komar mengatakan, jumlah ragam hias batik di Jawa Barat
tidak terbatas. “Saya saja punya lebih dari 10.000 ragam hias,” ungkap Komar
yang aktif memproduksi batik di workshop-nya
di bilangan Cigadung, Bandung. Sudah sepantasnya kita ikut andil untuk
melestarikan dan mengembangkan batik milik Indonesia.
hias batik di Jawa Barat saja sudah menggambarkan bagaimana kayanya bangsa kita
akan produk budaya. Komar mengatakan, jumlah ragam hias batik di Jawa Barat
tidak terbatas. “Saya saja punya lebih dari 10.000 ragam hias,” ungkap Komar
yang aktif memproduksi batik di workshop-nya
di bilangan Cigadung, Bandung. Sudah sepantasnya kita ikut andil untuk
melestarikan dan mengembangkan batik milik Indonesia.
*Dimuat di Majalah Etnik Vol 4/Th 1 Desember 2013



![Balada Ondel-Ondel [Pe]ngamen](http://www.fandyhutari.com/wp-content/uploads/2016/01/IMG_1720-80x60.jpg)


