Di balik megahnya pusat perbelanjaan Menteng Huis, Cikini, Jakarta Pusat, ada kisah menarik sebuah gedung bioskop. Menteng Huis dibangun di atas reruntuhan gedung bioskop itu.
Namanya Bioskop Menteng. Bioskop dengan arsitektur ciamik ini dirancang oleh J.M. Groenewegen, seorang arsitek asal Belanda. Pada 1949, ia merancang bangunan tersebut.
Proyek bioskop bergaya Nieuwe Bouwen ini merupakan pekerjaan pertama Groenewegen di Indonesia. Usai sukses membangun bioskop yang meiliki ciri, ada tiang menjulang di atasnya itu, ia dipercaya mendesain empat bioskop di Indonesia lainnya. Bioskop Olympia di Medan dan Bioskop Sovya di Bukittinggi adalah hasil rancangannya.

Menariknya, di balik foto tersebut, ada tulisan tangan menggunakan tinta berwarna biru. Dari nama mereka, jelas peranakan Tionghoa. Saya tak begitu bisa membaca nama tulisan tangan ini.
“Semoga Lam (?) diberkahi oleh Tuhan jang maha esa dan pandjang umur serta tak kurang suatu apapun. Amin.” Tjoa (?) Kok Lian (?)
Djakarta.
Kepada yth.
Lam (?)
Djl Bandarhardjo Selatan 8.
Semarang.
Iseng, saya dan seorang kawan menelusuri di internet. Pertama, yang kami telusuri adalah alamat tujuan: Jalan Bandarharjo Selatan Nomor 8, Semarang.
Hasilnya, sebuah perusahaan bernama PT Mega Eltra Persero. Informasi dari blog http://achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id, perusahaan ini sudah berdiri sejak lama.
Mega Eltra awalnya bernama NV. Lindeteves. Gedungnya dibangun pada 1897. Lindeteves merupakan perusahaan Belanda yang bergerak di bidang listrik, mesin, dan peralatan teknik. Pada 1930-an dikenal dengan nama Electro Import NV.
Di masa pendudukan Jepang, gedung ini dinamakan Semarang Kikei Sesaku Syo. Setelah kemerdekaan, pemerintah mengambilalih perusahaan ini, dan diganti menjadi PT Yuda Electro. Pada 1961, perusahaan ini diintegrasi ke dalam PN Tulus Bhakti sebagai Divisi Electro Teknik.
Pada 1965, divisi tersebut mandiri, dan menjadi PN Mega Electro. Lantas, namanya menjadi PT Mega Eltra (Persero). Pada 1998, perusahaan ini diambilalih oleh Perusahaan Sucofindo, Jakarta. Namun, kini gedung yang sudah 120 tahun berdiri tersebut tak dirawat dan tak berpenghuni.
—
Saya menduga, dua orang yang namanya ada di balik foto itu adalah rekan kerja, yang bernaung di satu perusahaan, tetapi berbeda cabang. Yang satu di Jakarta, yang satu di Semarang. Mega Eltra cabang Jakarta sendiri ada di Jalan Menteng Raya. Posisinya persis di seberang Menteng Huis, yang dahulu Bioskop Menteng.
Di bagian depan foto, samar-samar ada tanggal: 19 Mei 1962. Mungkin saja, rekan kerjanya yang ada di Jakarta mengirimkan foto bioskop ini, sengaja memamerkannya kepada rekan kerjanya yang ada di Semarang. Hehehe.
Pada 1988, Bioskop Menteng dirobohkan. Disulap menjadi Menteng Huis yang menawarkan mimpi-mimpi konsumtif warga Jakarta. Namun, kisah indah persahabatan dua rekan kerja itu mungkin tak akan hilang, meski nasib mereka sumir [].






