Mengunggah Derita

Beberapa pemuda sibuk berfoto saat terjadi kebakaran di Pasar Senen 2014 lalu/Andrey Gromico

Sebuah rumah makan tak jauh dari rumah saya terbakar. Api berkobar. Sebagian orang sibuk membawa air dan menyiramkan ke titik api. Beberapa orang hanya menonton. Sebagian besar lainnya sibuk mengeluarkan smartphone dari saku mereka.

Lantas, dengan cekatan, tangan mereka memijat tombol untuk memotret kejadian itu. Lalu, sejumlah lainnya, mengunggah peristiwa petaka tadi ke akun facebook masing-masing. Tak lama, satu unit mobil pemadam kebakaran tiba ke lokasi. Mereka berhasil memadamkan api yang sudah berkobar sekitar 30 menit itu.

facebook, memang salah satu media sosial yang amat populer bagi masyarakat kita. Jumlah pengguna facebook sendiri, dari tahun ke tahun terus bertambah. Bahkan, jangka waktu untuk meraup penggunanya terbilang singkat.

Penulis dan peneliti Erik Qualman dalam bukunya, Socialnomics; How Social Media Transforms the Way We Live and Do Business menulis, untuk mencapai 50 juta pendengar, radio membutuhkan waktu hingga 38 tahun. Sedangkan televisi butuh waktu 13 tahun untuk menggapai 50 juta penonton.

Internet membutuhkan waktu 4 tahun untuk mendapatkan 50 juta pengguna. Sementara itu,facebook hanya butuh waktu 9 bulan saja untuk mencapai 100 juta pengguna.

“Sementara itu, facebook hanya butuh waktu 9 bulan saja untuk mencapai 100 juta pengguna”

Di Indonesia, pengguna facebook sangat melimpah. Dikutip dari Kompas.com, menurut Business Group Head facebook, Reynold D’Silva, pengguna facebook di Indonesia di kuartal ke empat tahun 2015 mencapai 82 juta orang.

Jumlah tadi tumbuh dari 77 juta pengguna setahun sebelumnya. Angka itu mendekati jumlah total pengguna internet di tanah air. Sebagian besar dari pengguna aktif facebook ini, sekitar 94 persen mengakses media sosial kreasi Mark Zuckerberg dari perangkat mobile (smartphone).

Artinya, kemajuan teknologi smartphone ikut menjadi aktor dalam agresivitas update. Dalam genggaman dan beberapa kali klik, segala aktivitas bisa langsung dibagikan. Dilihat seluruh teman dalam jejaring.

Facebook yang awalnya diciptakan untuk menjaring dan berkomunikasi para kolega di dunia maya, kini berubah jadi ajang pamer.

***

Pasti, satu-dua kali kita pernah mengunggah berbagai aktivitas ke ranah dunia maya. Entah itu foto selfie, sedang berkumpul bersama teman, memotret makanan yang hendak dimakan, menyebar informasi, membagikan berita hoax, dan sebagainya.

Lumrah, dan sah-sah saja. Apapun bisa diunggah di facebook. Bahkan, hal-hal pribadi pun bisa disebar di facebook semisal hubungan asmara, mengeluh pekerjaan, atau pamer ibadah.

Akhir-akhir ini, malah sejumlah pengguna facebook ada yang rajin mengunggah peristiwa dramatis yang dilihatnya sendiri—seperti peristiwa kebakaran yang sudah saya singgung di awal tulisan.

Beberapa waktu lalu, tersebar foto seorang polisi yang terjatuh kala mengejar seorang perempuan pengendara sepeda motor yang panik takut kena Razia Patuh Jaya di Jakarta.

Perempuan yang panik itu memutar balik motornya, lantas sang polisi mengejar, dan memegang besi behel motor perempuan tadi. Namun, perempuan tadi menarik gas dan akhirnya polisi serta perempuan tadi terjatuh.

Foto tersebut sempat menjadi viral di facebook. Dibagikan oleh banyak akun. Bahkan diolah menjadi meme yang kocak.

Sebelumnya, saya melihat beberapa teman facebook membagikan foto, beserta keterangan status, di facebook.

Ada yang membagikan foto seorang bule dan kekasihnya di tengah jalan, habis jatuh dari motor. Dalam foto itu, banyak orang hanya menonton.

Lalu, ada pula teman facebook yang mengunggah foto seorang anak perempuan—dilihat dari seragamnya, kemungkinan siswi SMP—yang berdiri di sebelah pria dewasa di atas sepeda motor. Dalam keterangan status foto itu tertulis bahwa siswi tadi sedang dicabuli pria dewasa, yang merupakan tukang jemput siswi itu.

Banggakah kita menjadi yang pertama memotret dan mengunggah, bukan menolong?

***

Fenomena mengunggah kepedihan orang lain tadi mungkin menjadi bagian dari eksistensi diri difacebook. Bagaikan seorang jurnalis media online, mereka seolah-olah berlomba menjadi yang terdepan dalam menyampaikan informasi yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri.

Sebenarnya, tindakan unggah foto seperti ini mirip dengan fenomena masyarakat Jakarta di jalanan, yang ditulis oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Tiada Ojek di Paris.Seno menulis artikel berjudul Bukan-Tontonan di bukunya itu.

Jika ada sebuah kejadian di perjalanan, banyak orang akan melihat ke satu arah. Menurut Seno, “Tontonan sebagai tontonan sudah pada tempatnya, meski tontonan itu tentang manusia teraniaya, tapi bukan-tontonan sebagai tontonan bukan pada tempatnya, apalagi jika bukan-tontonan itu manusia teraniaya.”

Namun, lanjut Seno, justru bukan-tontonan itu yang sangat sering menjadi teater jalanan, mirip teater jalanan seperti yang terdapat pada teater Putu Wijaya: berlangsung suatu kejadian, terbentuk kerumunan, lantas peristiwa berkembang cepat, tanpa seorang pun memiliki nama.

Sebuah lembaga Etnomark Consulting, pernah meneliti tipe pengguna media sosial, berdasarkan motivasi dan tujuan posting mereka. Menurut lembaga ini, ada tujuh tipe.

Pertama, The Angels. Tipe ini senang sekali membagikan pengetahuan dan pengalaman.

Kedua, The Learners. Tipe ini sering melakukan share ulang status orang yang dianggap berbobot dan informasi penting. Mereka adalah para pembelajar, pengumpul referensi, dan pencari solusi.

Ketiga, The Journalists. Mereka paling update soal penyampaian berita.

Keempat, The Social Networkers. Tipe ini memiliki kecenderungan untuk menambah jaringan ataunetwork.

Kelima, The Eksis-Narsis. Mereka bisa dilihat dengan seringnya posting atau komentar di status pengguna lain. Tipe ini suka selalu mencari perhatian, selalu ada dalam setiap bahasan, dan melengkapi posting dengan foto pribadi.

Keenam, The Curhaters. Mereka rajin berkeluh-kesah di dinding facebook.

Ketujuh, The Observers. Tipe ini sering mengamati posting-an akun teman-temannya. Namun, mereka jarang mengomentari atau share.

Golongan pengunggah kepedihan tadi mungkin bisa dimasukkan ke dalam tipe The Journalists. Seperti seorang wartawan, mereka hendak mengabadikan peristiwa “langka” itu. Lalu, mengunggahnya, demi mendapatkan respons komentar atau like.

Seorang kawan saya, fotografer jurnalis sebuah media massa di Jakarta, pernah dilema menghadapi situasi antara memotret atau menolong ketika terjadi kecelakaan di jalan.

Dilema seperti ini memang sudah umum di kalangan pewarta foto. Di satu sisi, mereka ingin mengabadikan kejadian langka itu dan menaikkannya ke media masing-masing. Tentu itu merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja media. Namun, di sisi lain, mereka manusia yang melihat kejadian “pedih”. Menyangkut nyawa orang lain.

Kevin Carter/www.pinterest.com
Kevin Carter/www.pinterest.com

Soal dilema itu, penulis buku Breaking the News, James Fallowes pernah membahas hal ini. Ia menyinggung dalam bagian Why We Hate the Media.

Dalam bukunya Fallowes menulis bahwa wartawan wartawan harus memotret dahulu karena tugas wartawan adalah memotret, bukan menolong.

 

Menyitir persoalan tadi, kasus meninggalnya fotografer lepas untuk Ruters yang pernah menang Pulitzer 1994, Kevin Carter, mungkin merupakan yang paling terkenal di dunia.

Suatu hari, Carter memotret seorang anak perempuan Afrika yang menderita kelaparan dalam perjalanan ke tempat pembagian jatah makanan.

Anak malang itu jatuh dan menunggu ajal di gurun pasir, dengan latar belakang burung pemakan bangkai. Foto itu menjadi terkenal. Carter pun diganjar Pulitzer.

Selang beberapa bulan, Carter tewas bunuh diri, dengan cara menutup diri di dalam mobil pickup-nya, kemudian mengalirkan gas knalpot ke dalam.

Kematian Carter pun menimbulkan spekulasi. Sebagian menganggap, ia mengakhiri hidup lantaran menghadapi hidupnya yang keras. Sebagian lainnya menduga, ia bunuh diri karena tak tahan dengan kecaman dunia terhadap foto karyanya tadi.

Atas kasus ini, sebagian besar pewarta foto percaya, tugas jurnalis harus didahulukan. Memotret korban dan meliput. Setelah itu, baru menolong korban, sebagai wujud empati dan rasa kemanusiaan.

Namun, tentu persoalan mengunggah kecelakaan, pencabulan, kebakaran, dan sebagainya kefacebook sangat berbeda dengan kerja pewarta foto, yang terikat kode etik. Saya sendiri merasa sangat ironis dengan unggah foto dan status, tanpa menolong korban terlebih dahulu.

“Namun, tentu persoalan mengunggah kecelakaan, pencabulan, kebakaran, dan sebagainya ke facebook sangat berbeda dengan kerja pewarta foto, yang terikat kode etik”

Percayalah, mereka yang melihat dan membaca status Anda jaraknya pasti lebih jauh dari Anda.

Lantas, saya hanya mengerutkan dahi dan teringat tulisan Seno di buku Tiada Ojek di Paris, “Tiada yang lebih getir selain menontonnya tanpa perasaan sama sekali, selain perasaan seperti mendapatkan hiburan dalam kehidupan mereka yang rudin (miskin sekali) dan membosankan.”

Artikel ini kali pertama dimuat di Selasar.com, 1 Agustus 2016.

LEAVE A REPLY