Saya ingin menulis sesuatu mengenai kisah di balik foto artis masa lampau. Namanya Nurnaningsih. Orang-orang biasa memanggilnya Nur atau Nurna. Ia sangat tenar pada awal 1950-an.
Sebenarnya terlambat saya mendapatkan foto ini. Sebelumnya, saya sudah menuliskan soal Nurna di Majalah Historia Nomor 36 Tahun III. Di sana, saya membantah jika Nurna pernah beradegan setengah telanjang di film Harimau Tjampa (1954)—yang dikutip salah banyak media mainstream, hingga ia dicap sebagai artis sensual pertama.
Perempuan asal Surabaya itu merantau kali pertama usai lamarannya menjadi pemeran dalam sebuah film yang digarap sutradara Usmar Ismail diterima. Menurut Majalah Cinta, Juli 1973, Nurna memang memiliki cita-cita menjadi bintang film.
Saat pertama kali merantau ke ibu kota, ia sempat tinggal di sebuah gubuk di pinggir kali Ciliwung. Lamaran Nurna pun terbilang ekstrem. Ia mengirim 45 pas foto dan guratan darah di surat lamarannya kepada Usmar.
Usmar pun menerimanya, membintangi film Krisis pada 1953. Film ini sukses besar. Hebatnya lagi, pemasukannya bisa membuat studio yang memproduksinya, PERFINI, selamat dari kebangkrutan dan meraup untung besar.
Nurna pun mulai dikenal, karena kecantikan dan aktingnya. Banyak laki-laki tergila-gila kepadanya.
Sayang, skandal foto sensual—dalam banyak media pada 1950-an disebut bugil—menyebar pada 1954. Membuat namanya pun tercoreng. Di pasar-pasar gelap, foto Nurna dibanderol hingga Rp300.
Nurna pun harus bolak-balik ke Kejaksaan Tinggi dan kepolisian moral untuk laporan dan diperiksa. Saya sendiri tak menemukan foto bugil Nurna. Yang ada hanya foto berbikini—bra dan celana dalam.
Mungkin saja, di masa itu berbusana demikian dianggap bugil. Foto itu pun saya temukan di sejumlah majalah. Termasuk menjadi foto sampul majalah Liberal edisi 30 Oktober 1954 dan 20 November 1954.
Nurna dicerca banyak pihak. Mulai dari bintang film Malaysia, orang film di Indonesia, pejabat, termasuk oleh Usmar Ismail sendiri.
Nurna berkilah. Apa yang dilakukannya itu—berfoto “bugil”—untuk kepentingan kesenian ia mau mendobrak dan menjadi pelopor tradisi hanya merintangi kemajuan (Mimbar Indonesia dalam Djambak, Nurnaningsih Affair, 1954).
Ya, ia mengatakan, foto-foto itu memang sengaja dibuatnya, untuk keperluan melukis. Selain sebagai bintang film, Nurna adalah pelukis. Ia juga penyanyi, pemain sandiwara, pemain piano, dan pernah menjadi kiper di sebuah klub amatir di Jawa Tengah.
Kembali ke masalah foto. Di dalam foto hitam-putih itu, Nurna tampak tengah tersenyum manis. Tak jelas dalam momen apa ia berfoto. Namun, yang menarik, ada tulisan tangan dalam bahasa Inggris, dengan tinta berwarna hitam dan merah di balik foto itu.

“Nurnaningsih
I dont care what people think about you, but for me you’re still the most attractive one.”
Tulisan tersebut tertanggal 14 Juni 1955. Saat itu, perbincangan skandal foto Nurna masih hangat di masyarakat. Meski skandal foto Nurna sesungguhnya sudah sangat heboh pada Oktober 1954.
Tulisan itu, saya yakini sebagai ungkapan rasa cinta seorang penggemar Nurna. Ia tak peduli apa kata orang—tentu saja terkait heboh foto syur. Ia tetap yakin, Nurna adalah artis paling menarik.
Usai riuh skandal foto Nurna menepi. Ia sempat hilang dari dunia perfilman, setelah menyeberang dan bermain di film-film produksi Golden Arrow.
Pada 1968, ia muncul kembali di film Djakarta-Hongkong-Macao. Mendapatkan peran kecil sebagai ibu dari Farouk Afero (Karsono)—tokoh antagonis di film ini.
Penggemar ya tetap penggemar. Ia bahkan rela melakukan apapun untuk bintang pujaannya, kan?







Menarik mas kisahnya. Saya sedang meriset kecil-kecilan artis seangkatan Nurnaningsih, Titin Sumarni , ada info yg bagus mas mengenai artis yang satu ini? Thnks sebelumnya
Oh masalah Titien Sumarni, saya juga sedang menulisnya untuk artikel.