Sudah lama tak menulis catatan di blog. Sekarang, waktu lagi senggang. Dan, tempatnya lumayan asyik untuk berkisah. Saya ingin menulis alasan saya berhenti membuat karya fiksi.
Novel saya Sirkus Ilusi yang terbit pada Desember 2016 lalu oleh Stiletto Indie Books menjadi pertanda akhir karya fiksi saya. Novel itu pernah terbit di sebuah penerbitan kecil Kota Demak. Publikasinya hancur-hancuran. Kemudian saya menariknya, dan saya terbitkan kembali dengan banyak perombakan.
Dalam proses editing, saya mendapatkan saran dan kritik tajam dari penulis Dewi Kharisma Michellia. Kami berkirim pesan dinihari selama beberapa minggu. Dari sana, saya sadar, saya kok kurang berbakat menulis fiksi.
Usai membaca dokumentasi tulisan puisi dan cerpen saya, saya sadar. Tulisan itu begitu kering. Tak bernyawa. Kecuali beberapa judul. Akan tetapi, saya tak akan menghapus rubrik Cerpen dalam blog ini. Biarkanlah itu menjadi saksi perjalanan kepenulisan saya.
Selama perjalanan menulis, saya memang serampangan. Saya pernah menulis cerpen, puisi, humor, bisnis, hobi, investasi, dan sebagainya. Tentu saja, untuk proyek dari instansi dan penerbit yang meminta saya menulis genre lain, akan saya terima dengan senang hati, hehehe.
Selama 9 tahun berjalan, cerpen saya hanya sekali diterbitkan di surat kabar terkemuka, Republika. Selebihnya, hanya muncul di blog dan situs online kecil. Buku kumpulan cerpen saya pernah terbit berjudul Manusia dalam Gelas Plastik pada 2012.
Buku humor saya pun pernah terpublikasi. Namun, saya sudah malas membahas perihal buku itu di sini.
Saya sadar, menulis fiksi tak sembarangan. Bukan perkara berimajinasi belaka. Mereka yang sudah lahap membaca buku-buku fiksi pasti paham soal struktur dan kelindan di dalamnya.
Alasan lainnya, di Indonesia penulis fiksi muda yang baik sudah banyak. Saya tak mau rakus. Saya bisa sebutkan orang-orang yang saya kenal.
Selain Dewi Michell, ada Norman E. Pasaribu, Dias Novita Wuri, Dadang Ari Murtono, Heru Joni Putra, dan Dea Anugrah. Nama terakhir, saya belum pernah bersua. Namun, dari tulisan-tulisannya yang pernah saya baca, sangat bagus dan kaya bentuk.
Saya pun sadar. Saya bukan penulis sekaliber Remy Sylado, Seno Gumira Ajidarma, atau Afrizal Malna. Mereka sanggup menulis fiksi dan nonfiksi.
Meski demikian, saya tak akan berhenti membaca karya fiksi. Sebab, fiksi akan menambah perbendaharaan kosakata, wawasan, dan bentuk tulisan saya.
Saya saat ini akan fokus di tulisan-tulisan sejarah. Terutama terkait sejarah film dan sandiwara Indonesia. Meneruskan penelitian saya yang sudah terjun membahas tentang teater pada masa Jepang, yang kemudian dibukukan di dua penerbit berbeda.
Latar belakang saya yang memang alumnus sejarah, tentu menambah pengalaman untuk menelusuri segala dokumentasi lama yang bau apek di perpustakaan.
Saya juga sedang gandrung berburu artefak dan segala dokumentasi terkait sejarah film, serta sandiwara kita. Miris jika itu semua nanti “diambil” orang asing. Dan, lebih miris lagi kalau yang menulis sejarah perihal film dan sandiwara adalah pada sejarawan bule. Meski mereka bisa dijadikan referensi, toh bukankah sebaiknya sejarah kita, kita sendiri yang mengisahkan?
Itu menurut saya. Entah menurut saudara-saudara. Tabik []
—
Kafe Bookopi, Kalibata City, Jakarta. 12 September 2017.






