Aksi “Douglas Fairbanks van Java”, dari Main Anggar Sampai Jadi “Playboy” Panggung

Tan Tjeng Bok alias Douglas Fairbanks van Java yang termasuk ke dalam The Big Five Dardanella. (Sumber: Ramadhan KH, 1982: 96).

Douglas Fairbanks adalah seorang aktor Hollywood berasal dari Amerika Serikat. Pada tahun 1920-an, Fairbanks sangat terkenal bagi pecinta film di dunia. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1883 di Denver, Colorado, Amerika Serikat dan meninggal pada 12 Desember 1939 di Santa Monica, California, Amerika Serikat. Pada masanya, ia merupakan bintangnya Broadway. Banyak film yang diperankannya mendapatkan apresiasi publik film, semisal film debutannya berjudul The Lamb (1915), The Mask of Zorro (1920), Robin Hood (1922), dan The Thief of Baghdad (1924). Ia mendapatkan julukan “Raja Hollywood”. Fairbanks tangkas dan gesit di setiap adegan filmnya. Ia mampu memukau mata penonton dengan aksinya.


Pada 1920-an rombongan sandiwara (tonil) di Indonesia banyak memainkan cerita-cerita yang mereka sadur dari film-film Hollywood. Termasuk film Douglas Fairbanks—yang menilik dari judulnya kebanyakan diadaptasi dari Cerita 1001 Malam. Salah satu rombongan sandiwara yang menyadur film-film Hollywood untuk dimainkan di atas panggung teater adalah Dardanella, yang merupakan raksasanya rombongan sandiwara saat itu.

Di dalam rombongan yang dibentuk di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 21 Juni 1926 oleh seorang mantan pemain sirkus, Willy Klimanoff—yang punya nama tenar A. Piedro—ini ada pula Douglas Fairbanks. Namun, “Douglas Fairbanks” yang ini tidak seputih, sekekar, setinggi, dan setampan Douglas Fairbanks asli. Tapi, keahliannya boleh diadu dengan Douglas Fairbanks-nya Hollywood. Dia adalah Tan Tjeng Bok. Di Dardanella, Tan Tjeng bok meraih kesuksesan yang luar biasa. Bayangkan saja, pada tahun 1920-an, dia mendapatkan bayaran setinggi langit, hidup mewah, dan memiliki sebuah mobil Royal-Royce.

Mungkin jika kita melihat riwayat hidupnya sewaktu kecil, kita tak akan menyangka dia bisa setenar dan sekaya itu. Tan Tjeng Bok kecil dikenal sebagai anak yang bandel. Dia sering bolos sekolah. Hingga sampai di kelas tiga, ia disuruh berhenti sekolah karena terus-menerus gurunya melapor. Ketertarikan Tan Tjeng Bok pada kesenian sudah ada sejak kecil. Dia sering keluar malam cuma ingin menonton tonil dan wayang cina. Selain itu, dia senang pada musik keroncong, dan tertarik pada dunia tarik suara. Sewaktu pergi ke Betawi mengunjungi ibunya yang menjanda, ia sempat ikut grup keroncong di Batavia. Hingga akhirnya Ayahnya menyuruh dia pulang ke Bandung, karena tak senang Tan Tjeng Bok menggeluti dunia tarik suara (Junus Yahya, 2002: 32-33).
Sebelum bergabung dengan Dardanella, ia sempat keluar-masuk rombongan lain, seperti De Goudvissen sebagai pesuruh, rombongan Lenong Si Ronda, Stambul Indra Bangsawan, sampai orkes Hoetfisher. Konflik dengan ayahnya berakhir dengan pengusiran dirinya saat Tan Tjeng Bok ikut keliling dengan rombongan Lenong Si Ronda. Saat berkeliling di Jawa bersama orkes Hoetfisher, beruntung Tan Tjeng Bok bertemu Willy Klimanoff alias Piedro dengan rombongannya, Dardanella, di Bangil. Pilihan Tan Tjeng Bok bergabung dengan rombongan ini sangat tepat. Sebab, di sinilah kebintangan Tan Tjeng Bok bersinar terang.

Lalu apa yang membuat Tan Tjeng Bok populer saat di Dardanella? Jelas dari aksi-aksi panggungnya. Dia piawai memainkan peran-peran dalam lakon-lakon yang diadaptasi dari film-film Hollywood, semisal The Three Musketeers, Robin Hood, The Mask of Zorro, The Black Pirate, dan The Thief of Baghdad. Judul-judul ini merupakan film yang dibintangi Douglas Fairbanks. Dalam memainkan lakon-lakon tadi, Tan selalu berperan sebagai tokoh utama. Dia andal memainkan anggar. “Adu anggar yang dimainkan oleh Tan Tjeng Bok dan Astaman menjadi kesukaan banyak orang,” tulis Ramadhan KH yang mengisahkan Dewi Dja seorang primadona Dardanella dalam bukunya Gelombang Hidupku; Dewi Dja Dari Dardanella (1982). Kepiawaian Tan Tjeng Bok memainkan rol lakon-lakon itu “meniru” aksi Douglas Fairbanks. Hingga akhirnya publik menyematkan julukan “Dougas Fairbanks van Java” untuk dirinya.
Jakob Sumardjo pernah berkata kepada saya kalau memang publik teater zaman ini sangat senang dengan aksi-aksi yang fantastik, unik, bahkan ajaib. Salah satunya ya permainan anggar di atas panggung seperti yang diperagakan oleh Tan Tjeng Bok itu. Menurut Jakob Sumardjo (2004: 117), Dardanella khusus membuat cerita-cerita panggung yang diambil dari sastra Barat, seperti karangan Alexandro Dumas untuk diperankan si “Douglas Fairbanks van Java” Tan Tjeng Bok tadi.

Kesuksesan Tan Tjeng Bok tidak lepas dari “tangan dingin” sang kreator dan pimpinan rombongan, A. Piedro. Menurut pengakuan Tan Tjeng Bok sendiri, Piedro berperan besar pada “kemunculan” dirinya menjadi “Douglas Fairbanks van Java”. Dalam buku Junus Yahya berjudul Peranakan Idealis, Tan Tjeng Bok berkata, “Karena dialah (Piedro) saya bisa bermain anggar. Lalu sukses dalam karir saya, sampai-sampai digelari Douglas Fairbanks van Java.”
Ramadhan KH (1982: 70-71) juga menulis, “Ia (Piedro) melatih para pemain dengan cara-cara yang baru. Ia berusaha keras menghilangkan hal-hal yang dirasakannya telah membosankan. Di samping itu ia melatih anak-anak wayangnya dengan keras, dan dengan pesan supaya setiap orang menjaga nama baik rombongannya, baik di panggung, maupun di luar.”
Selain dikenal mampu “menyihir” penonton Dardanella, Tan Tjeng Bok pun ahli memikat hati perempuan. Sewaktu di Dardanella, Tan Tjeng Bok sempat beberapa kali gonta-ganti pasangan. Dewi Dja, rekannya di Dardanella pun mengakui kalau Tan Tjeng Bok punya daya pikat luar biasa bagi para penonton perempuan. Contohnya saja ketika mereka manggung di Gedung Thalia, Batavia, saat memainkan The Sheik of Arabia. Dja mengungkapkan,“Yang mendapat pujian hebat lagi ialah tan Tjeng Bok. Ia seperti besi berani yang menarik mata perempuan-perempuan muda yang berada di ruangan Thalia itu. Tepuk tangan untuknya riuh dan panjang pula…Lebih-lebih lagi sewaktu ia bernyanyi dengan suaranya yang menerawang memikat hati penonton-penonton perempuan yang banyak tergila-gila.” (Ramadhan KH, 1982: 75).

Tan Tjeng Bok juga suka kawin-cerai. Menurut pengakuannya, jumlah mantan istrinya sampai lebih dari 100 orang sejak pertama kali menikah di tahun 1917. Dia pun tak ingat satu-persatu nama mantan istrinya itu. Setelah masa keemasan Dardanella berakhir di awal tahun 1940-an, Tan Tjeng Bok pindah ke rombongan Orpheus. Lalu melangkah ke dunia film. Banyak sekali film yang dibintanginya hingga tahun 1970-an. Tan juga sering muncul di televisi saat TVRI mengudara. Dia juga membuat beberapa album keroncong. Pada 1985, Tan Tjeng Bok wafat karena serangan jantung, setelah sempat dijenguk Dewi Dja.

Dunia boleh terpukau oleh aksi Fairbanks dalam film-filmnya, namun Indonesia juga pantas berbangga punya Tan Tjeng Bok!

Bandung, 11 November 2011.
Dimuat Majalah Panggung. Majalah teater Festival Teater Jakarta 2011-2012.

LEAVE A REPLY