|
|
|
Korea Utara membangun lima penjara politik sejak masa pemerintahan Kim Il-sung pada tahun 1950-an. Lima titik penjara itu ada di Chongjin Nomor 25 dengan kapasitas 5.000 tahanan, Hwasung Nomor 16 dengan kapasitas 20.000 tahanan, Yoduk Nomor 15 dengan kapasitas 50.000 tahanan, Pukchang Nomor 18 dengan kapasitas 19.000 tahanan, dan Gaechon Nomor 14 dengan kapasitas 50.000 tahanan. Data terbaru, total tahanan di lima titik tersebut ada 80 ribu hingga 120 ribu orang.
Umumnya, kesalahan mereka karena salah seorang anggota keluarga mereka membelot ke Korea Selatan saat Perang Korea pada 1950 hingga 1953. Selebihnya, orang-orang yang mencoba melarikan diri dari Korea Utara, mengkritik pemerintah Korea Utara, menganut agama Kristen, dan mendengarkan drama Korea Selatan.
Kim Hye Sook salah satunya. Perempuan yang kini berusia 53 tahun itu masuk kamp sejak usia 13 tahun di kamp Bukchang Nomor 18. Alasannya, karena kakeknya pindah ke Korea Selatan pada saat Perang Korea.
“Di kamp itu sekitar 3 ribu anak-anak ditahan. Kalau sudah bisa angkat batu, itu harus kerja,” kata Kim Hye Sook saat ditemui di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta Pusat, dalam helatan Pekan Hak Asasi Manusia Korea Utara oleh Yayasan Citizen’s Alliance of North Korean Human Rights (NKHK), Rabu (30/4).
Kamp tahanan politik Korea Utara mirip perkampungan. Tahanan disediakan rumah-rumah berbahan tanah liat dan jerami untuk berteduh. Satu rumah ditinggali lima hingga enam keluarga. Setiap hari, mereka diwajibkan menambang batu bara yang ada di dalam kamp. “Saya bekerja 16 hingga 18 jam sehari. Sudah terbiasa kelaparan dan siksaan,” katanya.
Luas kamp tempat Kim ditahan 40 kilometer. Kamp itu dikelilingi pagar kawat listrik 3.300 volt setinggi empat meter. “Di kamp tidak ada listrik dan kendaraan.” Pada 1974 hingga 1979, Kim ditahan di ruas paling ujung kamp. “Awalnya saya tinggal di sini. (Batu bara) sudah habis, saya pindah ke sini (tempat lain di dalam kamp). Jarak yang ditempuh 12 kilometer dengan berjalan kaki.”
Pada 1979 hingga 1988, Kim tinggal di bagian tengah kamp tahanan. Lalu, dia pindah lagi pada 1988 ke bagian paling ujung sebelah kiri kamp hingga tahun 2002. “(Di tempat ini ada) tambang goa batu bara. Masuk ke dalamnya bisa sampai tiga kilometer. Terus ada kereta untuk membawa batu baranya,” kata dia sembari menunjuk tempat-tempat yang pernah dia singgahi di papan pamer peta kamp Buckhang yang dia gambar sendiri. “Di sekitar sini masih ada adik saya.”
Pada Agustus 2002, dia bebas.Kebebasan itu merupakan amnesti bagi tahanan politik untuk merayakan ulang tahun Kim Jong-il.
“Pembebasan dibantu pegawai pemerintah. Saya memelihara hewan-hewan, dan kalau sudah besar disita penjaga kamp.” Lalu, dia mencoba melarikan diri dari Korea Utara. Lari ke Cina melalui jalur laut.
“Di Cina itu saya dijual di semacam restoran. Karena di sana marak jual-beli manusia. Tapi saya tidak ada identitas, dan ditangkap. Lalu kembali lagi di kamp.”
Tak lama, pada 2009, Kim melarikan diri dari kamp. “Di sekitar ini (pagar kawat) ada yang bolong, jurang. Di jurang itu tidak ada kawat listrik. Jadi saya melarikan diri.”
Untuk melewati perbatasan, Kim harus rela dibeli. “Yang menjaga perbatasan itu, banyak yang jual orang Korea yang ke Cina. Saya minta dijual. Saya waktu itu dijual dengan harga 3000 won (sekitar 6 juta rupiah). “Lalu saya bilang, saya mau ke Korea Selatan. Jadi di Cina banyak calo-calo yang kirim orang ke Korea Selatan,” katanya.
Pada 2009, perempuan paruh baya ini menjadi warga negara Korea Selatan. Walau terlihat bugar, Kim sesungguhnya sakit paru-paru, karena bekerja di goa tambang batu bara selama di kamp.
“Kalau bisa tutup saja negaranya (Korea Utara). Dan, saya harap dunia internasional peduli pada sistem di Korea Utara,” kata Kim di akhir perbincangan. []
*Tulisan ini dimuat di www.geotimes.co.id, 30 April 2014.






