Gegap gempita Reuni Akbar Sastra Universitas Padjadjaran sudah berlalu 2 minggu lalu. Banyak sekali kiriman di grup reuni soal foto-foto segala aktivitas di sana. Spot di Blue Stage, yang merupakan area utama, menjadi spot yang paling banyak diabadikan. Museum alumni menjadi sebuah area yang juga menyedot perhatian. Namun, ada satu spot yang minim dokumentasi. Tapi, menurut saya, spot ini adalah sebuah area yang menjadi wajah produktiftasnya para alumni berkarya. Wajah monumental mereka, setelah mereka pergi dari kampus.
*

Jujur saja, saya termasuk orang yang awalnya tak peduli dengan reuni akbar. Berbagai kiriman di grup reuni sering saya abaikan. Hingga awal Desember 2015, semua mengubah pandangan saya soal reuni.
Di salah satu kiriman, saya berkomentar sinis. Tapi, kakak angkatan di Jurusan Sejarah, Jaka Perbawa, menanggapi komentar saya. “Fan, di reuni menyediakan pameran karya. Fandy kan produktif, bisa memamerkan karya Fandy di sana,” kurang lebih seperti itu balasan komentar dari saya.
Dari sini, saya menghubungi kordinator spot Lihat, Dengar, Baca (LDB)—yang namanya saya pikir agak sulit diingat dan tidak praktis. Di sebuah mal di bilangan Bekasi, saya bertemu dengan kordinator spot LDB. Saya paksakan bertemu, meski tubuh belum sepenuhnya pulih dari sakit tipus.
Ternyata, dia juga kakak angkatan saya di jurusan yang sama. Dia menceritakan perihal spot LDB itu. Setelah saya menyerahkan 4 eksemplar buku saya (dengan judul berbeda), saya tertarik untuk membantu. Saya tak pernah menyatakan menjadi Relawan Biru. Tapi, niat awal saya hanya untuk membantunya.
Alasan saya membantu, selain saya sangat menghargai karya alumni, karena dia sakit. Ya, dia mengaku memiliki sakit berat: lupus. Hal itu terlihat dari fisiknya yang ringkih. Dia adalah anak dari sastrawan terkemuka di negeri ini. Tapi, bagi saya tak penting. Tak penting ayah dia siapa, yang penting adalah diri dia siapa.
Akhir Desember 2015, saya mulai membantunya dengan melakukan list alumni-alumni yang memiliki karya berupa buku, film, cd musik, dan lainnya. Dari list yang disodorkan kakak angkatan saya itu, ternyata beberapa tak pernah memiliki karya.
Lantas, tak ada kabar darinya beberapa hari. Tak ada komunikasi apapun. Dan, saya melihat geraknya mulai melambat, padahal waktu sudah mendekati acara. Saya tak berkordinasi lagi dengannya. Saya jalan sendiri, mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan.

Januari 2016, saya mengambil keputusan yang berat. Saya memutuskan untuk berhenti sebagai redaktur—walau nyatanya menjadi reporter dan penulis konten juga—dari sebuah media online (online dan majalah digital) di Jakarta Pusat. Di awal tahun itu saya mulai fokus untuk bekerja mengumpulkan karya dan menata konsep spot.
Rapat pertama dengan Kasih, Kang Caax, Anna, Kang Jaka, Edo, Sandrie, baru saya lakukan akhir Desember 2015. Persis sehari ketika saya mengundurkan diri dari perusahaan. Kang Caax lalu menanyakan soal konsep yang nantinya akan diwujudkan di spot LDB. Saya yang baru saja bergabung tentu belum fasih sekali menggambarkan konsep itu.
Bang Uthie (Ardhi Lutfi Siregar) baru bertemu saya di sebuah pemancingan di Bandung, minggu awal Januari 2016. Saya juga bertemu beberapa alumni yang ikut dalam gerbong Relawan Biru di sini. Salah seorang Relawan Biru yang saya temui dan banyak berdiskusi, hingga akhirnya turun membantu setting pameran, adalah Kang Rahadyan. Saya banyak bercerita tentang ide saya. Dia mengemukakan pula ide dia.

Shinta baru datang dua minggu sebelum hari H. Bergabungnya Shinta, yang saya pikir terlambat, cukup mendongkrak semangat saya. Dia banyak sekali membantu perihal eksekusi ide. Anna, juga salah seorang kawan yang banyak berjasa menyediakan segala keperluan soal LDB. Anna pula yang mengulurkan tangannya, membantu saya saat kebingungan tak bisa pulang di Stasiun Bandung. Saat saya kebingungan mencari tempat bermalam setelah menjemput karya-karya dosen di kampus, dosen saya, Mas Anto membantu menanggung biaya penginapan di sebuah hotel melati di Jatinangor.
*
Saya bukan orang yang senang menunggu dan malas. Saya keras dalam bekerja dan mau mengerjakan segalanya dengan cepat. Perburuan saya dimulai dengan melakukan tag (mention) di grup reuni. Sebagian besar yang saya tag merespons. Beberapa alumni yang produktif memang saya kenal baik, dan bisa saya pinjam karyanya. Beberapa memberikan nomor kontak. Saya berkomunikasi dengan banyak alumni di Jakarta, Palu, Bandung, Jatinangor, Bekasi, Yogyakarta, Bogor, dan Paris.
Pembuat film yang cukup produktif, saya temui di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lalu, awal Januari 2016, saya menemui alumni lain yang juga produktif membuat film di Bogor, Jawa Barat. Alumni di Bogor itu bernama Kang Yufik. Film dokumenternya ada yang pernah menyabet penghargaan di Jepang. Sedangkan pembuat film yang saya temui di TIM bernama Jane. Film fiksi pendeknya pun ada yang pernah diputar di festival luar negeri.
Lalu, saya menemui pembuat film lainnya, Kang Godi, di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta. Ternyata dia adalah penanggung jawab film Greenpeace Asia-Pasifik. Beberapa alumni yang saya hubungi lewat Facebook, WhatsApp, dan pesan pendek banyak pula yang tak merespons. Ada yang merespons, tapi karyanya sudah tak ada lagi.
Kiriman-kiriman buku dan beberapa alumni juga sudah saya terima. Kiriman ini saya pecah menjadi dua alamat tujuan. Pertama, ke rumah saya. Kedua, ke alamat rumah kontrakan Relawan Biru lain yang baru bergabung, Galuh, di Bandung.
Saya ke Depok dan Cibinong untuk bertemu pula dengan fotografer. Pertama, Arief Erlangga, di Depok. Dia salah seorang alumni yang sukses membangun sebuah bisnis foto studio pernikahan. Sudah memiliki rumah, mobil, motor, beberapa karyawan. Salut. Kedua, bertemu Kang Tatan. Pewarta foto senior yang satu ini banyak berkisah soal pengalamannya saat bertugas di daerah-daerah konflik. Meski akhirnya, saya sangat menyayangkan Kang Tatan tak ikut berpartisipasi.
Kemudian, saya juga melakukan “pengepulan” karya ke Bandung, Jatinangor, dan Serang. Yang tentu tak bisa dilupakan dan menjadi kegembiraan tersendiri adalah bertemu Kang Gol A Gong di Rumah Dunia, Serang. Kang Gol A Gong yang pernah berkuliah di Sastra Indonesia ini merupakan salah seorang penulis yang banyak memberi saya inspirasi.

Sekretariat Sokola Rimba di Bekasi juga saya kunjungi. Di sini, saya menemui Teh Hani untuk meminjam karya-karya milik Kak Butet Manurung, alumni Sastra Indonesia, berupa foto berfigura, CD film, dan buku-buku.
Ini yang membuat saya menjadi bersemangat. Bertemu alumni-alumni hebat yang menghasilkan karya-karya berkualitas.
*

Jelang reuni, berhasil terkumpul 100 buku lebih, tiga cd musik, dan 15 film/video. Hasil yang cukup banyak untuk menghadirkan sebuah monumen karya para alumni di acara reuni.
Pada 4 Februari 2016, Lewo dan Kang Rahadyan sudah menunggu saya di kampus. Sore, pukul 16.30 saya sampai di sana. Ada yang saya tinggalkan di Depok. Ya, janji saya untuk menemani kekasih di gladyresik wisudanya. Kami bertemu persis di Gekan, Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ). Celakanya, Lewo menunggu saya datang dan belum menyiapkan beberapa kebutuhan.
Saya, Lewo, dan Kang Rahadyan gerak cepat. Saya memaparkan segala konsep. Begitu pula Kang Rahadyan—yang sebelumnya kami sering berdiskusi ngalor-ngidul soal konsep setting dan kebutuhan. Sore itu, saya langsung bekerja mendekorasi tempat untuk berpameran.


Ruang pameran buku ada di Ruang Asisten 1 PSBJ. Ruang film saya letakkan di Ruang Asisten 2 PSBJ. Sedangkan area baca puisi ada di Genkan, PSBJ. Foto, ada di setengah area Genkan.
Dibantu beberapa mahasiswa yang militan setengah mati, saya bekerja mendekorasi ruangan. Tubuh saya tak bisa lagi toleransi. Terlalu letih. Pada 5 Februari 2016, pukul 03.00, saya pamit kepada Kang Jaka dan Kang Rahadyan yang masih bekerja di bangsal PSBJ, mengerjakan segala keperluan untuk museum hidup. Saya berjalan gontai ke Student Center, tepatnya ke Himpunan Mahasiswa Sejarah.

Di sana, ada dua adik angkatan saya. Mahasiswa Sejarah angkatan 2014. Dengan ramah, mereka mempersilakan saya masuk, dan menyediakan saya kasur untuk merebahkan tubuh. Saya bercerita kepada mereka tentang masa-masa saya kuliah di Jurusan Sejarah dahulu. Soal dosen, kebiasaan kami, ospek, dan lain-lain.
*
Ruang Asisten 1, tempat pameran buku, cd musik, dan lukisan, pagi tanggal 5 Februari 2016 masih berantakan. Saya bangun pukul 06.30, mandi, dan melihat kondisi di situ.
Sore hari, panitia mulai berdatangan. Shinta, Galuh, Kang Caax, Kang Rahadyan, dan beberapa mahasiswa yang siap membantu mendekorasi ruangan hingga titik darah penghabisan sudah siap sedia di tempat ketika malam mulai datang.Pukul 22.00, Kang Mukti-Mukti berkunjung ke Ruang Asisten 1. Dia meminjamkan gitar-gitar uniknya dan 30 CD musik untuk dipamerkan.
Hingga larut malam, kami terus bekerja untuk mewujudkan dekorasi yang selama ini hanya sebatas ide. Dekorasi tersebut saya kombinasikan dengan ide dari Kang Rahadyan. Pukul 00.00, Kang Rahadyan membawa banyak figura bekas. Ini merupakan “ide gila” yang akan dia wujudkan di LDB.
Tiga mahasiswa, Alif dari Sastra Jerman angkatan 2015, Vini dari Sastra Prancis angkatan 2015, dan Raja dari Sastra Arab angkatan 2015, membantu kami. Malam makin larut. Satu persatu mereka pergi. Tersisa saya, Kang Caax, Kang Rahadyan, Alif, dan Raja di sini.

Museum, yang menghabiskan kerja di Aula PSBJ pun belum rampung dengan pekerjaan mereka. Kami seperti membangun candi dalam satu malam. Kejar mengejar pekerjaan, hehe.
Jantung saya makin berdegup ketika waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, sedangkan beberapa karya (foto dan puisi) belum terpajang. Saya berpikir cepat bagaimana menyajikan karya-karya itu, dan dengan media apa.
Matahari mulai bangkit dari tidurnya. Lewo sudah sibuk menyiapkan area agar steril dari kendaraan. Untunglah, pukul 06.15 seluruh area di LDB selesai. Pagi, lukisan karya seorang alumni Sastra Jepang baru saja diantar. Lalu, jejeran buku, lukisan, karya Mukti-Mukti, alunan musik, suara dari film, tempelan puisi-puisi dan foto, akhirnya siap.
Selama menjadi mahasiswa dahulu, saya sering kali aktif di organisasi. Saya pernah menjadi anggota unit kegiatan mahasiswa Lembaga Pengkajian Masyarakat Demokratis, menjadi Ketua Rayon Sastra dan kordinator media Sastra Front Mahasiswa Nasional, menjadi kordinator Perpustakaan Desa saat Kuliah Kerja Nyata, dan ikut serta dalam pembentukan senat (BEM dan BPM Gama) fakultas yang sudah lama mati suri pada 2004. Namun, kali ini saya baru merasakan kerja yang begitu gila.
*






Tapi, mungkin kami lupa menyediakan sebuah petunjuk. Area LDB yang terekspos langsung hanya area pembacaan puisi, yang memang terlihat jelas saat para alumni masuk lewat depan PSBJ. Sedangkan ruang buku dan film, terlihat agak sepi. Bang Anton, salah seorang alumni Sejarah yang membuat perpustakaan Batu Api berkunjung ke ruang buku. Menurut dia, ruang ini kurang strategis hingga jarang sekali dikunjungi para alumni. Buktinya, foto-fotonya memang langka.
Meski begitu, saya bangga bisa menyajikan karya-karya alumni di acara reuni ini. Walau, banyak pula karya alumni yang tak terjaring. Maaf, hal ini karena keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya dari kami.
Akhirnya, saya harus mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah banyak membantu saat bekerja mengumpulkan karya dan mengeksekusi tempat.
Terima kasih. Go, Fight, Win, Sastra!







Luar biasa perjuangannya Fandy dan teman-teman. Andai waktu bisa diputar ulang, saya ingin sekali mampir ke area LDB. Sayang waktu itu saya nggak tahu LDB ada di ruangan yang mana.
Terima kasih sudah berbagi 🙂
Kalo diceritain semua mah ngeri teh hahaha
Selepas membaca catatan tersebut, ana amat2 bersetuju. Buat kerja mesti ikhlas. Tapi ada sesetengah orang @ majikan yg ambik kesempatan di atas keikhlasan pekerjanya.