Menurut Cecep dari Komunitas Hong—sebuah komunitas yang konsen pada pelestarian permainan tradisional di Jawa Barat—di Jawa Barat saja ada sekitar 250 lebih jenis mainan dan permainan tradisional, baik yang sudah punah maupun yang masih dimainkan. “Ada lebih dari 250 jenis mainan dan permainan tradisional di Jawa Barat. Tapi kebanyakan sudah punah, walaupun beberapa masih ada yang dimainkan,” tuturnya.
Egrang merupakan permainan yang menggunakan media dua buah bambu dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Kedua bambu itu dibuat pijakan sekitar 15 sampai 30 cm. Pemain berdiri di kedua pijakan, menjaga keseimbangan, dan berjalan dengan bambu
itu.
jengkol jajahean, kadempet kohkol jejeretean. Lagu ini terus dinyanyikan berulang-ulang sampai anak-anak kelelahan atau ada anak yang terjatuh. Gatrik adalah permainan yang menggunakan alat dua potongan bambu, yang satu menyerupai tongkat berukuran sekitar 30 cm, dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu, lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin. Pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai pukulannya meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir.
Gasing adalah permainan dengan media gasing sendiri, yang terbuat dari kayu atau bambu, bahkan ada juga yang terbuat dari plastik. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan, dan bagian kaki atau paksi. Cara memainkannya diputar dengan seutas tali hingga berputar-putar di tanah. Bedil jepret merupakan permainan yang menggunakan sebuah alat mirip senapan berpeluru lenca. Lenca itu dilontarkan sampai mengenai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Kelom batok adalah permainan yang memanfaatkan dua buah batok kelapa setengah lingkaran dilubangi sebagai medianya. Ujung batok kelapa itu diikat tali, dan pemain
meletakkan telapak kaki di batok, menjepit tali dengan jari jempol dan telunjuk, lalu berjalan memegang tali. Rorodaan adalah permainan yang dimainkan oleh seorang pemain dengan menaikkan mobil-mobilan yang terbuat dari kayu. Sondah adalah permainan yang dimainkan seorang anak dengan melompat-lompat dari satu kotak ke kotak lainnya. Di
kotak-kotak bergaris yang sudah digambar sebelumnya, pemain yang telah selesai lalu menepuk pemain di depannya untuk melanjutkan permainan.
Sorodot gaplok merupakan permainan yang memakai batu pipih berdiameter sekit
ar 20 cm. Jumlah pemain bisa sampai 10 orang terbagi dua kelompok. Setelah diundi melalui lempar batu terdekat dengan garis batas, tim yang menang kemudian menaruh batu di punggung kaki. Sementara tim satunya mendirikan batu berjejer di salah satu garis. Dari jarak sekitar lima meter tim penyerang berusaha merobohkan batu tim lawan hingga semua batu tim lawan roboh. Tapi jika tak berhasil, gantian tim lawan yang akan merobohkan batu tim penyerang. Perepet jengkol biasanya dimainkan oleh 3 sampai 4 anak. Mereka berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menj
aga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil
bergerak berputar ke arah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang, yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih: Perepet
Sarat makna
Rupanya, dari waktu ke waktu permainan tradisional mengalami transformasi sesuai perubahan jaman. Ada informasi yang menyebutkan bahwa sebelum masa penjajahan, permainan tradisional diwakili oleh aturan tegas yang menyertainya. Contoh
permainan tradisional Sunda pada masa ini, yaitu ucing-ucingan, kelom batok, dan gagolekan. Pada masa penjajahan, permainan tradisional berubah lagi ‘aturannya’. Anehnya, pada masa ini,
muncul permainan tradisional yang berbau militer, seperti bedil jepret dan bebeletokan. Dan, setelah kemerdekaan, muncul permainan yang bervisi kehidupan , seperti masak-masakan. Memang, masih perlu penelitian lebih mendalam lagi soal ini. Tapi, yang patut diperhatikan adalah, anak-anak pada setiap jaman berpikir untuk menciptakan permainannya sendiri berdasarkan kondisi jamannya.
Dalam sebuah kesempatan, Rudi Colens, pengelola museum anak Kolong Tangga Yogyakarta, mengatakan bahwa banyak jenis permainan tradisional menjadi jembatan anak-anak untuk bersosialisasi. Katanya, banyak pula permainan itu mengajarkan kejujuran, toleransi, kreativitas, maupun nilai-nilai positif lain yang bermanfaat di dalam kehidupan bermasyarakat suatu bangsa. Memang, jika kita resapi lebih dalam, 9 jenis permainan dalam alimpiado semuanya punya nilai positif, dan kaya akan makna filosofis.
Kelom batok melambangkan keseimbangan. Berjalan menggunakan seutas tali di atas batok, bermakna manusia harus berhati-hati dalam menjalankan kehidupan di atas bumi. Egrang tak jauh berbeda. Menurut saya, egrang adalah perlambang kehati-hatian manusia dalam menjalankan hidup jika nasibnya sudah di atas. Egrang mengajarkan sikap rendah hati, dan harus tetap melihat ke bawah. Sondah atau yang ;ebih populer dengan sebutan engkle melambangkan perjalanan manusia sampai surga.
Cecep sadar bahwa arus modernisasi memengaruhi cara berpikir instan anak-anak di masa sekarang. Menurutnya, anak-anak sekarang tak lagi mau berpikir keras soal menciptakan mainan dan permainan. Mereka lebih tertarik pada hal-hal serba praktis. “Mau bermain, ya tinggal beli,” katanya. Padahal, permainan tradisional dapat mempertajam otak kiri, menambah rasa solidaritas, proses belajar sosialisasi, kerjasama, dan mengajarkan kehidupan yang luas. Kita harus sadar, bahwa bangsa kita memiliki kekayaan luhur permainan tradisional. Jangan sampai orang asing yang lebih peduli dengan masalah ini. Apalagi sampai diklaim negara tetangga. Kalau sudah terlanjur begitu, kita cuma bisa menahan ironi dalam hati, menyesal, dan mencaci maki.