“Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan kecintaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadah dan terimalah sedekah dari mereka yang bekerja dengan penuh suka cita” —Kahlil Gibran, Penyair.
Beberapa waktu lalu, seorang adik angkatan saya menulis ketertarikan dan keputusannya memilih profesi pegiat lingkungan di sebuah lembaga swadaya masyarakat di sebuah grup alumni kampus. Profesi dia itu mulia dan bagus. Peduli lingkungan, di saat sebagian besar masyarakat tak acuh. Wajar sekali dia mendapatkan “tepuk tangan” pemirsa Facebook.
Namun, dalam tulisannya itu ada kalimat yang membuat saya terasa ditampar. Dia ditanya seseorang, “mau jadi apa kamu lulus dari jurusan itu?” Dan, dia menulis, “mentok-mentoknya jadi wartawan atau penjaga museum.”
Wartawan dan penjaga museum memang umum dipilih sebagai profesi lulusan kami. Khusus museum, tak semua orang bisa bercokol di profesi itu, karena harus melewati tahap penerimaan calon pegawai negeri sipil. Bisa pula menjadi honorer. Pun begitu dengan wartawan. Tak semua orang mampu dan bisa menjadi wartawan.
Saya pernah beralih profesi menjadi honorer di sebuah museum. Namun, lagi-lagi karena saya menjalankannya dengan terpaksa, akhirnya saya tak betah. Saya merasa itu bukan dunia saya.
Jika kalimat “mentok-mentoknya” itu dari seseorang, seharusnya dia bisa membantah anggapan bahwa profesi wartawan atau penjaga museum itu profesi “mentok” bagi jurusan kami. Dia bisa mengatakan, wartawan itu profesi mulia. Mereka penyebar informasi, untuk disampaikan kepada publik. Kecuali ya wartawan bodrex atau wartawan media abal-abal.
Begitu pula dengan penjaga museum. Mereka sebagai aktor tersajinya dokumentasi dan artefak peninggalan masa lalu bangsa. Pelestari peradaban bangsa, yang kadang diabaikan sebagian orang.
Namun, jika kalimat “mentok-mentoknya” itu dari buah pikirannya, justru kalimat tersebut cenderung meremehkan profesi wartawan atau penjaga museum. Padahal, jurusan kami memang memiliki kecenderungan untuk terjun ke bidang penulisan atau bekerja sebagai pamong budaya. Sebab, sewaktu kuliah kami selalu dijejali buku-buku yang tebalnya bukan main.
Baik, mungkin adik angkatan saya itu salah menulis kalimat “mentok-mentoknya” atau tak sadar menulis itu. Tapi, ya sudah. Saya pikir, pada dasarnya profesi adalah cinta. Dia bukan hanya dipilih untuk menyambung hidup saja, tapi untuk memuaskan hasrat jiwa dalam bekerja. Tak ada paksaan. Meski terkadang upah tak cukup untuk menabung.
Beberapa kawan saya memiliki profesi yang melintas jauh dari jurusan yang kami pilih. Ada yang bekerja di bank, agen asuransi, teknisi komputer, internet marketer, bahkan HRD. Namun lagi-lagi, jika itu semua tak dijalankan dengan cinta, maka semua akan menjadi terpaksa.
Kawan saya ada yang melangkah dari zona nyaman bekerja sebagai peneliti pada salah satu divisi di bank pusat. Dia lalu mendirikan sebuah toko alat tugas kantor di Pasar Cijantung. Dia mengaku senang dengan profesinya sekarang.
Ada pula seorang kawan yang melangkah meninggalkan dunia pers ke bidang pendidikan. Menjadi seorang guru. Dia pun senang sekarang sudah mengambil keputusan itu. Kedua teman saya berasal dari jurusan yang sama, yang saya pilih ketika kuliah. Namun, mereka beda universitas.
Sekali lagi. Pada akhirnya profesi adalah cinta. Dia bisa dijalankan sepenuh hati dan tanpa ada kata terpaksa, apalagi kata “mentok.” Salut dengan profesimu. Dan, semua profesi yang dipilih kawan-kawan.






