Donny Anggoro yang Absurd…

Saya, Mas Pry, Anna, Mas Donny/Roy Naibaho.

Pernahkah kamu tertipu? Saat membaca sebuah artikel di majalah, kamu berpikir penulisnya orang yang serius dan tak bisa bercanda. Pernahkah? Jujur saja, saya sudah beberapa kali tertipu seperti itu. Namun, kali ini saya benar-benar sangat tertipu.

*

Saya dapat jatah untuk libur hari Minggu. Para pekerja lain, terutama PNS, sudah menikmati long weekend mereka sejak Kamis lalu. Kesempatan libur pas di hari Minggu ini saya manfaatkan untuk bertemu seseorang. Saya sudah berjanji untuk berkunjung ke rumah beliau ini, sejak lama.

Beberapa kali janjian bertemu kami juga gagal. Suatu malam, menunggu dia di pelataran Taman Ismail Marzuki. Namun, saya menunggu hingga satu jam, orangnya tak kunjung tiba.

Esok hari, baru dia mengabari tak bisa bertemu lantaran diajak teman lamanya bertemu.

*

Dia Donny Anggoro*. Seorang penulis dan editor, mantan wartawan juga di beberapa media yang sudah bangkrut, hehe. Dia penulis buku Sastra yang Malas; Obrolan Sepintas Lalu, Chimera, […] dan Cerita-Cerita Lainnya. Saya mengenalnya dari sebuah artikel di Majalah Bhinneka edisi Negara Sekuler tahun 2012 lalu.

Mas Donny,akrab disapa DoRo, menulis sebuah artikel berjudul “Tuhan Milik Pribadi”. Kebetulan, saya pun menulis artikel berjudul “Maaf, Dilarang Bercelana Pendek di Sini.” Artikel saya menyoal kejadian di Tangerang, di mana beberapa oknum aparat menegur remaja perempuan yang mengenakan celana pendek.

Tulisan Mas DoRo begitu serius. Meliak-liuk, menggunakan beberapa data mengarah ke diskusi filsafat. Dari tulisannya, saya bisa membayangkan dia sosok yang serius, berkemeja, rambut panjang ikal, dan merokok tak habis-habis. Nyaris saya bayangkan dia mirip sosok Martin Aleida.

Saya dari dulu memang sering membayangkan penulis dan sosok aslinya. Bebarapa list soal penampilannya sudah tepat. Tapi, yang lain harus dirombak total.

*

Saya berangkat ke rumah Mas DoRo yang ada di bilangan Jalan Pemuda, Rawamangun dengan Roy Naibaho. Pria imut berlogat Batak yang saya kenal dari Mas Pry.

Sesampainya kami di rumah sederhana itu, situasi sangat senyap. Roy mengetuk pintu salah satu ruangan yang ada di sudut. Muncullah sosok tinggi besar berambut gondrong, dan berkacamata.

“Eh, nggak nerima sumbangan mas. Maaf,” kata pria itu.

“Oh ini Mas Fandy ya?” tanyanya.

Saya menahan tertawa mendengar kalimat pertama yang dilontarkan Mas DoRo. Lalu, kami masuk ke ruangan yang agak sempit dan berantakan. Ada seekor kucing berbulu emas. Nggak emas juga sih, kuning-kuning gimana gitu lah.

Kucing kurus berkalung tasbih itu mulai “berkenalan”. Tangan saya dicakar-cakar. Mau saya tabok, nggak enak.

Mas DoRo lalu bangkit, dan berkata: “Saya penjara dulu ya si Bipbip.”

Penjara? Ternyata dimasukan di dalam boks berwarna pink. Aih…

*

Kami lalu ngobrol ngalor-ngidul. Obrolan cenderung absurd. Mengawang-ngawang. Ngelantur.

“Mas, kenapa dinamakan Bakoel Didit toko bukunya?” saya bertanya.

Mas Doro, selain menulis juga menjual buku, kaset, dan vynyl. Tumpukan buku itu terkapar di atas meja yang berada di sudut kamarnya. Suatu ketika, saya agak terganggu. Pada November 2012, ada seseorang bernama DoRo yang tetiba menginbox Facebook saya.

Simak updated terkini blog kami
www.bakoeldidiet.blogspot.com
Mulai sekarang untuk buku karya terjemahan akan kami tampilkan pula link resensi/ulasan/reviewnya sehingga Anda dapat mengetahui lebih jauh buku-buku yang kami jajakan.Selanjutnya akan kami lengkapi pula review singkat CD dan DVD Film.

Salam,
Sekutu Bermutu!

Begitu bunyinya. Saya pikir nih orang siapa tiba-tiba inbox aneh. Ternyata itu Mas DoRo yang sedang menyamar sebagai pedagang buku, yang nyepam.
Oke, kita tinggalkan masa lalu. Kemudian, Mas DoRo menjawab pertanyaan saya.
“Karena di sini nggak ada yang namanya Didit,” katanya.
Sontak saja saya terbahak. Dan, semakin menegaskan sudut pandang saya: Ini orang absurd!
*
Kami masih saja bercerita soal penerbitan buku, film, musik, dan beberapa penulis yang kami kenal. Hingga akhirnya Mas Pry dan Anna datang. Setidaknya saya terselamatkan dari gejala sakit perut.
Dari sini saya jadi percaya pernyataan klasik dari novelis dan wartawan George Eliot (Mary Ann Evans): “Don’t judge a book by its cover
*
Terakhir, kami berdiskusi soal sebuah peluang menarik. Peluang yang memang menjadi hobi dan profesi kami. Apa itu? Rahasia. Pukul 20.00 kami pamit. Meninggalkan Mas DoRo dan Bipbip yang masih anak-anak [].
*Born in Jakarta, November 1976. Known in Indonesia as a poet, story writer, editor, novelist, book reviewer, and journalist. He was one of the founders of Cybersastra.net, the first literary web site in Indonesia with his colleagues, Nanang Suryadi and Yono Wardito since 1999. His works published in various journals, magazines, and newspapers: Hai, Pantau, Aufklarung, Aksara, Genta Budaya, Tradisi, Koran Tempo, Kompas, Lamin Sastra Balikpapan, and Sinar Harapan. Besides literature, a lot number of his comic review also could be found in important newspapers and magazines like The Jakarta Post, Matabaca, and Kompas. His movie critic also could be found in Rumahfilm,org,Movieland, F magazine and Layarperak.com. In August 2002 he was invited to The International Society of Poet’s Convention and Symposium, Washington DC after his English poet “In My Time” selected in collection of poems “Letters from The Soul”. “Letters from The Soul” were published by The International Library of Poetry. In September 2002 he was invited as a juror in Khatulistiwa Literary Award from The Khatulistiwa Foundation. He was also invited as an guest editor for Tabloid SENIOR, one of the healthy lifestyle magazine were published by sub division of Kompas-Gramedia Group in November 2003 until March 2004.
Now he lives in Jakarta as a journalist, book reviewer, and freelance book editor at several publishers in Indonesia (From Goodreads.com).

LEAVE A REPLY