Pasar Seni ITB digelar pada 10 Oktober 2010 lalu, dan telah diselenggarakan untuk yang ke-10 kalinya sejak 1972. Dengan mengambil tema “Sesuatu yang Terlupakan”, perhelatan ini menghadirkan sekitar 200 stan karya seni, lebih dari 70 pedagang kuliner Indonesia, serta berbagai wahana unik kreasi mahasiswa, juga seniman-seniman kreatif Indonesia, dalam waktu hanya 10 jam saja (mulai pukul 08.00 WIB sampai 18.00 WIB). Pengunjung sudah memadati area Jalan Ganeca ini sejak pagi. Jika kita berjalan di jalan ini, maka kita akan menjumpai sebuah jembatan raksasa berbahan dasar kayu di tengahnya. Dan, kalau kita memasuki area Fakultas Seni Rupa dan Desain, kita akan menemui zona seni tradisional. Namun, ada satu bangunan yang mencuri perhatian saya ketika berada di lapangan Aula Barat ITB. Bangunan ini, bukan bangunan yang menggunakan beton, tapi tumpukan sepeda tua (onthel) yang menyerupai sebuah gunung! Sepeda-sepeda ini ditumpuk, entah bagaimana caranya, dengan memanfaatkan bambu di bawahnya. Gunung sepeda ini dinamakan “tumpeng onthel”. Sepeda-sepeda yang disusun berjumlah 200 buah, dengan tinggi 10 meter, dan diameter 10 meter. Tinggi dan diameternya sesuai dengan tanggal berlangsungnya Pasar Seni ITB, yaitu 10 Oktober 2010. Sedangkan 200 sepeda, mungkin mengacu pada ulang tahun Bandung yang ke-200. Sepeda-sepeda baheula ini dikumpulkan dari komunitas Paguyuban Sapedah Baheula (PSB). PSB didirikan pada 13 Januari 2005. Kini PSB telah memiliki sekitar 125 anggota yang mempunyai sepeda tua dari berbagai zaman.
Tumpukan sepeda antik ini sesuai dengan tema yang diusung oleh Pasar Seni ITB kali ini, yaitu “Sesuatu yang Terlupakan” penggagas monumen sepeda onthel ini, Hilman Syafriadi, mengemukakan bahwa tumpeng sepeda antik merupakan simbol hajatan (tumpeng) kota Bandung, juga sebuah protes atas kekacauan sistem transportasi di kota besar, khususnya Bandung. Hilman, yang juga seniman Bandung ini mengatakan, gunung sepeda ini menyiratkan kepada kita bahwa sejak zaman dulu hingga sekarang, manusia belum bisa dipisahkan dari sepeda. Sepeda-sepeda yang “menempel” menjadi gunung atau tumpeng itu diproduksi pada 1920 hingga 1970-an. Di bagian puncaknya, merupakan sepeda yang paling tua usianya, yaitu 1920.
Dimuat di www.indonesiaseni.com edisi 12 Oktober 2010.







sampurasun
boleh ralat kang
PSB Bandung didirikan pada tgl 31 Januari 2005
sekarang jumlah anggota ada 585 orang…
tks atas liputannya semoga maksud dan tujuannya dapata tercapai
hatur nuhun
firman
humas PSB Bandung
Nuhun atas infonya. Maaf,saya salah informasi tampaknya. Terima kasih kang…