Saya pernah bertemu penulis dan peneliti musik dangdut asal Amerika Serikat. Dalam obrolan santai, ia menyentil. “Sekarang ini kalian masih dijajah. Lihat saja, sejarah kalian ditulis oleh orang Amerika, Belanda, Jepang,” katanya.
Tentu, lontaran kalimatnya bukan isapan jempol belaka. Yang termudah, lihat siapa yang diakui sebagai orang yang paling mumpuni bicara perihal Diponegoro? Ya,sejarawan Inggris, Peter Carey.
Saya ingat, dahulu saat kuliah, sejarah pemikiran soal tokoh-tokoh sejarawan Indonesia pun minim. Ada sebuah buku “wajib” dibeli dan dibaca, menyoal para sejarawan Barat. Nama-nama sejarawan, seperti Herodotus, David Hume, Julius Caesar, Thucydides, Henri Pirenne, dan sebagainya menjadi bahan wajib hafal.
Tak pernah disinggung soal sejarawan Indonesia lainnya, seperti Kuntowijoyo atau Onghokham. Hanya menyinggung Sartono Kartodirdjo tentu saja. Yang menjadi miris, penulisan sejarah kita mayoritas ditulis oleh para akademisi, penulis, dan peneliti Barat.
Saya ingat, meski tak ingat-ingat sekali, saat duduk di bangku kuliah 12 tahun silam ada mata kuliah Pengantar Filsafat dan Pemikiran Modern. Di sana, saya dijejal aneka pemikiran dari dunia lain di seberang laut sana: Eropa.
Nama-nama Plato, Aristoteles, Socrates—para filsuf Yunani itu akrab sekali terdengar.Tentu saja menjadi nama-nama wajib yang dilontarkan di ruang kuliah. Selebihnya, nama-nama Friedrich Nietzsche, Jean Paul-Sartre, dan Karl Marx akrab didengar dan dibaca di luar ruang kelas.
Celakanya, saya jarang sekali-dan tentu saja bukan dari mata kuliah di kampus-mendengar pemikir-pemikir Indonesia yang dibahas. Padahal, khazanah sejarah pemikiran Indonesai sangat kaya.
Tak ada mata kuliah khusus yang mempelajari soal sejarah pemikiran Indonesia. Akibatnya, nama-nama pemikir jempolan, seperti Ranggawarsita, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Ki Ageng Suryomentaram, Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Franz Magnis-Suseno, M. Yamin, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terdengar lamat-lamat.
Pun mengenal mereka dari bacaan di luar kampus. Padahal, pemikiran mereka lebih membumi dan orisinil. Mereka tak pernah ditemukan di kancah filsafat mana pun di dunia, dan mereka tentu saja tak kalah hebat dengan para pemikir yang sering saya dengar di bangku kuliah dahulu.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ronggolawe, Tuban, Suhariyadi tampaknya memiliki kegelisahan yang sama dengan saya.
Di dalam sebuah artikelnya berjudul “Sastra Indonesia, Sejarah Pemikiran Indonesia, dan Kebijakan Pengembangan Kebudayaan Indonesia”, Suhariyadi tersentak kala ikut kuliah dengan Guru Besar Universitas Negeri Surabaya, Setya Yuwono Sudikan.
Menurut Suhariyadi, Setya mengatakan bahwa pembagian masyarakat Jawa menjadi santri, priyayi, dan abangan, yang sudah lama dipahami masyarakat, justru menjadi kajian ilmiah di tangan Clifort Gertz, seorang antropolog asal Amerika Serikat. Miris.
Dalam bidang kebudayaan, seniman kita pun tak kalah hebat. Dahulu, pada 1950-an, ada Miss Dja (Soetidjah) yang mengajarkan tari para artis Hollywood, kiblat film dunia. Dja, saat itu mengajar tari Bali dan Jawa. Sebelumnya,
Dja bersama rombongan tonilnya (teater) Devi Dja’s Bali-Java Dancers (saat masa Hindia Belanda mereka dikenal dengan nama Dardanella) keliling dunia, mengenalkan budaya Nusantara ke berbagai negara di Asia,Eropa, hingga Amerika.
Menurut P.J. Zoetmulder, seperti dikutip dalam buku Jakob Sumardjo berjudul Estetika Paradoks, sama seperti orang India, orang Indonesia pun tidak berminat terhadap filsafat itu sendiri,melainkan hanya pada filsafat yang mengajarkan hubungan pribadinya dengan Tuhan.
Jakob pun mengamini pernyataan Zoetmulder tersebut. Filsafat Indonesia selalu kembali kepada hubungan manusia dengan semesta, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Lantas, bagaimana sesungguhnya kandungan dan wujud filsafat Indonesia itu?
Semua ada dalam artefak kebudayaannya, seperti upacara religi, kain tenun, sastra, tarian, tabuh-tabuhan, bangunan rumah, candi, ukiran, relief, tingkah laku, dan sebagainya.
Lihatlah candi-candi kita yang berserak di sejumlah daerah. Semua dibangun sangat penuh perhitungan, simbolik, dan tertata rapi. Di Cianjur, ada situs megalitikum luar biasa yang dibangun nenek moyang kita, Gunung Padang. Batuannya yang berbentuk balok persegi, tentu mustahil jika tak dibentuk dengan sengaja oleh manusia Indonesia dahulu.
Bahkan, menurut buku Ali Akbar, Situs Gunung Padang; Misteri dan Arkeologi, berdasarkan hasil uji carbon dating Laboratorium BATAN di kedalaman 3,5 meter materi paleosoil pada 2012, menunjukkan usia batuan situs itu 4.700 SM. Laporan mencengangkan datang dari laboratorim internasional Beta Analytic Miami, yang mencatat bahwa usia lapisan di kedalaman 5 hingga 12 meter mencapai 14.500 hingga 25.000 SM.
Tentu semua peninggalan bangsa kita itu tak kalah dengan peninggalan dari negara lain. Semua diciptakan melalui hasil proses berpikir yang benar-benar mutakhir.
Ratusan tahun dijajah barangkali sudah membuat kita merasa menjadi bangsa yang selalu tunduk. Atau, barangkali pula sejak dahulu bangsa kita tak terbiasa menulis, hanya lisan. Maka tak heran bangsa kita kaya akan tradisi folklor, minim tulisan.
Meski tak bisa dipungkiri kita memiliki naskah-naskah luar biasa, semisal I La Galigo.
Untunglah kesadaran ilmuwan terhadap kondisi ini sekarang sudah semakin terbuka. Salah satu contoh, pada 2014 lalu, diadakan Simposium Internasional Filsafat Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Ketua penyelenggara acara ini, budayawan Jaya Suprana, menyampaikan bahwa latar belakang diadakan simposium adalah rasa sedihnya, karena di kancah dunia kita belum pernah mendengar pembicaraan mengenai filsafat Indonesia.
Padahal, sejarah pemikiran Indonesia tak kalah dahsyat, membumi, dan orisinil. Tampaknya, institusi yang berwenang perlu mengkaji ulang mengenai sejarah pemikiran Indonesia.
Bangsa kita—memang agak klise—kaya akan semua itu. Tradisi lokal kita, melimpah ruah menyimpan filosofi luar biasa yang tak kalah dengan bangsa lain.
Tokoh-tokoh pemikir kita perlu diperkenalkan kepada para mahasiswa, atau anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Memang, tak salah mempelajari sejarah pemikiran Barat. Hanya saja, tampak porsinya terlalu berlebih. Bukankah lebih arif jika porsi sejarah pemikiran ini dibuat seimbang?
Masalah jarangnya orang Indonesia yang fokus meneliti sejarahnya sendiri, dugaan saya, karena banyak di antara mereka menyerah kepada uang. Mereka yang lulus dari bidang sejarah, kemudian banyak yang banting setir, pergi ke perusahaan-perusahaan yang menjamin dompet mereka terisi.
Waktu seolah habis terkuras di dalam sekat-sekat lingkar kerja, kerja, dan kerja. Penelitian dianggap, buang-buang waktu dan uang. Sehingga, tak ada lagi kepedulian soal wacana penelitian sejarah.
Sedangkan para peneliti Barat, saya kira sudah ditunjang dengan pendanaan yang banyak, serta waktu luang yang cukup.
Barangkali seperti itu.


![Balada Ondel-Ondel [Pe]ngamen](http://www.fandyhutari.com/wp-content/uploads/2016/01/IMG_1720-696x385.jpg)



