Kampanye Kreatif Ala Sampul Tintin

Hari dan Yoga/Fandy Hutari

Pesta demokrasi, Pemilihan Presiden 2014, telah usai. Dari hasil penghitungan suara, pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Muhammad Jusuf Kalla (JK) menjadi presiden dan wakil presiden masa bakti 2014 hingga 2019. Selain kisah pertarungan kandidat antara Prabowo-Hatta Radjasa dan Jokowi-JK, ada kisah lainnya. Perjuangan relawan Jokowi-JK, yang dengan bantuan tenaga, pikiran, bahkan materi, secara tidak langsung ikut mengantarkan pasangan nomor urut dua sebagai jawara.

Yoga Adhitrisna merupakan salah seorang relawan pasangan Jokowi-JK. Pria yang sehari-hari menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan periklanan, Berakar Komunikasi, di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini mengkreasi sampul komik Jokowi dan JK yang diadaptasi dari karakter komik legendaris Tintin. Saat masa kampanye lalu, pasti kita pernah melihat karya Yoga dan kawan-kawannya di berbagai media sosial.

Saya menemui Yoga dan seorang kawannya, Hari Prast, di kantor mereka Berakar Komunikasi, Jalan Cikatomas, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat masa kampanye Pemilu. Setelah bertemu, saya dan Yoga juga korespondensi lewat surat elektronik dan pesan singkat.

“Awalnya saya menerima telepon dari teman kuliah saya. Dia menjelaskan bahwa saat ini bergabung dengan salah satu tim relawan Jokowi yang namanya Jokowimania. Lalu karena dia tahu saya bekerja di dunia iklan,dia bertanya, ‘kenal nggak ada teman-teman kreatif yang bersedia membantu kami secara pro bono (layanan secara cuma-cuma)?’ Langsung saya jawab, ‘Kenal. (Orangnya) gue,’” kata Yoga dihubungi beberapa waktu lalu.

Setelah itu, Yoga bertemu dan berdiskusi. “Dia bercerita, membutuhkan materi kampanye yang sifatnya populer, ringan, keren, yang bisa membuat bangga orang yang memakainya,” katanya.Dari sana, Yoga membawa kawannya itu ke kantornya di Cikatomas II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Kami berdiskusi berempat, saya, Hari Prast, Satriyo Wibowo, dan Eko Harsoselanto. Keempatnya memang mendukung Jokowi. (Karyawan) yang lain tidak kita libatkan karena kita tidak tahu pilihan (politiknya).”

Saat mengolah konsep awal, kata Yoga, dikerjakan berempat, yaitu Yoga sendiri, Hari Prast, Eko Harsoselanto, dan Satriyo Wibowo. Tapi, selama kampanye mereka lebih banyak bekerja bertiga, yakni Yoga, Eko Harsoselanto, dan Hari Prast.

“Hari yang menggambar semua versi. Saya menulis, cari ide dengan Hari. Eko seksi repot, ngurusin website. Tapi, kita juga dibantu beberapa teman-teman kreatif, seperti Rendra yang membantu mengurus website, Chony yang juga membantu mendesain,” katanya.

Lalu, mengapa Tintin yang dipilih? “Karena ada kesamaan antara karakter Tintin dan Jokowi. Saya yakin kenapa ide seperti ini belum pernah muncul di kampanye-kampanye(Pemilu) sebelumnya, karena belum pernah ada kandidat yang memiliki karakter seperti Jokowi,” kata Yoga.

Menurut Yoga, ada beberapa kesamaan antara Jokowi dan Tintin.“Sama-sama suka blusukan, rendah hati, suka menolong, menghormati keragaman, loyal, jujur, dan terutama action oriented.”

Tintin merupakan karakter fiksi dalam The Adventures of Tintin, seri komik karya kartunis Belgia, Hergé. Tintin merupakan seorang reporter yang bertualang ke seluruh dunia dengan anjingnya Snowy. Karakter ini diciptakan pada 1929.

Yoga mengisahkan, diskusi dia dan kawannya itu berlangsung sekitar tiga minggu sebelum masa kampanye. Lalu, mereka mulai mengedarkan sampul versi blusukan Yogyakarta dan versi Master, sehari sebelum masa kampanye.

“Kami mulai membuat dari sebelum ada pengumuman resmi nama cawapres (untuk Jokowi). Maka, di versi-versi awal tidak ada JK (Jusuf Kalla) di visualisasi kami,” katanya.

Selanjutnya, Yoga dan kawan-kawannya menyebarkan versi Master, Yogyakarta, Jawa Timur, Makassar, Jawa Barat, Sumatra Utara, Potlot, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, Way Kambas, Panen Raya, TPS, 7okowi Presiden, Ulang Tahun, dan Sejuk.

“Kami sebar melalui akun pribadi kami di Twitter, Facebook, dan Path. Namun penyebarannya sangat terbantu juga, karena beberapa akun dengan jumlah follower besar turut menyebarkannya, seperti kenapajokowi.com dan akun PDI Perjuangan.”

Selain itu, Yoga juga menyediakan gambar dengan ukuran besar di situs www.gulunglenganbajumu.com. Beberapa situs lain juga menyediakan ukuran besar, seperti kenapajokowi.com, darirakyatuntukindonesia.com, generasioptimis.com, dan jkw4p.com. Yoga dan kawan-kawannya hanya mendesain sampulnya saja, tidak membuat isi komik. Alasannya, sampul-sampul itu adalah doa dan harapan mereka.

“Isinya nanti akan kita alami bersama saat kepemimpinan Jokowi-Jk jika menang,” kata dia. Menurutnya, ini merupakan teknik iklan. “Tidak memberikan semuanya, maka audience akan mengisi sendiri informasi yang kosong sesuai subyektifitasnya masing-masing, sesuai harapannya masing-masing.”

Masalah hak cipta, menurut Yoga, tidak ada masalah. Yoga mengatakan, mereka sama sekali tidak menggunakan karya Herge atau satupun karakter dari komik Tintin. “Hari menggambar sendiri semuanya, karakternya pun serba Indonesia. Kalau ada kesaamaan adalah kesamaan gaya. Namun, itu tentu tidak melanggar hak cipta. Karena banyak komik Eropa yang cara menggambarnya seperti ini,” kata dia.

Yoga dan kawan-kawannya percaya, Jokowi seorang pemimpin pekerja, tidak banyak janji dan wacana, tapi lebih banyak mengerjakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. “Kalau istilah kami, ini baru pemimpin yang mengerjakan job desc-nya.”

Kedua, kata Yoga, dari obrolan-obrolan dengan orang-orang yang kenal Jokowi secara pribadi, dan orang-orang itu tidak langsung berkepentingan politik dengannya. Yoga mengatakan, yang paling berkesan menjadi relawan adalah semangat gotong royong dengan jumlah orang yang sangat masif.

“Begitu banyak orang berbagi concern yang sama. Begitu banyak orang berusaha memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan keunggulan masing-masing tanpa banyak hitung-hitungan, tanpa kecurigaan. Sungguh jauh rasanya dari stigma peristiwa politik.”

Namun, Yoga pun mengakui, ada duka di balik pengalamannya ini. “Dukanya tentu ada saat-saat waktu kami sangat habis, karena tidak ada istirahatnya dan merasa selalu berkejaran dengan waktu,” katanya. “Tapi itu semua tidak sebanding dengan sukanya.”

Menurut Yoga, masa-masa menjadi relawan itu dapat disebut sebagai moment of a lifetime. “Sungguh bersemangat mengerjakan sesuatu dengan “cause” yang jelas. Untuk kepentingan Indonesia. Di sisi lain, masyarakat mengapresiasi karya kami. Saya mendapat banyak pengalaman baru, berkenalan dengan banyak teman baru. Beberapa bahkan orang-orang yang saya kagumi. Di sana sini saya banyak belajar dari bermacam orang,” tutup Yoga.

Selain disebarkan melalui media sosial, karya Yoga dan kawan-kawannya sempat dipamerkan di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pameran ini berlangsung pada 3 hingga 5 Juli 2014 lalu, empat hari menjelang pencoblosan. Pameran bertajuk “Kolak Kotak (Kolaborasi Kampanye Kreatif Relawan Kotak-Kotak)” ini menampilkan beragam bentuk materi kampanye dukungan pada Jokowi-JK. Bentuknya, dicetak di kertas ukuran A4. Materi kampanye ini bisa dari individu atau kelompok, dan medium tradisional atau kontemporer.

Peserta yang mengikuti pameran, di antaranya kelompok Gulunglenganbajumu.com, Kenapajokowi.com, Teman Rakyat, Jokomik, Generasi Optimis, Efekjokowi.com, @seneng2ajah, Darirakyatuntukindonesia.com, Sindikat Anton Ismael, dan Wahyu Hidayat.[*]

Artikel ini meraih juara 3 di lomba menulis Kisah Relawan Jokowi-JK yang diadakan Seknas Jokowi-JK pada Agustus 2014 lalu.

LEAVE A REPLY