Dalam sesi pertama yang boleh dibilang sebagai soft launching buku Remy Sylado yang terbaru, Namaku Mata Hari, hadir sebagai pembicara Remy Sylado dan Mumuh Muhsin (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat). Novel terbaru Remy ini mengisahkan tentang kehidupan seorang perempuan Indo-Belanda bernama Mata Hari. Mata Hari adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai penari dan pelacur papan atas. Singkatnya, Mata Hari menikah dengan seorang tentara Belanda yang ditugaskan di Indonesia. Kisah pernikahan yang pahit—suaminya kerap melacur dan anak sulungnya meninggal dunia—membawa Mata Hari menempuh hidupnya sendiri. Ia lalu menjadi seorang penari profesional dan melacur ke pejabat-pejabat kolonial di Batavia. Tapi, ia pulang ke Belanda karena karirnya tidak berkembang di Batavia. Impian Mata Hari ingin terkenal sebagai penari. Ia sudah merencanakan merajut mimpinya itu di Paris. Impian itu terwujud setelah ia resmi bercerai dengan suaminya di Belanda. Ia lalu terkenal sebagai seorang penari di Eropa. Kemewahan yang didapatnya serta rasa dendam masa lalu membuat Mata Hari lupa daratan. Ia lalu masuk ke dalam jaringan mata-mata menjadi agen ganda Prancis dan Jerman di Perang Dunia I. Akhirnya ia harus menemui ajal di profesi tersebut. Mata Hari merupakan sosok perempuan yang dihubungkan dengan mata-mata, sensualitas, dan intrik.
Dengan gaya tulisannya yang khas, Remy selalu berhasil mengangkat tokoh fiksinya berjalan beriringan di tengah latar belakang histori. Mungkin hal inilah yang menjadi dasar mengapa novel Remy dijadikan suatu contoh tulisan yang berhasil menggabungkan fiksi dan peristiwa sejarah yang nyata. “Membaca novel untuk mahasiswa sejarah sangat perlu. Jangan melulu membaca buku-buku metodologi yang menjadikannya kering,” pesan Mumuh. Remy Sylado juga menyarankan peserta diskusi yang sebagian besar mahasiswa Sejarah Unpad untuk membaca karya-karya lainnya, seperti “Hotel Prodeo” sebagai bentuk tulisan fiksi berlatar belakang sejarah. Jelas riset sejarah sangat penting untuk menghasilkan karya sastra bertema sejarah. Persoalan historiografi dan riset sejarah dalam penulisan fiksi menjadi hal utama yang dibahas dalam diskusi ini.
Dalam film berdurasi kurang lebih tiga jam ini Havelaar digambarkan sebagai sosok manusia sempurna yang punya tabiat baik hati, jujur, berani, idealis, dan sayang kepada keluarganya. Ia menjabat sebagai asisten residen Lebak menggantikan asisten residen sebelumnya yang tewas—diduga diracun oleh Bupati Lebak dalam sebuah perjamuan makan malam. Adegan-adegan awal film ini mengisahkan penindasan aparat kolonial dan pejabat lokal tradisional terhadap penduduk. Lalu, Havelaar seperti ditakdirkan Tuhan menjadi penolong rakyat dari belenggu penindasan. Diceritakan, Havelaar menghadapi dua “musuh” sekaligus, yaitu pejabat kolonial dalam hal ini residen, Bupati Lebak Raden Adipati Karta Natanegara, dan demang yang sewenang-wenang menindas rakyatnya sendiri.Karena perlawanannya, Havelaar lalu ingin dimutasi ke Ngawi, tapi ia tidak bersedia. Akhirnya ia dipecat dan kembali ke Belanda. Havelaar lalu meminta keadilan ke Gubernur Hindia Belanda yang tengah berada di Istana Bogor, namun nasib tak berpihak padanya. Sang gubernur jenderal tidak bersedia menemuinya. Ia lalu dikurung di sebuah ruangan di Istana Bogor. Adegan terakhir film ini cukup dramatis. Havelaar memegang foto Raja Belanda saat itu, Willem III, dan berteriak marah: “Tiga puluh juta rakyat diperas dianiaya atas namamu!”. Yang menarik, dalam film ini, seperti juga dalam novelnya, ditampilkan percintaan “Romeo dan Juliet” pribumi, yaitu Saidjah dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah masyarakat biasa yang hidupnya juga tak lepas dari penindasan penguasa. Diceritakan, kerbau milik Saidjah dan Adinda dirampas oleh demang suruhan Bupati Lebak. Dari sini, pasangan kekasih Saidjah dan Adinda membenci Belanda dan antek-anteknya. Akhirnya mereka tewas dalam aksi “pembantaian massal” yang menelan banyak nyawa di Lebak.
Di Indonesia, film ini tidak populer dan terasa asing didengar. Film ini juga sempat menjadi “korban” pengganyangan kebebasan berekspresi oleh pemerintah Orde Baru. Salah satu alasannya, film ini terlalu menampilkan sosok Belanda yang dicap semuanya penjajah dan menampilkan ketidakberdayaan penduduk Lebak yang ditindas dan dihina sebagai “inlander monyet”. Ironis, sebab di dunia internasional film ini mendapatkan apresiasi yang tidak main-main. Film ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai belahan dunia, seperti di Belanda, Amerika Serikat, Hong Kong, Iran, dan lain-lain. Pada 1978, film ini dipuji sebagai “film terbaik yang dibuat negara ketiga” oleh PBB. Pada 1987, film ini baru bisa diputar setelah melalui seleksi yang sangat ketat oleh Badan Sensor Film (BSF).
Kalau di Indonesia Max Havelaar ditinggalkan, seolah-olah tertelan oleh bayang-bayang tokoh Eduard Douwes Dekker yang notabene orang Belanda, justru di Belanda sendiri karya monumental ini diapresiasi dan masih menjadi “wejangan” menarik bagi para pelajar di sana. “Di Belanda, Max Havelaar masih jadi bahan pelajaran anak-anak sekolah. Saya sempat melihat spanduk besar di perpustakaan di sana tempo hari,” kata Widyo Nugrahanto dalam diskusi. Menurut saya, sebagai orang yang awam masalah film, film ini terlalu monoton dan membosankan. Ceritanya datar-datar saja, banyak pula adegan-adegan janggal dan kurang penting yang ditampilkan. Semisal adegan istri mantan asisten residen Lebak yang muncul tiba-tiba dan berbicara dengan Havelaar dan istrinya, perihal kematian suaminya Juga adegan usus harimau yang keluar terburai setelah dirobek oleh kerbau milik Saidjah di pematang sawah. Namun, setelah mengamati, saya menangkap pesan penting di film ini ada pada budaya korup dan mental penjilat pejabat lokal tradisional yang ada di Indonesia. Pelakunya adalah Bupati Lebak dan demang yang pandai menjilat atasan mereka—yang juga atasan Havelaar—sang residen.
Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.
Dalam film berdurasi kurang lebih tiga jam ini Havelaar digambarkan sebagai sosok manusia sempurna yang punya tabiat baik hati, jujur, berani, idealis, dan sayang kepada keluarganya. Ia menjabat sebagai asisten residen Lebak menggantikan asisten residen sebelumnya yang tewas—diduga diracun oleh Bupati Lebak dalam sebuah perjamuan makan malam. Adegan-adegan awal film ini mengisahkan penindasan aparat kolonial dan pejabat lokal tradisional terhadap penduduk. Lalu, Havelaar seperti ditakdirkan Tuhan menjadi penolong rakyat dari belenggu penindasan. Diceritakan, Havelaar menghadapi dua “musuh” sekaligus, yaitu pejabat kolonial dalam hal ini residen, Bupati Lebak Raden Adipati Karta Natanegara, dan demang yang sewenang-wenang menindas rakyatnya sendiri.
Karena perlawanannya, Havelaar lalu ingin dimutasi ke Ngawi, tapi ia tidak bersedia. Akhirnya ia dipecat dan kembali ke Belanda. Havelaar lalu meminta keadilan ke Gubernur Hindia Belanda yang tengah berada di Istana Bogor, namun nasib tak berpihak padanya. Sang gubernur jenderal tidak bersedia menemuinya. Ia lalu dikurung di sebuah ruangan di Istana Bogor. Adegan terakhir film ini cukup dramatis. Havelaar memegang foto Raja Belanda saat itu, Willem III, dan berteriak marah: “Tiga puluh juta rakyat diperas dianiaya atas namamu!”. Yang menarik, dalam film ini, seperti juga dalam novelnya, ditampilkan percintaan “Romeo dan Juliet” pribumi, yaitu Saidjah dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah masyarakat biasa yang hidupnya juga tak lepas dari penindasan penguasa. Diceritakan, kerbau milik Saidjah dan Adinda dirampas oleh demang suruhan Bupati Lebak. Dari sini, pasangan kekasih Saidjah dan Adinda membenci Belanda dan antek-anteknya. Akhirnya mereka tewas dalam aksi “pembantaian massal” yang menelan banyak nyawa di Lebak.Di Indonesia, film ini tidak populer dan terasa asing didengar. Film ini juga sempat menjadi “korban” pengganyangan kebebasan berekspresi oleh pemerintah Orde Baru. Salah satu alasannya, film ini terlalu menampilkan sosok Belanda yang dicap semuanya penjajah dan menampilkan ketidakberdayaan penduduk Lebak yang ditindas dan dihina sebagai “inlander monyet”. Ironis, sebab di dunia internasional film ini mendapatkan apresiasi yang tidak main-main. Film ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai belahan dunia, seperti di Belanda, Amerika Serikat, Hong Kong, Iran, dan lain-lain. Pada 1978, film ini dipuji sebagai “film terbaik yang dibuat negara ketiga” oleh PBB. Pada 1987, film ini baru bisa diputar setelah melalui seleksi yang sangat ketat oleh Badan Sensor Film (BSF).
Kalau di Indonesia Max Havelaar ditinggalkan, seolah-olah tertelan oleh bayang-bayang tokoh Eduard Douwes Dekker yang notabene orang Belanda, justru di Belanda sendiri karya monumental ini diapresiasi dan masih menjadi “wejangan” menarik bagi para pelajar di sana. “Di Belanda, Max Havelaar masih jadi bahan pelajaran anak-anak sekolah. Saya sempat melihat spanduk besar di perpustakaan di sana tempo hari,” kata Widyo Nugrahanto dalam diskusi. Menurut saya, sebagai orang yang awam masalah film, film ini terlalu monoton dan membosankan. Ceritanya datar-datar saja, banyak pula adegan-adegan janggal dan kurang penting yang ditampilkan. Semisal adegan istri mantan asisten residen Lebak yang muncul tiba-tiba dan berbicara dengan Havelaar dan istrinya, perihal kematian suaminya Juga adegan usus harimau yang keluar terburai setelah dirobek oleh kerbau milik Saidjah di pematang sawah. Namun, setelah mengamati, saya menangkap pesan penting di film ini ada pada budaya korup dan mental penjilat pejabat lokal tradisional yang ada di Indonesia. Pelakunya adalah Bupati Lebak dan demang yang pandai menjilat atasan mereka—yang juga atasan Havelaar—sang residen.
Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.
Karena perlawanannya, Havelaar lalu ingin dimutasi ke Ngawi, tapi ia tidak bersedia. Akhirnya ia dipecat dan kembali ke Belanda. Havelaar lalu meminta keadilan ke Gubernur Hindia Belanda yang tengah berada di Istana Bogor, namun nasib tak berpihak padanya. Sang gubernur jenderal tidak bersedia menemuinya. Ia lalu dikurung di sebuah ruangan di Istana Bogor. Adegan terakhir film ini cukup dramatis. Havelaar memegang foto Raja Belanda saat itu, Willem III, dan berteriak marah: “Tiga puluh juta rakyat diperas dianiaya atas namamu!”. Yang menarik, dalam film ini, seperti juga dalam novelnya, ditampilkan percintaan “Romeo dan Juliet” pribumi, yaitu Saidjah dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah masyarakat biasa yang hidupnya juga tak lepas dari penindasan penguasa. Diceritakan, kerbau milik Saidjah dan Adinda dirampas oleh demang suruhan Bupati Lebak. Dari sini, pasangan kekasih Saidjah dan Adinda membenci Belanda dan antek-anteknya. Akhirnya mereka tewas dalam aksi “pembantaian massal” yang menelan banyak nyawa di Lebak.
Di Indonesia, film ini tidak populer dan terasa asing didengar. Film ini juga sempat menjadi “korban” pengganyangan kebebasan berekspresi oleh pemerintah Orde Baru. Salah satu alasannya, film ini terlalu menampilkan sosok Belanda yang dicap semuanya penjajah dan menampilkan ketidakberdayaan penduduk Lebak yang ditindas dan dihina sebagai “inlander monyet”. Ironis, sebab di dunia internasional film ini mendapatkan apresiasi yang tidak main-main. Film ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai belahan dunia, seperti di Belanda, Amerika Serikat, Hong Kong, Iran, dan lain-lain. Pada 1978, film ini dipuji sebagai “film terbaik yang dibuat negara ketiga” oleh PBB. Pada 1987, film ini baru bisa diputar setelah melalui seleksi yang sangat ketat oleh Badan Sensor Film (BSF).Kalau di Indonesia Max Havelaar ditinggalkan, seolah-olah tertelan oleh bayang-bayang tokoh Eduard Douwes Dekker yang notabene orang Belanda, justru di Belanda sendiri karya monumental ini diapresiasi dan masih menjadi “wejangan” menarik bagi para pelajar di sana. “Di Belanda, Max Havelaar masih jadi bahan pelajaran anak-anak sekolah. Saya sempat melihat spanduk besar di perpustakaan di sana tempo hari,” kata Widyo Nugrahanto dalam diskusi. Menurut saya, sebagai orang yang awam masalah film, film ini terlalu monoton dan membosankan. Ceritanya datar-datar saja, banyak pula adegan-adegan janggal dan kurang penting yang ditampilkan. Semisal adegan istri mantan asisten residen Lebak yang muncul tiba-tiba dan berbicara dengan Havelaar dan istrinya, perihal kematian suaminya Juga adegan usus harimau yang keluar terburai setelah dirobek oleh kerbau milik Saidjah di pematang sawah. Namun, setelah mengamati, saya menangkap pesan penting di film ini ada pada budaya korup dan mental penjilat pejabat lokal tradisional yang ada di Indonesia. Pelakunya adalah Bupati Lebak dan demang yang pandai menjilat atasan mereka—yang juga atasan Havelaar—sang residen.
Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.
Di Indonesia, film ini tidak populer dan terasa asing didengar. Film ini juga sempat menjadi “korban” pengganyangan kebebasan berekspresi oleh pemerintah Orde Baru. Salah satu alasannya, film ini terlalu menampilkan sosok Belanda yang dicap semuanya penjajah dan menampilkan ketidakberdayaan penduduk Lebak yang ditindas dan dihina sebagai “inlander monyet”. Ironis, sebab di dunia internasional film ini mendapatkan apresiasi yang tidak main-main. Film ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai belahan dunia, seperti di Belanda, Amerika Serikat, Hong Kong, Iran, dan lain-lain. Pada 1978, film ini dipuji sebagai “film terbaik yang dibuat negara ketiga” oleh PBB. Pada 1987, film ini baru bisa diputar setelah melalui seleksi yang sangat ketat oleh Badan Sensor Film (BSF).
Kalau di Indonesia Max Havelaar ditinggalkan, seolah-olah tertelan oleh bayang-bayang tokoh Eduard Douwes Dekker yang notabene orang Belanda, justru di Belanda sendiri karya monumental ini diapresiasi dan masih menjadi “wejangan” menarik bagi para pelajar di sana. “Di Belanda, Max Havelaar masih jadi bahan pelajaran anak-anak sekolah. Saya sempat melihat spanduk besar di perpustakaan di sana tempo hari,” kata Widyo Nugrahanto dalam diskusi. Menurut saya, sebagai orang yang awam masalah film, film ini terlalu monoton dan membosankan. Ceritanya datar-datar saja, banyak pula adegan-adegan janggal dan kurang penting yang ditampilkan. Semisal adegan istri mantan asisten residen Lebak yang muncul tiba-tiba dan berbicara dengan Havelaar dan istrinya, perihal kematian suaminya Juga adegan usus harimau yang keluar terburai setelah dirobek oleh kerbau milik Saidjah di pematang sawah. Namun, setelah mengamati, saya menangkap pesan penting di film ini ada pada budaya korup dan mental penjilat pejabat lokal tradisional yang ada di Indonesia. Pelakunya adalah Bupati Lebak dan demang yang pandai menjilat atasan mereka—yang juga atasan Havelaar—sang residen.Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.
Kalau di Indonesia Max Havelaar ditinggalkan, seolah-olah tertelan oleh bayang-bayang tokoh Eduard Douwes Dekker yang notabene orang Belanda, justru di Belanda sendiri karya monumental ini diapresiasi dan masih menjadi “wejangan” menarik bagi para pelajar di sana. “Di Belanda, Max Havelaar masih jadi bahan pelajaran anak-anak sekolah. Saya sempat melihat spanduk besar di perpustakaan di sana tempo hari,” kata Widyo Nugrahanto dalam diskusi. Menurut saya, sebagai orang yang awam masalah film, film ini terlalu monoton dan membosankan. Ceritanya datar-datar saja, banyak pula adegan-adegan janggal dan kurang penting yang ditampilkan. Semisal adegan istri mantan asisten residen Lebak yang muncul tiba-tiba dan berbicara dengan Havelaar dan istrinya, perihal kematian suaminya Juga adegan usus harimau yang keluar terburai setelah dirobek oleh kerbau milik Saidjah di pematang sawah. Namun, setelah mengamati, saya menangkap pesan penting di film ini ada pada budaya korup dan mental penjilat pejabat lokal tradisional yang ada di Indonesia. Pelakunya adalah Bupati Lebak dan demang yang pandai menjilat atasan mereka—yang juga atasan Havelaar—sang residen.
Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.
Beberapa tahun setelah melarang beredarnya film ini, Orde Baru sendiri mendapatkan karmanya setelah roboh oleh korup akut pejabat-pejabatnya. Saat ini, mental korup dan menjilat atasan pun masih sering kita temui saat kita menyaksikan berita di televisi, membaca koran pagi hari, atau lingkungan di sekitar kita. Kembali ke masalah diskusi Senin kemarin, tentunya mengupas novel dan film yang berlatarbelakang sejarah sangat menarik bukan saja untuk mahasiswa Sejarah, tapi bagi kita semua. Kisah novel dan film bisa menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga jika kita berhasil menangkap makna di balik cerita novel dan film tersebut.






