Bajaj, From Jakarta with love

Tentu pemandangan biasa jika kita melihat bajaj (baca: bajai) hilir-mudik di jalan-jalan ibu kota. Kendaraan khas bersuara knalpot berisik, beroda tiga, jalan “sempoyongan”, dan warna merah mendekati oranye (ada juga biru) ini memang merupakan salah satu moda transportasi di Jakarta. Tapi, jika bajaj ada di Bandung, apakah biasa? sepertinya tidak.


Mengacu pada ensiklopedia online yang jadi sumber sejuta umat, Wikipedia, bajaj berasal dari negerinya Mahatma Gandhi, India. Nama bajaj sendiri diambil dari nama sebuah perusahaan otomotif di India sana, bernama Bajaj Auto. Sumber lain memberikan informasi yang lebih detail soal bajaj. Menurut sumber yang berasal dari sebuah blog perusahaan Bajaj Auto dibentuk pada 29 November 1945. Di tahun 1948, Bajaj memproduksi kendaraan adopsi roda dua yang menjadi kendaraan roda tiga. Bajaj waktu awal muncul di bawah lisensi Vespa Italia.

Kendaraan ini masuk ke Jakarta dan beberapa kota di Indonesia sebagai kendaraan pengganti becak, yang dianggap kurang manusiawi di tahun 1970 atau 1980-an (tanggal pastinya belum jelas). Bajaj masih eksis sampai kini dan upaya membuat punah angkutan ini susah, sehingga kemudian lebih mudah mengalihkannya ke jenis bajaj baru, Bajaj type RE 4 stroke yang menggunakan mesin 4 tak, dengan sistem 2 bahan bakar, premium dan bahan bakar gas, berwarna biru, berbeda dengan bajaj legendaris dua tak yang berwarna oranye.


Selain di Jakarta, bajaj bisa kita temui di Banjarmasin dan Pekanbaru, serta beberapa ibu kota kabupaten di Indonesia. Namun, sore itu (tahun 2011, saya lupa tepatnya kapan), saya bersama seorang kawan, menyaksikan sebuah bajaj sedang asyik parkir di pinggir jalan Tamansari yang sedang padat merayap. Saya menghampirinya, berharap menemukan si sopir. Tapi, nihil.Bajaj itu terparkir tanpa tuan. Lucunya, ada stiker “punya babe gue,” “hilang diomelin emak,” dan “from Jakarta with love” di bagian belakang si bajaj []


[Foto Fandy Hutari dan Erry Indra].

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY