Balada Tukang Sol Sepatu

“Dulu saya juga keliling, tapi sekarang cape. Mending mangkal aja.”

“Sol sepatu!”

Begitulah teriakan tukang sol sepatu keliling, jika melewati jalan kecil pinggir Jakarta. Saya ingat betul, dahulu, di tahun 1990-an, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tak sulit menemukan tukang sol sepatu keliling. Cirinya, membawa dua kotak yang di atas salah satu kotaknya ada beberapa sepatu. Tukang sol sepatu biasanya memikul dua kotak tersebut, dengan pikulan yang terbuat dari bambu. Sekarang, mereka sangat jarang ditemui menjajakan jasa keliling.

Tukang sol sepatu adalah seseorang yang menjual jasa memperbaiki alas kaki, sepatu dan sandal. Prosesnya, biasanya dengan mengelem bagian-bagian yang rusak, biasanya bagian bawah. Lalu, menjahitnya dengan benang dan sebuah alat besi. Mereka membentuk pola jahit yang bisa membuat bagian-bagian yang rusak tadi menjadi kuat kembali, atau tertutup jika alas kaki sudah “menganga.”


Semalam, saya sempatkan diri memperbaiki sepatu saya, yang pinggiran bawahnya sudah agak rusak. Saya berhasil menemukan satu tukang sol sepatu yang masih bekerja, di belakang Pondok Gede Mal, Jakarta Timur. Lelaki ini merupakan satu dari beberapa tukang sol sepatu yang mangkal di trotoar Jalan Jatiwaringin Raya. Di sini, para tukang sol sepatu memiliki lapak kecil yang cirinya ada sebuah kotak kayu. Di dalam kotak ini tersimpan sepatu-sepatu dari pelanggan. Di atasnya, biasanya sepatu-sepatu yang belum beres diperbaiki.

Menurutnya, dahulu tukang sol sepatu yang sekarang mangkal di sini pernah keliling dari kampung ke kampung. Sembari bekerja menjahit sepatu, ditemani seekor kucing hitam di meja kotak sol-nya, dia bertutur.


“Dulu
mah, saya juga keliling. Tahun 1980 sampai 1990-an lah,” kata si mang
asal Garut ini.
“Sekarang cape. Mending mangkal saja.”

Faktor lelah, mungkin hanya salah satu yang membuat tukang sol sepatu menetap di tempat-tempat tertentu. Kalau mangkal, mereka tak harus terjun langsung ke kampung-kampung. Mereka cukup menunggu. Dengan begitu, waktu pun relatif bisa diminimalisir. Begitu pula dengan ongkos.

Lelaki setengah baya ini masih mengerjakan dua pasang sepatu malam itu, termasuk sepatu saya. Beberapa pemakai jasanya, mengambil sepatu yang sudah diperbaiki sebelumnya. Dia mengaku, menjadi tukang sol sepatu di daerah ini penghasilannya tak menentu.

“Kadang kalau rame, ya bisa 15 (pasang) sehari. Biasanya hari libur rame,” kata dia yang memiliki istri asli Betawi, dan mengontrak sebuah rumah persis di gang seberang tempat dia menjajakan jasa sol sepatu.

Dia mengatakan, sepasang sepatu yang diperbaiki (dijahit) kena biaya Rp 15 ribu. Cukup mahal untuk hanya menjahit dan lem saja. Untuk sepatu yang kerusakannya parah, harganya bisa lebih tinggi lagi.


Lelaki yang logat Sunda-nya masih kental ini, tak ingin beralih profesi yang sudah sekitar 30 tahun dijalani.

“Keahlian saya cuma jahit sepatu. Ya, yang penting cukup buat makan harian aja,” kata dia.


Selain tukang sol sepatu, masih banyak profesi-profesi lain yang dahulu keliling dari kampung ke kampung, sekarang tak kita temui lagi. Jika disebutkan, ada tukang patri yang menjajakan jasa menambal panci bolong, tukang cukur keliling yang rajin membawa kursi lipat dan tas jinjing, tukang balon gas yang mengayuh sepeda dan tabung gas di samping sepedanya, tukang es kemong yang membunyikan gong kecil, tukang kasur kapuk yang tugasnya mengisi kapuk-kapuk di dalam kasur, tukang loak yang membawa botol dan panci bekas di gerobaknya, dan tukang abu gosok.

Zaman memang sudah berubah. Iseng saya googling kata kunci “sol sepatu.” Ternyata ada pula yang menawarkan jasa sol sepatu secara online. Nah, apakah tukang-tukang lain yang sekarang sudah harus berada di “tepian zaman” seperti sol sepatu juga akan beralih ke dunia maya?




Sabtu malam, 26 April 2014.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY