Melihat Lebih Dekat, Pameran Komik-Kartun 28 Bikini

Mice membuat karakter komik saat tanda pameran 28 bikini dibuka/Fandy Hutari

 

Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengadakan pameran bertajuk “28 Bikini-28 Tahun Bikin Komik-Kartun di Cikini” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berlangsung hingga 4 Juli 2015. Selain pameran, akan ada diskusi komik kampus, pelatihan komik strip, peluncuran buku, dan temu alumni IKJ.

“Penelitian kecil tentang proses membentuk sebuah karya komik adalah sebuah cara untuk melihat dunia dengan cara yang lain. Semua punya cara melihat,” kata Rektor Institut Kesenian Jakarta Wagiono Sunarto saat membuka pameran bertajuk “28 Bikini-28 Tahun Bikin Komik-Kartun di Cikini” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis malam (25/6).

Menurutnya, secara dahsyat, komik bisa mengkritik berbagai hal, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial. “Saat orang melihat ini sesuatu yang biasa terjadi, mereka (komikus) tidak melihat itu biasa. Sebuah komik bisa mengubah cara orang melihat hidup, perang, dan sebagainya,” tuturnya.



Koran Dinding

Pameran ini menampilkan karya komik-kartun yang bersumber dari tugas akhir dan karya bebas alumnus IKJ 28 tahun silam. Menurut Dosen Ilustrasi yang juga kurator pameran Iwan Gunawan, kegiatan membuat komik di IKJ diawali dari rutinitas tak sengaja membuat koran dinding.

“Periode di tahun 1980-an, (mereka berkarya) menggunakan media yang namanya koran dinding. Secara tak sengaja menjadi media yang secara rutin dilakukan oleh mahasiswa kita. Semua pikiran dan gagasan yang mungkin tak tertuang dalam tugas, dicurahkan di sana,” kata Iwan.


Para mahasiswa itu dikenal dengan sebutan “Sekte Komik”. Alumnusnya sudah menjadi ikon komik Indonesia, seperti Benny Rachmadi, Muhammad “Mice” Misrad, Alfi Zachkyelle, Pepeng “Naif”, dan Beng Rahadian.

“Merekalah yang terus menghidupkan koran dinding,” kata Iwan.

Lalu, saat mulai ramai komik Indonesia, di kampus, mereka semakin rutin membuat komik, walau tidak diterbitkan. “Kelompok yang menamakan dirinya Sekte Komik ini punya produk yang sangat banyak,” katanya.

Iwan mengaku, mengumpulkan karya komik-kartun yang dipamerkan itu dalam waktu yang singkat, hanya dua bulan. “Dunia kartun dunia komik itu menjadi suatu media yang mudah murah tapi cukup efektif mengekspresikan kreatifitas. Mengekspresikan masalah yang menjadi uneg-uneg pikiran mahasiswa saat itu,” kata Iwan.

Di pameran ini, terdapat karya komik-kartun yang merupakan tugas akhir mahasiswa IKJ, buku komik karya alumnus DKV IKJ, beberapa ilustrasi komik, banner profil alumnus Sekte Komik, dan banner perjalanan karya komik-kartun IKJ. []



Dimuat pertama kali di Monitordays.com, 26 Juni 2015.

LEAVE A REPLY